Chapter 7

13 2 0
                                        

Sinar matahari mencapai permukaan
Sinarnya menembus kegelapan
Memberi kehangatan..
Memberi kekuatan..

POV (Oktavia)

Aku menganti pakaianku. Suasana hati ku sudah membaik setelah menangis tadi.

"Tadi memalukan sekali," aku melihat kearah cermin lalu menutupi wajahku yang memerah mengingat kejadian tadi. Ini pertama kalinya aku menangis sekencang tadi didepan orang lain. Aku harap Arhan tidak menganggapku lemah.

Arhan berhasil membuatku sadar bahwa Rara akan baik baik saja. Aku juga tidak boleh terus terlarut dalam kesedihan ini. Ini bisa memberatkan Rara. Bukan hanya Rara , bahkan kak Hexsa. Tapi kesedihan atas rasa bersalahku belum sepenuhnya hilang. Mungkin hanya waktu yang bisa menyembuhkan nya.

Aku melihat kearah luar jendela. Hari semakin gelap. Hujan masih lebat namun Arwah arwah itu berangsur menghilang.  Sepertinya kak Hexsa sedang berusaha menutup lagi gerbang perbatasan itu. Diluar serigala yang mengejar kami tadi juga sudah tidak ada. Toshiki-san mungkin telah  membunuh mereka.

Kreeek... 

Tiba-tiba aku merasa energi kuat dari arah belakang ku. Kuat sekali energi itu. Energi jahat. Aku bisa melihat asap asap hitam mulai menyebar di kamarku. kamar ku menjadi gelap. Aku menengok kebelakang. Tubuhku bergetar aku takut makluk itu bisa mencelakakan ku. Energi yang besar ini bisa saja membunuh ku.

Makhluk itu besar sekali sekitar tiga meter itu arwah . Berbentuk seperti teddy bear dengan mata merah darah , dan ada luka sayatan di wajahnya. Menatapku tajam. Aku terjatuh masih menatap nya ketakutan. Aku berdoa dalam hati semoga tidak terjadi apa-apa padaku.
Teddy bear itu mengeluarkan rantai dan mengikat kakiku.

"A-a pa yang kamu lakukan ?" Aku berusaha melepas ikatan itu ketakutan ku bertambah aku tidak berani menatap arwah itu. Setelah itu aku hendak berteriak tapi suaraku benar benar  keluar. Keringat juga membasahi tubuhku.

"Ikutlah.." arwah itu bersuara dan menarik rantai yang mengikat kakiku.

"($-#(@)#);@(@))@:@()#/#/;'_@+@)-#"  aku mendengar mantera yang di ucap oleh Arhan. Aku tak tau mantra apa itu. Yang aku tau arwah Teddy bear itu berhenti bergerak. Membeku. Dari belakang aku melihat Toshiki-San mengayunkan katananya atau pedang Jepang miliknya ke arwah itu.  Arwah itu tidak kalah hanya dia pergi dan menghilang. Rantai di kakiku pun lepas dan ikut hilang. Ruang di kamar ku mulai terang. Asap-asap itu ikut hilang bersama dengan menghilangnya arwah Teddy bear itu. Namun , tubuhku belum berhenti bergetar. Aku masih ketakutan.

"Kamu baik baik saja ?" Tanya Arhan padaku. Aku berniat menjawabnya tapi mulutku masih belum bisa mengeluarkan. Akhirnya aku anya mengeleng. Aku tidak baik-baik saja. Aki ketakutan. Aku memang kencang tangannya.

"Aku sudah disini jangan khawatir, aku akan melindungimu tenang saja." Arhan juga membalas pegangan tanganku. Dia tersenyum padaku. Senyumnya yang hangat perlahan membuatku lebih tenang. Kami terdiam. Aku masih berusaha menetralkan nafasku yang memburu. Toshiki-san keluar dari kamarku. Entah apa yang dia lakukan. Aku sudah lelah , aku menyandarkan tubuhku pada Arhan. Aku pun tertidur.

"Beruang?"

"Bukannya pelindung rumah ini sangat kuat ?"

"Mungkin karena aku jauh dari rumah,"

Aku samar samar mendengar suara Kak Hexsa dan Arhan.

"Sudah bangun ?" Tanya kak Hexsa. Kakak duduk di depanku.  Aku masih bersandar pada Arhan. Dengan malas aku memperbaiki posisi duduk dan membuat sepenuhnya bangun.

"Nyenyak?" Tanyanya Arhan. Aku mengangguk. Nyenyak sekali , Aku merasa hangat dan lebih tenang. Lalu aku melirik jam di kamar ku. 11.00 .

"Ehhh.. kenapa kamu belum pulang Han?"  Ini sudah malam.

"Belum ingin," dia terawa. Aku yakin Arhan tidak pulang karna aku tidur di sampingnya tadi.

"Tak usah dipikirkan," Arhan tau apa yang aku pikirkan.

"E.. hem.." pandangan ku dan Arhan menuju kak Hexsa. Kak Hexsa terlihat kesal mungkin dia merasa di kacangi. Aku dan Arhan tertawa melihat ekspresi kesalnya.

"Ayo kita makan malam, kalian belum makan sejak pulang sekolah kan ?" Ajak kak Hexsa.Kami mengangguk dan berjalan menuju meja makan.
Di meja makan ada sup hangat yang masih mengeluarkan asap. Aku suka sekali sup.

Kami makan sambil berbincang bincang dan sama sekali tidak membahas tentang arwah arwah. Hanya obrolan tanpa makna yang mengasikan. Aku melihat Kak Hexsa dan Arhan cepat bersahabat mereka berdua berhasil membuatku lupa hal yang menakutkan tadi.

Setelah selesai makan. Arhan berpamitan pulang. Aku sempat meminta nya untuk menginap di rumahku. Kak Hexsa juga mengizinkan. Tapi Arhan menolak dia tidak ingin merepotkan kami.

Akhirnya Arhan pulang tepat pada jam tengah malam. Aku kembali tidur setelah Arhan pergi. Karena aku masih merasa ketakutan walau sudah tidak separah tadi , aku meminta Kak Hexsa menemaniku tidur malam ini.

Bersambung...

-----------------------------------------------------------

Terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca cerita ini. 😆😊

Beri suara , comment , dan share cerita ini.. membuat aku semangat melanjutkan nya...  Sekali lagi terimakasih 😊😊😆

AdipratamaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang