Bagai air , mereka harus terus menggalir..
Melewati waktu..POV Oktavia
Keesokan harinya, aku tidak berangkat sekolah. Kak Hexsa melarangku. Badanku juga masih lemas. Setengah hari hanya berbaring di kasur di temani Toshiki-San dan Gusgus arwah mochi ekor sembilan. Kami bercerita banyak hal juga mengoda Gusgus yang imut dan menggemaskan.
"Hime kau tau ? Tetangga sebelah siapa itu bu De.." kata Toshiki-San.
"Bu Dwi ?" Aku meperbaiki posisi duduk dan memperhatikan Toshiki-San. Toshiki-san mengangguk.
"Kenapa bu Dwi ? Ngosip lagi di depan rumah ? "
"Yups , tapi ada hal baru , kali ini yang ngusulin Bu Dwi Gusgus" aku mentap Toshiki-San dengan tidak percaya. Gusgus bukan arwah yang suka ngusulin orang.
"Kau pasti yang menyuruhnya kan ? " Aku langsung memeluk Gusgus dan menatap tajam Toshiki-San.
"Saya sedih , Hime tidak mempercayai saya," Toshiki-San mengatakannya dengan nada mendramatisir. Ekspresi nya membuatku tertawa.
"Gusgus dipaksa sama Toshiki." Kata Gusgus mengandu.
"Sialan kau gus! Minta dimakan ya!" Toshiki-san mulai kesal. Dan Gusgus bersembunyi di belakangku. Akhirnya kami terawa bersama.
Tak lama kemudian kak Hexsa bergabung dengan kami.
"Pacar mu nggak kesini ?" Tanya kak Hexsa.
"Pacar ? Toshiki-san punya pacar ?" Aku tidak paham dengan yang kak Hexsa katakan.
"Eh kok saya.. Saya tidak tertarik dengan arwah arwah disini Hime. Bukan level saya." Kekeh renyah Toshiki-San.
"Siapa juga arwah yang mau sama Samurai jelek seperti mu," ejek Gusgus.
"Aku sudah lama tidak makan mochi , sepertinya kamu tidak kalah enak dengan mochi yang dulu aku makan Gus," Toshiki-San mengejar Gusgus. Aku dan kak Hexsa tertawa melihat kelakuan mereka.
👻👻👻
POV Arhan
Beberapa hari kemudian.
Sesuai janjiku dengan Okta , aku mengajaknya pergi ke sebuah gunung yang tak jauh dari rumahnya."Kau membawa lampionnya kan?" Tanya Okta penuh semangat.
"Sudah aku siapkan,"
"Apakah tempatnya masih jauh ?"
"Kamu sudah lelah ?"
Okta mengelengkan kepalanya.
"Itu sudah terlihat danaunya," aku menunjuk danau yang sudah ada di depan mata. Aku melihat mata Okta berbinar.
Aku mengeluarkan lampion dari tasku dan memberikannya pada Okta.
"Mau dilepas sekarang ?"Kami pun menerbangkan lampion itu dari tepi danau.
"Terimakasih Ra!" Ucap Okta , setetes demi setetes air mata mulai keluar. Aku membiarkannya menangis. Semua orang perlu menangis agar beban mereka semakin ringan.
Aku merasa sebuah arwah besar menghampiri kami. Arwah naga. Dia sudah berteman denganku sejak lama."Tuan!" Ucap arwah itu.
Aku tersenyum pada naga itu. Okta pun takjub melihat arwah naga itu."Wow keren ? Bisa di naiki?"
Aku tersenyum dan mengangguk."Mau membawa kami terbang ?" Tanyaku padanya.
"Silahkan naik,"
Kami pun naik , dan di bawa tebang.
"Namanya siapa ?" Tanya Okta.
"Wind,"
"Salam kenan Wind"
"Salam kenal tuan putri,"
Wind membawa kami mengelilingi kota. Pemandangan yang kami lihat sangat menakjubkan. Ini bukan pertama kalinya aku ikut terbang bersama Wind. Pemandangan ini tidak membuatku merasa bosan u menikmatinya.
"Kamu suka ?" Aku menatap Okta yang masih menikmati pemandangan.
"Ini sangat indah,"
Kami mulai membelah awan terbang semakin tinggi. Senyum Okta terus mengembang. Aku tidak melihat lagi kesedihan di matanya."Lihat itu!" Aku menujuk ke arah barat, pemandangan dimana matahari mulai tenggelam , sangat indah.
"Wow"
"Baru kali ini melihat ?"
" Iya apa lagi dari ketinggian, sering sering lah mengajakku melihatnya,"
"Tentu saja."
Bersambung...
👻👻👻
Maaf saya lama update... Stuck merajai.. 😂😂
Dukung terus ya terimakasih sudah mau mampir membaca... 😂😂

KAMU SEDANG MEMBACA
Adipratama
FantasíaArhan Agnibrata dan Oktavia A. sama-sama menjadi orang terpilih. Mereka dapat melihat. Melihat dunia yang berbeda. Namun mereka juga berbeda. Seperti namanya Arhan Agnibrata, Agnibrata yang berarti menghangatkan. Arhan terkenal baik ramah dan bersa...