Bila aku matahari..
Aku ingin menerangimu..
Menyinari hatimu
Di hujan sekalipun
Aku ingin bersinar untuk mu..
POV Arhan
Okta tidak lekas menjawab panggilanku. Aku takut dia kenapa kenapa. Semoga dia baik baik saja. Aku memberikan diri membuka pintu kamarnya. Tidak dikunci. Ini sebuah keutungan, aku tidak perlu mendobrak pintu dan dihajar oleh Hexsa atau pun arwah arwah penjaga rumah ini.
Aku buka pintu kamarnya. Terlihat Okta duduk meringkuk di bawah jendela kamarnya. Lampu kamarnya tidak ia nyalakan. Gelap. Lembap karna hujan semakin deras. Aku yakin dia sedang menangis. Dia masih mengenakan seragam yang basah.
"Aku masuk ya," aku berbicara pada nya. Tidak dijawab. Itu pasti dia masih tenggelam dalam dukanya , dalam tangisnya , rasa bersalahnya tak bisa menyelamatkan Rara.
"Aku bawa susu hangat," aku duduk di sampingnya. Dia masih diam saja. Aku menempelkan gelas susu itu ditangannya.
"Aw" Okta melirik ku tajam. Ah pasti dia marah.
"Apa yang kamu lakukan ?" Tanyanya sedikit membentak. Ada kelegaan pada diriku. Dia jadi memperhatikan sekitar. Sedikit keluar dari zona sedihnya.
"Minumlah." Aku menyodorkan gelas itu. Dia melirik gelas yang ku berikan itu.
"Susu hangat ," Okta pun menerimanya dan meminumnya.
"Aku yakin Rara sudah lebih tenang sekarang," aku mencoba memberi semangat padanya. Okta melirik padaku , meminta penjelasan atas apa yang aku katakan.
"Dia tidak lagi menanggu orang , tidak lagi memikirkan kesedihannya , juga Rara pasti bersyukur pernah berteman dengan mu. Kau tau ? Dia pergi bukan berarti menghilang selamanya. Dia akan tetap di hatimu , hidup dihatimu , dengan semua kenangan yang telah kalian buat."
"Apa yang harus aku lakukan ?" Dia mulai menangis lagi. Aku memang tangannya. Berharap bisa menjadi kekuatan untuknya.
"Berdamailah dengan dirimu , kamu harus menerima. "
"Nggak semudah itu,"
"Kamu pasti bisa," aku tersenyum padanya. Ku usap rambutnya yang masih basah. Dia diam lagi. Semoga saja dia memfikirka kata kataku. Dan tidak sedih lagi. Walau aku tau hanya dirinya dan waktu yang bisa menghilangkan kesedihannya.
"Gantilah baju mu , nanti kamu bisa sakit. Bisa repot juga nanti kakakmu," aku berdiri. Tangan Okta memegang celana ku, menghalangiku untuk berdiri.
"Temani aku sebentar ," kata nya yang masih menangis.
"Baiklah," aku duduk kembali. Okta langsung menangis dengankencang , memegang tanganku dengan kencang. Entah kenapa aku langsung memeluknya. Aku berharap ini bisa membuatnya lebih tenang. Arwah mochi penjaga rumah serta tuan Toshiki datang mendengar tangisan keras Okta. Aku sadar mereka menatapku meminta penjelasan apa yang terjadi dengan tuannya itu. Aku berusaha menjelaskan lewat tatap mata kami. Semoga mereka paham maksudku.
Beberapa menit menangis , Okta akhirnya tersenyum tipis. Dia lebih lega , itu yang aku tau.
"Terimakasih," kata Okta. Aku mengusap kepalanya lagi.
"Jangan bilang kak Hexsa aku nangis, nanti aku gak boleh bertemab dengan arwah lagi,"
"Siap tuan putri," aku tersenyum padanya. Sebenarnya aku tidak tega membiarkannya terus menangis. Tapi ada saatnya kita membiarkan orang lain untuk menangis melepas bebannya.
"Kalau situasi sudah aman kita kirim lampion untuk Rara ya," Lampion yang aku maksud adalah lampion doa yang kita terbangkan agar arwah yang sudah pergi bisa mendengar doa atau pesan kita untuk merek a.
"Aku tau tempat yang bagus untuk menerbangkannya."
"Dimana ?" Okta mulai tertarik.
"RAHASIA," Aku tertawa. Aku liat muka kesal Okta.
"Nanti aku minta izin kakakmu." Okta mengangguk.
"Terimakasih banyak Han,"
"Dengan senang hati,"
"Maaf kamu jadi tidak bisa menjalankan tugasmu ,"
"Tidak perlu dipikirkan kakakmu telah mengurusnya, dia pembersih yang hebat bukan ?"
" Dia hebat ?" Okta tidak mempercayainya.
"Kau belum tau ?" Okta mengeleng polos. Bener bener tidak tau.
"Kau harus bertanya padanya. Ganti baju dulu sana . Aku tunggu diluar ya. Kalau sudah selesai panggil aku. Mau susu hangat lagi ?"
"Tidak terimakasih," kata Okta.
"Baikah aku keluar dulu," Aku berjalan keluar kamanya. Tuan Toshiki dan Arwah mochi itu menghadang ku di luar. Meminta penjelasku lebih detail apa yang ang terjadi pada Okta.
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Adipratama
FantasyArhan Agnibrata dan Oktavia A. sama-sama menjadi orang terpilih. Mereka dapat melihat. Melihat dunia yang berbeda. Namun mereka juga berbeda. Seperti namanya Arhan Agnibrata, Agnibrata yang berarti menghangatkan. Arhan terkenal baik ramah dan bersa...
