Kepingan Masa Lalu

105 17 0
                                    

Sorry for posting late 😔😔 Dont forget to vote ❤

"Kenapa aku harus menjadi yang kesekian dulu baru kau sadar seberapa pentingnya kehadiranku? Kenapa?"
(Chareisa Putri Azka)
*

"Caca, kita lagi ngobrol. Lupain Elenna."

"Reisa, kita lagi ngobrol. Lupain Tara."

Percapakan ini. Aga terang-terangan menatapku. Dia ingat?

"Apa kita pernah bertemu tiga tahun yang lalu?"

*
Jantungku mencelos. Aku membiarkan mata coklat Aga meneliti kebohongan dalam wajahku. Kebohongan identitas dan perasaan yang selama ini kupasang setiap berhadapan dengannya. Sedetik kemudian Aga mengerjap. Itu sudah cukup membuatku takut akan segalanya.

"Ini?" gumam Aga pelan lantas mengarahkan telunjuknya ke dahiku. Aku menahan nafas saat telunjuknya benar-benar berada di antara kedua alisku. Kode untuk 'apa yang kamu sembunyikan sekarang.' Sebelum aku sempat mengatakan sesuatu yang membuat keadaan kami menggila, seseorang telah menarik lengan Aga dengan kasar. Kami terpengarah. Mampus Caca. Ini namanya kegap.

"Aga lo mojok di sini?" gadis itu melirikku sekilas dengan wajah cueknya namun menatap nyalang ke arah Aga. Dia gadis yang datang bersama Leon.

"Viola? Sejak kapan lo di sini?" tanya Aga tenang. Untuk seseorang yang baru saja menyentuh dahi gadis lain dan berduaan di kebun belakang, sikap Aga sekarang benar-benar minta dihajar. Dia sama sekali tidak merasa bersalah. Sejak kapan Agaku jadi jahat seperti ini?

"Harusnya gue yang tanya begitu ke elo. Sejak kapan lo hobi mojok dan pegang-pegang jidat cewe lain?" Viola tidak menatapku. Aku tersadar kalau dia sahabat Elenna. Bagus sekali Caca. Kegap selingkuh sama sahabat.

"Sejak tadi. Ngapain lo nyari gue?" Aga tersenyum saat kami bersitatap, lantas mengernyitkan dahinya saat beradu pandang dengan Viola. Rasanya aku ingin pergi dari sini sekarang. Muka mana muka. Berasa jadi orang ketiga beneran ini.

"Elenna," kata Viola datar. "Dia ada disini."

"Disini?" tanya Aga bingung. Padahal baru beberapa menit yang lalu Aga tidak mengangkat telepon Elenna dan sekarang si sempurna itu udah ada disini? Aku merasa geli.

"Mending sekarang lo temuin cewe lo deh Ga, daripada mojok nggak jelas disini." Ucapan Viola sukses menamparku terang-terangan. Gadis itu beranjak pergi setelah menatapku tajam yang membuat wajahku memanas.

"Dia Viola, sahabatnya Elenna." Aga menjelaskan.

"Dan dia salah paham sama kita," gumamku kemudian. Aga tertawa, lantas mengacak rambutku yang membuatku sukses mati kutu. Ini Aga beneran menyentuhku? Secara sadar?

"Salah paham gimana? Kita kan cuma ngobrol. Kalo kayak gini baru deh dia boleh salah paham."

Aga tiba-tiba saja telah menundukkan wajahnya hingga hidung kami sejajar, membuatku menahan nafas tanpa sadar. Dia mengunci tatapanku. Dia bahkan dengan kurangajarnya tak membiarkanku mengedipkan mataku, sensasi yang mengusik bagian belakang punggungku. Aku seperti tersihir oleh kedekatan kami. Bahkan aku nggak pernah berfikiran seliar ini, menatap wajah Aga dalam radius satu jengkal. Satu jengkal! Itu terlalu dekat Caca!

"Lo merah?" Aga tertawa setelah aku sadar dari kedekatan haram kami. Dia mengacak rambutku lagi.

"Lo masih hutang penjesalan tentang tiga tahun yang lalu," gumamnya lembut.

Aku terdiam. Dia ingat? Dia udah ingat? Dia ingat aku? Aga ingat aku yang dulu? Aku mencoba mencari kebenaran dalam mata coklat Aga dan yang kudapatkan hanya senyum jenakanya. Sebelum beranjak pergi menemui Elenna, Aga sempat menggeleng samar dengan wajah sendu. Ayolah, si Aga gantengku itu nggak beneran ingat aku kan?

DEAR LIARTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang