Spoiler Warning: Typo bertebaran. Maaf kalau semakin membosankan.
0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0
Mingyu masih berdiri di tempat. Memerhatikan Wonwoo yang berjalan ke arahnya. Wonwoo tidak lagi mengenakan topi. Membuatnya lebih leluasa memandangi wajah tanpa cela itu.
Wonwoo memperhatikan wajah Mingyu dengan begitu intens. Memiringkan sedikit kepalanya dan memegang dagu. Dahinya berkerut seolah memikirkan sesuatu.
"Ada sesuatu yang aneh?" tanya Mingyu penasaran.
Bukannya menjawab, Wonwoo justru sedikit menjinjit. Entah apa yang remaja lima belas tahun itu pikirkan.
"Kau lebih tinggi." Wonwoo berucap sembari menggerak-gerakkan tangannya di atas kepala Mingyu. Beberapa detik kemudian, Mingyu tergelak. Tidak menyangka sedari tadi Wonwoo memperhatikan perbedaan tinggi mereka.
"Jadi itu yang kau pikirkan sedari tadi?" tanya Mingyu di sela gelak tawanya. Wonwoo tidak menjawab. Hanya menunjukkan wajah kesalnya.
"Tentu saja aku semakin tinggi. Aku masih dalam masa pertumbuhan."
"Aku ingatkan kalau usia kita sama. Itu artinya aku juga masih dalam masa pertumbuhan," protes Wonwoo.
"Kau terlalu banyak muram jadi pertumbuhanmu terhambat," canda Mingyu.
"Lagi pula ini sudah setahun berlalu," lanjut remaja berwajah tampan itu.
"Sudah setahun lebih." Wonwoo mengoreksi yang langsung diangguki Mingyu.
"Dulu, perbedaan tinggi kita tidak seperti ini. Bahkan aku yakin hampir sama." Mingyu mengangguk setuju. Ia membenarkan apa yang Wonwoo ucapkan. Dan sepertinya perbedaan tinggi mereka saat ini lebih dari tiga centi.
"Lupakan saja soal tinggi badan. Jadi, apa kau bekerja di tempat ini?" tanya Mingyu sembari memperhatikan tempat sekitar. Tomat dan berbagai macam sayuran sepertinya siap untuk dijual ke pasar.
"Tidak juga. Aku hanya membantu pemilik kebun ini saat panen. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku dengan melakukan banyak hal. Apa saja, yang penting aku menyukainya."
Mingyu tidak langsung menanggapi. Terdiam sejenak memandangi Wonwoo di depannya. Meskipun sedari tadi mereka sudah berinteraksi, ia seolah masih belum bisa yakin makhluk di depannya adalah nyata.
"Kau melamun?" Wonwoo melambaikan tangannya di depan wajah remaja yang lebih tinggi.
"Aku tidak menyangka benar-benar bisa melihatmu lagi." Dan jawaban itu justru membuat Wonwoo mendesah.
"Kau pikir aku makhluk halus?" tanya Wonwoo kesal. Membuat Mingyu tersenyum lebar dan menggeleng.
"Bukan itu maksudku. Aku cukup kesulitan mencari keberadaanmu selama ini. Aku sampai meminta bantuan banyak orang. Dan akhirnya, pencarianku selama hampir setahun membuahkan hasil."
Wonwoo hanya mengangguk. Berbalik badan dan melangkah. Diikuti Mingyu di belakangnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Bahkan Mingyu tidak bertanya arah tujuan Wonwoo.
Remaja yang lebih pendek memimpin jalan. Menyusuri rerumputan yang tingginya melebihi mata kaki mereka. Rumah yang dikelilingi berbagai macam sayuran tadi sudah tidak terlihat. Digantikan hamparan rumput dan sungai terbentang di depannya.
"Ada tempat seperti ini di tepi sungai?" Mingyu menanyakan sebuah tempat berteduh yang terbuat dari kayu. Meski tampak tua, namun masih begitu kuat.
"Terkadang aku di sini saat menemani pemilik kebun memancing. Tidak jarang aku memancing sendiri saat tidak ada yang menemani." Wonwoo duduk di kursi memanjang itu. Mingyu duduk di depannya sambil mengedarkan pandangannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Light In The Dark
Fiksi Penggemar[DISCONTINUE] Wonwoo seolah melihat cahaya memasuki kehidupannya sejak bertemu dengannya. Namun masih adakah tempat untuknya yang selalu disebut monster dan pembunuh?