Want you make me feel
Like i'm the only girl in the world
Like i'm the only one that you'll ever love
Like i'm the only man who knows your heart
Only girl in the world
Like i'm the only one thats in command
'Cause i'm the only one who understands
How to make you feel like a man." Like i'm the only girl in the world... Du... Du.. Du... " Aku terus mengikuti playlist mp3 The Only Girlnya Rihanna, one favorite singer in my life. Lagu ini juga ku gunakan untuk nada deringku di handphone.
Hari ini mas Andi mengajakku kencan. Kurasa.. Ini kencan pertamaku sebagai suami istri yang sesungguhnya, dalam arti tanda kutip. Tapi ini hari kamis, artinya nanti malam, malam jumat. We are make a wednesday night date, or friday night date? Apa ajalah, kencan di kuburan juga aku mau asal sama mamas Andi. Cieee.....
Di mulai kencan di taman kota, akhirnya kami makan di cafe. Kami seperti pasangan yang sedang kasmaran, aku yang kasmaran, sedangkan dia mungkin tidak. Bukannya aku rendah diri dan tidak percaya diri, tapi aku sadar seperti apa diriku, masih besar dan gendut. Walaupun kata mama aku kurus, tapi siapapun tau seperti apa mamaku jika sudah kenal dengannya. Selalu heboh dan sering hiperbola.
Aku cuma bisa berdoa supaya aku cepat hamil. Oh gusti... Mereka, mama Rosa dan mas Andi ingin sekali mempunyai keturunan. Mudah-mudahan aku tidak termasuk orang gendut yang sulit punya anak.
" Mas, kalau aku nggak kurus juga gimana mas? Apa kamu gak malu jalan sama aku? " tanyaku sambil minum jus jeruk. Pertanyaan yang selalu kusimpan dan tidak berani ku tanyakan sebelumnya.
" Lebih merepotkan lagi kalau kamu gendut dan penyakitan. Kalau sehat-sehat gendut begini,gemesin deh Ndut... " dia mencubit kedua pipiku. Aku meringis tapi senang.
"Andi.. " seseorang berdiri di depan kami, seorang wanita. Cantik, berambut panjang dan langsing tentu saja.
" Vita? " mas Andi bergumam, sedikit kaget.
"Apa kabar Ndi? Kamu nggak berubah. Padahal, hampir setahun kita gak jumpa. " dia memegang tangan mas Andi. Sepertinya mereka sangat akrab. Dan kehadiranku tidak dianggap.
" Baik, kamu apa kabar? " mas Andi balas bertanya.
" Aku tidak baik Ndi. Aku dengar kamu sudah menikah, istri kamu mana Ndi? " Eh, hellowww,mbak yang bernama Vita, tidakkah kelihatan wujudku yang tiga kali lipat darimu? Aku mendongkol.
" Eh iya... Istri.. Istriku... Ini, kenalkan Ayu " ahhh.. Akhirnya aku di anggap juga. Dia kelihatan kaget. Menatapku lama, masih dengan tanda tanya. Aku sudah biasa diperlakukan seperti itu, jadi biasa saja. Sedetik kemudian dia mengulurkan tangannya.
"Saya Vita mbak... Teman lamanya Andi" ujarnya menekan kata teman. Aku menyambut tangannya sekilas.
" Ya udah aku permisi dulu ya, maaf sudah nganggu waktunya... Kamu masih di kantor dulu Ndi?" mas Andi mengangguk. Baguslah dia pergi saja. Auranya tidak bagus, aku bisa merasakannya.
Selepas Vita pergi, aku tidak ingin bertanya siapa dia. Bisa merusak moodku kalau benar dia adalah masa lalunya mas Andi. Tanpa bertanyapun aku sudah bisa menyimpulkan siapa dia.Sepanjang perjalanan pulang, mas Andi lebih banyak diam, biasanya dia selalu menggodaku,akupun tidak berniat berbicara banyak. Pikiranku masih seputaran wanita itu. Membandingkan diriku dan dirinya adalah hal yang tidak wajar. Bagaikan langit dan bumi.
###########
" Mas nanti aku antar makan siang ke kantor ya. "ujarku sambil membetulkan dasi mas Ani.
"Kamu nggak kerja Ndut? "
" Aku minta pulang cepat, karena ada dokter baru yang gantiin aku. Udah lama kan aku nggak ke kantor kamu. "
Dia tidak mengiyakan, menggandeng tanganku, turun dan sarapan. Padahal kan aku cuma sekali ke kantor dia, dua kali dengan sebelum menikah dulu saat aku galau dan tidak ingin menikah dengannya. Dan sekarang aku menyesal dengan kedatangnku yang pertama dulu.
" Tari, kamu belanja nanti ya, daftar belanjaan udah di catat kan? " aku mewanti-wanti Tari lagi supaya dia tidak lupa.
"Iya bu, sudah saya catat. " aku memang menyuruh Tari untuk berbelanja bahan-bahan untuk membuat rendang sapi kesukaan mas Andi. Biasanya mama yang membuat daftar belanjanya, tapi tadi beberapa bahan yang kurang kusuruh catat lagi sama Tari.
" Mas, jangan makan di luar, selesai jumatan aku ke kantor." ujarku mengingatkan. Dia mengangguk. Hari ini kami membawa mobil masing-masing. Mas Andi dengan Pajero Sportnya, aku dengan Yaris kesayanganku.##########
Memarkir mobilku di parkiran, dengan menenteng rantang tupperware ku, aku melenggang masuk ke kantor mas Andi. Bank besar itu nampak sepi. Beberapa orang, seperti karyawan di situ menegurku. Mungkin teman mas Andi yang datang di resepsi kami. Ah... Aku memang gampang di kenali karena fisikku.
Ruangan mas Andi ada di lantai sepuluh. Artinya aku harus naik lift ke sana. Karena sudah pernah ke sana, tidak susah untukku menemukan ruangannya. Aku mengetuk pintu ruangannya dan membuka perlahan. Pemandangan di depan mataku membuatku mendadak lemas. Dua orang yang aku tau satunya mas Andi sedang memeluk seorang perempuan. Airmataku jatuh tanpa kusadari. Hatiku sakit. Perasaanku hancur. Ohhh inikah cemburu itu.
Seseorang perempuan itu adalah Vita, perempuan yang baru tadi malam bertemu lagi dengan mas Andi.
Menutup pintu lagi aku segera berlalu dari mereka. Mas Andi sempat memanggilku dan mengejarku. Tapi aku belum ingin mendengar alasan apapun sekarang. Pemandangan barusan membuat jantungku hampir berhenti, menceraiberaikan perasaan bahagia sesaatku.
Aku cuma ingin menenangkan hatiku.Tbc

KAMU SEDANG MEMBACA
Love And Miracle
Художественная прозаSatu satunya hal yang membuatku ingin menangis hanya ketika kamu tidak perduli padaku. Hatiku bahkan tidak rela melihat kedekatan kamu dengan wanita lain. Tapi apalah dayaku si gendut yang tidak cantik, si buruk rupa jika disandingkan dengan Andi Ri...