Malam yang tak berujung pagi..
Perlahan pergi...
Matahari mulai bersinar lagi..
Malam pun pergiPOV (Oktavia)
"Selamat pagi Hime-Sama," sapaan setia yang selaluku dengar setiap pagi. Sapaan dari salah satu arwah yang selalu menjadi temanku. 'Hime' berarti tuan putri , arwah itu selalu memanggilku begitu dia sangat menghormatiku. Arwah itu berasal dari negri sakura. Dulunya dia seorang samurai namun ia telah mati karena penghiatan saudara nya. Dia memiliki dendam pada saudara yang membunuhnya dan arwahnya masuk dalam pedang miliknya yang sekarang pedang itu ada di rumahku. Kata kakak laki lakiku arwah itu telah membalaskan dendamnya dibantu oleh ayahku. Sebagai balas Budi samurai itu mengabdi kepada ayah. Dan sekarang ayah memberi kepercayaan pada samurai itu menjagaku dan Kakaku, Hexsa.
"Selamat pagi Toshiki-San," setelah menjawab sapaannya dan berbicara sebentar, aku berjalan menuju meja makan untuk menyiapkan sarapan, sebentar lagi aku harus pergi ke sekolah.
"Umm.. ngantuk sekali. Tidur lagi yuk dek" sepasang tangan telah melingangar di tubuhku dari belakang. Aku tahu ini pasti Kak Hexsa.
"Dasar kakak , jangan bergadang lagi! Buruan mandi bau tau!" Aku melepaskan pelukannya . Dan menutup hidungnya. Memperlihatkan seakan aku terganggu olehnya. Bukan seakan aku memang terganggu. Bisa telat aku kalau Kak Hexsa kesiangan.
"Ah hidung kamu tu yang gak bener orang wangi ngini." Kak Hexsa meninggalkanku dan berjalan tidak peduli dengan perkataanku.
"Sialan lu Ak!" Aku mengumpat.
"Cepetan mandinya udah siang nih nanti kita telat."
"Iya iya dedek galak."
Dimeja makan aku mengambil sepotong roti tawar lalu ia beri susu coklat kental manis. Dia menyiapkan sarapan untuk kak Hexsa juga.
Tak lama kemudian kak Hexsa keluar dari kamarnya. Dia sudah rapi."Dek hari ini Toshiki-San nemenin kakak ya.." Kak Hexsa duduk di meja makan. Bila dia meminta Toshiki-San untuk menemaninya , hari ini Kak Hexsa akan berkerja. Kak Hexsa berkerja sampingan sebagai pengusir arwah. Dia bisa melihat seperti aku bahkan memiliki kekuatan supranatural yang besar. Sehingga dia bisa melakukan pembersihan atau pengusiran arwah. Dia melakukannya di selela sela kuliahnya.
"Oke deh. Tapi kakak tetep nganterin aku lho!"
"Iya iya..."
Aku menghabiskan sarapan. Lalu kak Hexsa mengantarku ke sekolah. Aku masih duduk di kelas 11 . Dan Kak Hexsa sudah kuliah semester 4.
"Nanti langsung pulang gak usah main main dulu ya. Toshiki-san gak sama kamu hari ini." Kata Kak Hexsa setibanya di sekolah.
"Iya kak. Aku sekolah dulu." Aku mencium tangan Kak Hexsa. Dan masuk kedalam halaman sekolah.
"Samurainya gak ikut ?" Aku tidak menjawab pertanyaan itu. Mungkin Arwah di sekolah ini yang biasanya ngobrol denganku. Karena ini masih banyak orang aku tak ingin menjawabnya. Kurasa dia akan mengerti.
"Halo!! Okta tidak sedang melamun kan ?" Kali ini kepala laki laki terlihat didepan mataku cukup dekat. Dia menatapku sambil tersenyum. Sontak aku terkejut. Mataku membulat. Dia bukan arwah yang biasanya. Dia Manusia lebih tepatnya dia teman sekelasku. Ini pertama kalinya dia menyapaku dan juga pertama kalinya orang lain mengajakku berbicara semenjak insiden 'Aku bicara sendiri' Dia terkikih pelan.
"Tenang aku bukan arwah yang seram." Dia mensejajarkan jalan di sampingku. Kami berjalan berdampingan.
"Kau tak keberatan berbicara denganku ? " Aku berbicara pelan mentap jalan menuju kelas. Aku sadar beberapa orang orang yang menatapku tak senang.
"Hah ? Kenapa juga keberatan? Atau kamu sendiri yang keberatan berbicara denganku ? " Aku cepat cepat menggelengkan kepala. Tidak setuju dengan yang dikatakannya.
"Biarin saja mereka." Dia membaca apa yang aku pikirkan. Aku mengangguk.
