Jangan lupa tekan bintang ya 🙏
Terima kasih udah mau baca cerita ini ❤ Ada yang nungguin? 😋*
"Tidak adakah sedikit memori tentangku dalam lautan ingatanmu itu? Sekosong itu namaku di hidupmu?"
(Chareisa Putri Azka)
*"Akhirnya lo datang juga. Lo tau udah berapa lama gue nungguin lo di sini tiap sore?" Aga menjelaskan. Aku menggeleng, mengabaikan sudut mataku yang mulai memanas.
"Sejak tangan lo terluka. Selama itu Ca. Gue nggak tau kenapa gue ngelakuin ini. Gue cuma apa ya Ca? Gue cuma ngerasa kalau yang gue lakuin ini bener. Tentang lo. Gue gila ya?" tanya Aga sambil terkekeh geli. Nyatanya bukan cuma aku saja yang menggila dengan perasaan ini. Aga juga?
"Jadi tiap sore kamu kesini?" tanyaku lirih.
"Jadi tiap sore kamu kesini?"
Kami bersitatap. Sekilas Aga mengerjap. "Eh maksud gue lo tiap hari kesini? Nungguin gue?" tanyaku lagi, mengoreksi ucapanku.
"Lo suka historical novel?" tanya Aga tiba-tiba tanpa menjawab pertanyaanku sebelumnya. Dia menarik tanganku menuju kumpulan novel yang terletak di sudut ruangan. Tangannya besar. Seberapa sering dia menggenggam tangan Elenna?
"Lo suka ini?" Aga mengambil dua buah novel berjudul Nevertari dan Nevertiti, meneliti reaksiku. Ini? Dia ingat? Dia tau?
"Iya suka," jelasku lirih. Wajah Aga mengeras. Sedetik kemudian tangannya mengacak rambutku lembut, sentuhan yang selalu mendebarkan jantungku.
"Oke kita beli. Jalan yuk sama gue," kata Aga kemudian sambil menenteng dua novel kesukaanku dan menggenggam tanganku dengan tangannya yang bebas. Seharusnya aku menolak semua sentuhan Aga bukan? Dia milik Elenna. Tapi kenapa rasanya sulit sekali mengenyahkan tiap jengkal tubuhnya dari kulitku. Apa aku jahat?
"Weekend jalan-jalan sama gue mau nggak Ca? Muter-muter aja. Sekalian nostalgia. Mau ya?" Aga menatapku penuh harap setelah dia membayar novel-novel untukku. Tangannya masih saja berada dalam genggamanku, mengabaikan seruan-seruan romantis dari beberapa pengunjung yang juga memakai seragam SMA seperti kami.
Aku terdiam sejenak. Ini si Aga ngajakin aku kencan? Dengan status Elenna sebagai cewenya? Aku pelarian? Pelampiasan? Selingan? Atau apa? Aku bahkan bingung mencari kosa kata yang tepat untuk mendeksripsikan posisiku dimatanya sekarang.
"Elenna gimana? Dia nggak marah lo jalan sama gue?" tanyaku lirih. Bukannya terkejut atau apa, Aga mala tertawa.
"Elenna nggak pernah cemburu sama cewe-cewe yang deketin gue Ca." Aga menjelaskan dengan kekehan gelinya.
Gue nggak ngedeketin lo, Ga. Lo yang deketin gue. Apa dia juga nggak akan cemburu? Batinku kesal. Menyebalkan. Sepertinya si Elenna itu memang nggak akan pernah punya saingan.
"Gimana lo tau kalau dia nggak cemburu? Wanita susah dipahami ya."
Aga tersenyum. "Kenapa juga dia harus cemburu kalau gue sukanya sama dia doang?"

KAMU SEDANG MEMBACA
DEAR LIAR
Teen Fiction"Gue cinta elo, Ca. Sumpah kangen banget gue sama lo." Aga merengkuhku. Tunggu dulu. Dia bilang apa?! Sebelum aku menghajar cowo kurang ajar di depanku, si Agatha sialan ini telah merusak wajah suciku dengan ciuman kilat naudzubilahnya. Aku harus pi...