Kisah 6

236 13 0
                                        

Jakarta. Oktober (tahun berikutnya)

Ada yang tertinggal setelah senja pergi :
rasaku, tentangmu yang kini telah berlalu menjadi semu.

Perihal rindu, sesekali tak apa. Nyatanya jika kamu paksakan untuk dihilangkan, jiwa mu yang ter-oyakan.

Kadang aku merasa belum cukup rela jika tak ada lagi cerita diantara kita.

Berpura baik-baik saja dan tersenyum saat orang bertanya kenapa aku sendiri saja?

Namun memang tidak bisa mulut ini berbicara.
Bagai angin bertiup tiada pertanda,
kamu menghilang tanpa terasa,
meninggalkan aku yang termakan suasana.

Tak ada lagi kamu yang selalu mengingatkanku ini dan itu.
Tak ada lagi kamu dengan pesan dan panggilan sebagai notifikasi favoritku.

Tidak ada lagi hari di mana aku begitu tak bosan mendengar kau berbicara lewat ponsel saat malam bahkan sampai aku tertidur lelap.

Tidak ada lagi yang tiba-tiba datang tanpa kuminta lalu membawakan aku sesuatu.
Tidak ada lagi yang tiba-tiba datang tanpa kuminta hanya sekedar untuk menenangkanku yang menangis didalam rumah, yang membuatku tak percaya namun benar-benar nyata.

Aku masih saja suka membaca pesan lama kita.

Aku masih saja sering membuka setiap lembaran foto kita yang dulu pernah ada.

Aku bahkan akan sedikit tersenyum saat mengingat bahwa kita pernah begitu dekat.

Untuk kesekian kalinya aku lelah terus terbayang memori indah yang dulu.

Disetiap malam menjelang tidur, kini tak ada ucapan selamat tidur darimu lagi.
"Sampai kapan?"

Ku dengar kamu menyesal setelah keputusan mu memilih pergi dari ku.
Ingin sekali rasanya aku tertawa didepan wajah mu.

Sayang.
Aku pernah begitu kukuh menutup hatiku agar tak ada lagi yang dapat menguasainya.

Sampai kamu datang lagi mengetuk dengan manis meminta aku untuk bersikap baik baik saja dan
memohon untuk kembali lagi.

Maaf sayang, hati ku telah lama kau patahkan.
Bagiku serpihan cinta itu telah lama hilang, serpihan luka dan rasa untuk mu turut hilang bersama waktu.

Yang tersisa hanya kenangan.
Antara aku dan kamu yang masih berbayang.
Tapi, jika aku harus tenggelam sendiri dalam bayangan itu, aku lebih memilih berlari.

Meskipun aku berlari semakin jauh dari kenangan, aku tak apa apabila akan menghilang dari kenyataan.

Sungguh, aku sama sekali tidak menyesal.  Sebab bertemu denganmu adalah kebahagian tersendiri untuk ku. Aku hanya ingin berterimakasih, atas semua yang telah kamu berikan dengan sepenuh hati.

Aku tidak membencimu, meskipun sekarang kamu telah pergi berlalu.

Setelah kamu pergi, semua tidak sama lagi.

Aku tetap menjalani rutinitas dengan berusaha biasa saja.
Berusaha mengabaikan kenangan tentangmu yang muncul sesukanya.

Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugrah terbesar hidupku.
Cinta memang tidak perlu ditemukan,
cintalah yang akan menemukan kita.

Akhirnya aku mampu mengetahui kabarmu dan merasa biasa saja.
Tak usah khawatir.
Aku mampu melewati ini tanpa mu.

Aku Dan WaktuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang