Break The Wall

30 5 1
                                    

Jangan lupa tekan bintang ya ❤❤
Makasih udah mau baca cerita ini.
Ada yang nungguin? 😋😋

*
"Kamu pernah bilang kalau rasa sakit yang nampak di tubuh tak sebanding dengan rasa sakit yang tersembunyi di hati. Sekarang aku percaya kata-kata itu."
(Chareisa Putri Azka)

*

Fhersnand memapah tubuh lemas Aga menuju kamar tamu yang letaknya persis di samping Mushola, bersebelahan dengan ruang makan. Aku berlari cepat memgambil kotak P3K lengkap dengan sebaskom air hangat dan handuk kecil milikku yang biasa kupakai saat olahraga pagi. Tanganku bergetar. Darah Aga masih menempel jelas di sana namun aku tak sempat membersihkannya. Terlalu kalut untuk memikirkan diriku sendiri. Isakanku mengisi ruangan sunyi ini. Akan kuperjelas. Sekali kamu membuatku menangis, butuh waktu lama untukmu menyudahi tangisanku.

"Tenang sayang. Dia baik-baik aja kok," kata Fhersnand lembut sambil meremas bahuku saat aku berjalan panik menghampirinya. Aku tambah terisak melihat wajah penuh luka Aga. Sudah jelas kalau Aga berkelahi dengan seseorang. Fakta mengejutkan yang bahkan aku tak tau sejak kapan dia hobi baku hantam.

"Gue ambilin minum dulu ya. Jangan nangis. Ingusnya keluar semua itu." Fhersnand menggodaku. Aku mencebik dengan muka menahan tangis. Kuambil handuk yang telah kucelupkan ke air hangat, lalu ku bersihkan sisa darah di wajah Aga. Sesekali Aga merintih saat lukanya kusentuh. Aku tambah terisak. Sejauh ini aku hanya membayangkan hal yang indah-indah saja dengannya, bukan sesuatu yang berdarah-darah seperti ini.

"Aga jangan berantem lagi ya. Aku nggak suka. Aku bener-bener nggak suka liat kamu kayak gini. Jangan berantem, kumohon," bisikku pelan seraya mengoleskan salep pada memar-memar di wajahnya. Tangisku semakin menjadi saat tangan mungilku mengobati bibir Aga yang koyakannya membuat tubuhku ngilu. Siapapun itu pasti sangat marah hingga membuat Aga sebabak-belur ini. Aku mengusap ingusku sambil terisak.

"Aga kenapa bisa begini sih? Sejak kapan kamu hobi berantem? Aga tolong, jangan terluka lagi. Aga aku nggak mau kamu terluka. Aga kenapa kamu jahat sama diri kamu sendiri sih? Aga aku takut. Aga aku takut banget sekarang. Aga sungguh, aku takut."

Aku menggenggam tangan Aga. Lantas kutelungkupkan wajahku di samping tubuhnya. Isakanku semakin tak tertahankan, isyarat untukku menangis sejadi-jadinya. Fhersnand mengetuk pintu ruangan ini yang kubiarkan terbuka, kemudian mengelus rambutku penuh sayang.

"Besok kita tanya Aga tentang ini ya sayang. Jangan nangis gitu dong. Caca mau nemenin Aga?" tanya Fhersnand lembut. Dalam keadaan seperti ini sikapnya jelas sekali menunjukkan kalau dia adalah kakakku.

Aku mendongak, menampilkan wajahku yang sembab. "Caca boleh nemenin Aga?" tanyaku lirih.

Fhersnand mengangguk. "Boleh sayang. Kakak ambilin selimut sama bantal dulu. Kita tidur bertiga. Caca tidur di sofa ya, Kakak aja yang tidur di sebelah Aga. Jangan cemberut gitu dong nggak bisa tidur berdua." Fhersnand masih saja menggodaku.

Aku tertawa. "Apaan sih lo nggak lucu tau Kak!" seruku kesal. Aku merapikan rambut Aga setelah kembaranku meninggalkan kami. Tiba-tiba saja Aga bergumam dalam tidurnya. Kedua alisnya saling bertautan saat Aga megernyitkan dahinya dengan mata masih terpejam.

DEAR LIARTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang