Bab 2

65.2K 5.7K 770
                                        

Lelaki itu menghela napas panjang ketika rekan bisnisnya masuk ke ruangannya begitu saja dan duduk di hadapan mejanya dengan kaki yang dilipat menindih kakinya lain

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Lelaki itu menghela napas panjang ketika rekan bisnisnya masuk ke ruangannya begitu saja dan duduk di hadapan mejanya dengan kaki yang dilipat menindih kakinya lain.

"Selamat siang partner bisnis saya yang tampan luar biasa, tapi lebih tampan saya tentu saja."

Rekan bisnisnya itu mulai bicara hal yang tidak ada pentingnya.

"Untuk apa kau kemari?" tanya Ali datar.

"Eits, kita belum lama bekerja sama. Saya ke sini hanya untuk berangkat dengan Anda ke lokasi pembangunan proyek kita."

Lelaki itu pun mengernyitkan dahinya, "Sekarang?"

"Tahun jebot!"

Ali langsung hadiahi tatapan tajam menusuk untuk rekan bisnis barunya itu.

"Tentu saja sekarang. Begini lah kejamnya bisnis properti, kita harus terjun ke lapangan mengecek pembangunan yang sedang berjalan meski itu harus panas-panasan, hadeuh untung saya sudah pakai sunblock tujuh kali!"

Tanpa menjawab ucapannya, Ali berdiri menarik jasnya yang tersampir di kursi dan pergi lebih dulu. Rekan bisnisnya itu sempat berteriak tidak terima hingga mengejar langkahnya.

"Hei, sebenarnya saya ingin bicara sesuatu dengan Anda."

Ali tidak mengacuhkannya ketika mereka memasuki lift bersama. Lagi pula mereka baru kenal satu minggu yang lalu, rekan bisnisnya itu bicara seolah mereka adalah sahabat baik. Kalau bukan karena proyek besar, Ali tidak akan pernah mau bekerja sama dengan orang bawel, dan menyebalkan seperti dia.

"Apa Anda percaya pada sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya?"

Pertanyaan macam apa itu? Rupanya lelaki di sebelahnya mulai ingin membicarakan hal tidak penting lagi. Pikir Ali.

"Maksud saya, apa Anda percaya pada kehidupan sebelumnya?"

"Aku tidak mengerti maksudmu," ujar Ali tetap pada nada yang datar.

"Wah! Ternyata rumor yang mengatakan Anda jenius salah! Anda bodoh menurut saya."

Wajah Ali berubah sekeras batu menahan emosinya. Tak lama pintu lift berdenting lalu terbuka. Mereka keluar bersama hingga mencapai lobi.

"Saya selalu memimpikan hal aneh."

Ali mengernyit mendengar pengakuan itu ketika mereka menaiki mobil bersama dan mobil itu bergerak membawa mereka menuju lokasi pembangunan proyek mereka.

"Mimpi yang berulang tiap kali saya tidur."

Dan Ali mulai tertarik mendengarkan dengan baik.

"Di dalam mimpi saya itu, saya bertemu seorang wanita cantik, kami berdua membicarakan banyak hal tapi yang hanya saya tangkap adalah... Juned. Wanita itu suka sekali tiap saya bicara tentang Juned."

Marry With Boss 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang