3 hari berlalu dengan penuh mimpi bagi seorang Luhan. Bagaimana tidak, kini ia secara penuh mendapatkan perhatian dari orang-orang yang selama ini membuatnya berjuang untuk bisa dilihat dan diperhatikan.
Jaejoong selalu meluangkan waktunya untuk datang menjenguk Luhan. Yunho pun melakukan hal yang sama. Sungmin terus berada di samping Luhan kecuali ketika Sehun telah datang dan memintanya untuk pulang istirahat, sedangkan Kyuhyun hampir selama 2 jam sekali melakukan video call hanya untuk mengetahui keadaan Luhan serta menceritakan beberapa hal yang terjadi padanya. Khusus untuk tingkah Kyuhyun, Sungmin sendiri merasa suaminya itu sudah salah makan obat.
Tingkah ajaib para orang tua itu cukup menyebalkan bagi Sehun khususnya, karena ia terus menjadi orang paling akhir yang akan disadari Luhan dalam ruangan itu.
Sekarang hanya ada Luhan sendiri, ia memang sengaja pura-pura tidur tadi agar bisa ditinggal sendiri oleh Sehun. Luhan beranjak dari tempat tidurnya, berjalan menuju pintu sambil membawa tiang tempat infusnya berada. Ketika telah berhasil berada di luar, sebuah suara mengejutkannya.
"Jadi benar itu kau? Jung Luhan?" Luhan menoleh dan menemukan Seohyun berdiri tak jauh darinya. Luhan tersenyum tipis.
"Aku tak menyangka akan bertemu denganmu sekarang," kata Luhan.
"Kau sakit apa hingga semua orang di rumah sakit ini terlihat begitu mengkhawatirkanmu?" Tanya Seohyun.
"Hm.... tidak enak rasanya jika berbicara di koridor seperti ini, bagaimana jika kau ikut denganku? Kita bisa berbicara lebih leluasa disana," kata Luhan.
Seohyun menatap sebentar Luhan lalu bertanya, "Dimana itu?"
"Atap," jawab Luhan yang kini berbalik dan berjalan meninggalkan Seohyun. Walau kesal, tapi Seohyun tetap mengikuti Luhan pergi.
Atap rumah sakit ini begitu luas, terlihat tak terawat serta sepi, itu berarti tak banyak orang yang suka kesini, padahal jika dilihat lagi, tempat ini menyajikan pemandangan kota Seoul yang sangat indah disore hari.
Seohyun melihat Luhan yang memandang jauh. "Kau terlihat memikirkan sesuatu," kata Seohyun.
"Tentu, banyak hal yang kupikirkan sekarang," kata Luhan.
"Kata mereka, kau mengidap penyakit yang sukar disembuhkan, dan umurmu..." Seohyun tak berani melanjutkan perkataannya.
"Kau pasti sudah banyak mendengar tentangku dari orang-orang di rumah sakit ini," kata Luhan yang kini tersenyum menatapnya.
"Kau terlihat berbeda dibanding terakhir kali kita bertemu," kata Seohyun.
"Tentu, tidak ada lagi topeng yang bisa kupakai untuk menutupi kelemahanku lagi dihadapanmu," jawab Luhan ringan. Seohyun menatap Luhan begitu lama.
"Berapa lama lagi.... hidupmu?" Tanyanya pada Luhan.
"Aku masih ingin melihat pemandangan indah ini lebih lama lagi," jawab Luhan dengan mengalihkan pandangannya dari kota Seoul ke Seohyun.
"Sampai berapa umur seseorang siapa yang tahu? Kita hanya pelaku dari takdir Tuhan," sambung Luhan kembali.
"Kau terlihat sudah menyerah," kata Seohyun.
"Kau berada disini dengan sikap seperti itu, apa kau juga sudah menyerah? Kau menyerah mendapatkan Sehun kembali," kata Luhan tanpa disangka.
"Sehun tidak bisa kudapatkan lagi, ia telah memutuskan memilihmu, dan meninggalkanku," kata Seohyun. Luhan mengangguk.
"Aku ingin menceritakan sebuah cerita, apa kau mau mendengarkannya?" Tanya Luhan.
"Hm."
"Dulu ada seorang anak perempuan, ia belum bersekolah, anak perempuan itu hanya memiliki seorang teman, seorang anak laki-laki dari kenalan orang tuanya, ia begitu senang ketika anak laki-laki itu datang ke rumahnya dan mengajaknya bermain, setiap kedatangannya merupakan hal paling berharga bagi anak perempuan itu, lalu pada suatu hari tanpa anak laki-laki itu sadari, ia mengucapkan sebuah janji pada sang anak perempuan, janji bahwa ia akan menikahi sang anak perempuan itu didepan kedua orang tuanya dan orang tua si anak perempuan, bertahun-tahun berlalu, banyak hal yang terjadi diantara keduanya, si anak laki-laki melanjutkan studinya di luar negeri, meninggalkan si anak perempuan yang masih terus mengingat janji itu walaupun ia sedang mengalami amnesia parsial karena sebuah kecelakaan, si anak perempuan itu terus memupuk janji itu hingga ia dewasa, tetapi tadir memintanya menikah dengan orang yang tidak dikenalnya, dalam diam si anak perempuan menangisi ketidakmampuannya menjaga janji si anak laki-laki, hingga suatu ketika kenyataan menampar si anak perempuan, ia mendapatkan kabar bahwa orang yang dinikahinya adalah anak laki-laki yang dulu berjanji akan menikah dengannya tetapi disaat yang sama ia harus menerima kenyataan bahwa anak laki-laki itu telah memiliki orang lain yang dicintainya dan telah lama melupakan tentang si anak perempuan," Luhan berhenti bercerita, ia menatap Seohyun yang terlihat syok mendengarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MISSING
FanfictionYou won't try for me, not now Though I'd die to know you love me I'm all alone Isn't something missing me? (part of Missing-Evanescene) "Aku tak pernah mengakuinya sebagai putriku," - Jaejoong "Aku menyayangi Sehun layaknya putraku sendi...