Kami masuk ke dalam kelas. Mereka tidak peduli saat aku masuk berbeda dengan dia teman teman sekelasku langsung menyapanya. Aku langsung duduk di bangkuku. Dan dia masih sibuk dengan teman temannya. Beberapa kali aku kedapatan dia melirik ke arahku dan tersenyum. Kenapa dia mau bicara denganku? Itu yang terus aku pikirkan. Lama lama duduk sendiri di kursi membuatku bosan. Biasanya Toshiki-San menceritakan pada ku banyak hal saat aku merasa bosan.
Bel pelajaran dimulai telah berbunyi. Pelajaran seperti biasanya dimulai. Guru menerangkan , murid mendengarkan bahkan berbincang. Aku memperhatikan mereka semua. Pemandangan yang menyenangkan dalam sekolah. Setelah beberapa jam berkutik dengan tulisan dan rumus rumus. Salah bel yang dinantikan semua murid berbunyi. Istirahat. Semua berhamburan kemeja teman ke kantin keluar kelas dan kesibukan lainnya saat istirahat. Aku menggambil roti dan minuman di tasku. Aku pergi kebelakang sekolah. Menemui temanku.
Aku berjalan menuju tempat duduk disana. Aku sudah melihat Mbak Sri arwah wanita yang masih cukup muda .Mbak Sri melambaikan tangannya padaku aku tersenyum padanya. Dia mati saat masih muda dan masih ingin merasakan kehidupan sekolah yang saat hidup dia tidak pernah rasakan. Selai itu ada Ngeong siluman kucing penjaga sekolah ini. Ngeong sedang bergeliat dipangkuan mbak Sri. Mungkin orang biasa bisa melihat Ngeong seperti kucing biasa tapi tidak wujud aslinya. Ada juga Pak Danu disana, arwah dari seorang pak bon yang dulu pernah berkerja di sekolah ini. Aku menghampiri mereka. Aku duduk di samping mbak Sri , sekarang Ngeong berpindah dipangkuanku. Kami mengobrol bersama seperti biasanya. Hanya kali ini Toshiki-San tidak hadir.
"Boleh Aku bergabung dengan kalian ?" Aku menoleh ke sumber suara ternyata dia. Aku kembali membulatkan mata. Kenapa dia menemuiku ?
"Duduk saja Nak Arhan," jawab Pak Danu.
"Terimakasih," Arhan duduk di sampingku. Arhan mengulurkan tangannya ke Ngeong dan mulai mengelus elus Ngeong.
"Nak Arhan kok nggak dari kemarin nemenin neng Okta? Kasian neng Okta nggak punya temen kecuali bapak , mbak Sri , sama tuan Ngeong." Pak Danu membuka percakapan setelah lenggang sejenak.
"Arhan takut pak." Arhan tertawa menjawabnya. Aku menatapnya bingung. Apa aku nyeremin ? Arhan yang sadar tatapanku ia mengalihkan pandangannya dari pak Danu ke arahku. Dia terkikih lagi.
"Bukan kamu yang nakutin Ta." Lagi lagi dia bisa membaca apa yang aku pikirkan.
"Lalu ?"
"Tuan Samurai yang bersamamu itu. Dia terlihat galak." Arhan tertawa. Pak Danu dan mbak Sri pun ikit tertawa.
"Iya benar. Pertama aku bertemu dengannya bapak juga merasa takut." Kata pak Danu yang masih tertawa mengingat awal pertemuan kami di sekolah ini.
"Saya juga takut dulu." Timpal mbak Sri .
"Eeh... Benarkah ?" Aku terkejut tak percaya dengan ucapan mereka. Aku tak menemukan hal menakutkan Toshiki-San selama ini.
"Lalu dimana tuan Samurai sekarang kenapa nggak bersamamu ? " Tanya mbak Sri.
"Dia ikut kakak."
"Pembersihan lagi ? " Tanya pak Danu mimik wajahnya mulai berubah cemas.
"Iya.. tenang aja Pak Kak Hexsa nggak akan bersihin daerah ini." Aku berusaha menghilangkan kecemasannya. Bagi Arwah tingkat rendah yang masih ingin di dunia ini pasti cemas bila dilakukan pembersihan di tempatnya. Mereka bisa hilang dari dunia ini. Itu sangat menyiksa mereka karena mereka tidak bisa melawan pembersihan.
"Hexsa tidak akan melukai daerah ini." Timpal Ngeong yang sedari tadi tidak ikut pembicaraan. Raut wajah pak Danu kembali normal. Kami melanjutkan obrolan kami.
Bersambung...

KAMU SEDANG MEMBACA
Adipratama
FantasyArhan Agnibrata dan Oktavia A. sama-sama menjadi orang terpilih. Mereka dapat melihat. Melihat dunia yang berbeda. Namun mereka juga berbeda. Seperti namanya Arhan Agnibrata, Agnibrata yang berarti menghangatkan. Arhan terkenal baik ramah dan bersa...