Badai berkecamuk..
Apapun ia terjang..
Cerah belum juga,
menunjukkan dirinya..
POV Arhan
"Kak..." Suara lirih kesakitan seorang arwah anak kecil yang sedang dimakan oleh arwah serigala. Aku melihat Okta dengan tubuh bergetar ketakutan, ia berjalan , berlari dan ingin menyelamatkan anak kecil itu. Rara. Rara yang sedang dimakan arwah serigala.
"Rara!" Okta berteriak. Wajahnya sangat kacau.
Aku tahu Okta tidak bisa melawan arwah , aku segera menyusulnya dan membantunya. Okta hendak memukul serigala itu tapi aku hentikan , mengisyaratkan padanya 'biar aku yang melakukannya' . Sebelum aku melumpuhkan serigala itu , Tuan Toshiki telah menebas serigala itu. Serigala itu terbelah dan menghilang. Rara terlepas dari gigitan arwah serigala itu. Tubuh Rara sudah tak karuan bentuknya. Okta mendekati Rara dengan penuh kecemasan.
"Rara bertahanlah.." ucap lirih Okta.
"Terimakasih kak," suara lirih kembali terdengar dari suara kecil Rara. Rara tersenyum dan menghilang. Okta menangis dan mencoba meraih Rara , berharap Rara tidak akan pergi. namun sayang Rara tetap menghilang. Arwah yang telah mencapai batas tidak akan bisa di selamatkan dan tidak akan bisa kembali ke dunia nya seharusnya. Mereka akan terkunci selamanya diantara arwah dan dunia selanjutnya. Tidak ada cara menyelamatkan Rara. Bahkan pembersih paling hebat pun.
Aku memeluk nya. Dia tidak menolak. Dia masih menangis dipeluk ku.
"Aku belum bisa menepati janjiku.." kata Okta di tengah-tengah tangisannya.
"Kamu sudah berusaha" aku melihat wajah menyesalnya, aku mencoba menenangkan nya agar dia tidak menyalahkan dirinya sendiri. Ku usap air matanya.
"Kita pulang dulu ya , sepertinya puncak badai akan segera datang." Okta mengangguk menurut.
"Kita harus bergegas , arwah tadi salah satu pimpinan arwah serigala , cepat atau lambat bawahannya akan mengejar kita." Kata Tuan Toshiki.
Aku mengendarai motor ku dan Tuan Toshiki menjaga agar tidak ada arwah yang menganggu kita. Langit semakin gelap dan titik hujan perlahan turun. Arwah arwah semakin tak terkendali. Aku berusaha mengendarai motor secepat mungkin agar segera sanpai rumah dan tidak dikejar oleh bawahan serigala tadi. Okta sudah tidak menangis , tapi tatapannya kosong. Dia diam tenggelam dalam pikirannya sendiri. Aku mencoba mengajaknya berbicara dijalan, sesekali , tapi tanggapan nya seadanya dan serasa tidak ingin menjawab.
Sesampainya dirumah Okta, kakak nya telah menunggu di depan gerbang dengan penuh kecemasan.
"Apa yang terjadi ?" Kakak Okta menatap tajam kearah ku , dia meminta penjelasan karena melihat kondisi adiknya yang sembab dan tatapannya kosong.
"Ka-" aku memau mengatakan apa yang terjadi. Tapi kalimatku dipotong oleh seruan Tuan Toshiki.
"Ouji!" Seru Tuan Toshiki memberi peringatan kepata kakak Okta.
Aku menatap sekitar. Kami terkepung oleh arwah serigala. Aku yakin mereka anak buah dari serigala yang kami bunuh tadi. Mereka sangat banyak dan berukuran besar.
"Cepat masuk!" Kakak Okta meminta kami masuk ke rumahnya. Aku hendak masuk tapi penghalang yang ia pasang menghalangi ku untuk masuk.
"Masuk lah," kakak Okta menepuk pundakku. Ia tau aku tidak bisa menembus penghalang itu. Tepukan itu memberiku izin untuk melewati penghalang. Aku baru tahu setelah melewati penghalang itu, itu bukan penghalang biasa. Aku akan tidak sadarkan diri bila masuk dengan paksa. Tanpa izin yang membuat penghalang ini.
"Penghalang ini tidak akan bisa mereka tembus, Toshiki-San tolong tetap waspada," kata kakak Okta.
"Aku ke kamar," Okta langsung meninggalkan kami berdua di ruang tamu. Wajahnya masih kosong. Aku berharap dia baik baik saja.
"Kau harus menjelaskan padaku," lagi-lagi kakak Okta mengeluarkan tatapan tajamnya. Aku tidak merasa aneh dengan perlakuan kakak Okta. Aku tau dia sangat cemas melihat adiknya seperti itu.
"Rara dimakan oleh pimpinan serigala yang mengepung tadi," aku menceritakan kejadian tadi pada kakak Okta.
"Aku tau cepat atau lambat hal ini akan terjadi, Terimakasih sudah mengantar adikku pulang." Tatapan Kakak Okta padaku sudah tidak tajam tadi bahkan sangat lembut.
"Aku ambilkan baju ganti untuk mu, bajumu basah,"
"Tidak usah aku akan pulang ," aku menolak tawarannya.
"Tolong tetap disini , setelah ini aku akan melakukan penyegelan, tolong temani Okta, aku tau kamu bukan hanya sekedar bisa melihat," aku tidak bisa menolak permintaannya.
Kakak Okta pun memberikan padaku baju dan handuk.
"Terimakasih , Kak." Aku menerima baju itu.
"Panggil saja Hexsa, tolong buatkan Okta susu hangat dapur ada di sebelah sana kalau tidak tau tanya saja Arwah yang ada di rumah ini. Aku pergi dulu , tolong lindungi adikku." Aku mengangguk.
"Terimakasih banyak Han! Aku sudah merestuimu menjadi pacar adikku." Hexsa tertawa mengodaku. Aku terkejut dengan ucapannya. Selain itu kenapa dia bisa tau namaku ?
"Jangan aneh aneh dengan adikku arwah di rumah ini tidak akan segan menghabisi mu." Hexsa tertawa lagi. Dan membuat wajahku panas.
"Aku titip Okta," Hexsa meninggal kan rumah ini.
Sesuai permintaannya aku membuatkan susu hangat untuk Okta. Beberapa kali aku kebingungan mencari barang atau ruang di rumah ini , aku bertanya pada arwah berbentuk mochi dengan ekor berjumlah sembilan. Arwah itu salah satu Arwah pelindung rumah ini. Arwah yang baik walau tidak banyak bicara. Setelah selesai membuat susu hangat aku menuju kamar Okta.
Pintu kamar tertutup. Aku mengetuk pintunya dan memangil namanya..
"Okta.. aku bawa susu hangat."
Tidak ada jawaban.
"Okta.." aku memangil nya lagi..
"Ta..."
Bersambung....
-----------------------------------------------------------
Terimakasih telah membaca cerita ini.. maaf typo sana sini 😂😂
Beri bintang ya... Biar aku semangat update nya....
Terimakasih .. 😍😘
KAMU SEDANG MEMBACA
Adipratama
FantasyArhan Agnibrata dan Oktavia A. sama-sama menjadi orang terpilih. Mereka dapat melihat. Melihat dunia yang berbeda. Namun mereka juga berbeda. Seperti namanya Arhan Agnibrata, Agnibrata yang berarti menghangatkan. Arhan terkenal baik ramah dan bersa...
