4# We Don't Talk Anymore

1.7K 181 17
                                        

Taeyeon Pov

Aku menyanyi sambil sesekali mencuri pandang ke arah Fany. Senang rasanya melihat adik tiri dan sahabatku cepat akrab. Dan gitar pemberiannya ini memberikanku energi, seperti vitamin. Setelah menyelesaikan lagu pertamaku, seorang pelanggan memintaku menyanyikan lagu Take a Bow, aku dengan senang hati memenuhi. Salah satu hal menyenangkan sebagai penyanyi adalah bisa memenuhi permintaan orang lain, walau permintaan sederhana. Aku mulai menyanyikan lagu bernuansa mellow ini. Di pertengahan lagu aku melihat 6 sosok familiar di kampus memasuki cafe, Nichkhun dan geng 2PM-nya. Mereka sejurusan denganku dan Baekhyun, juga sekelas denganku di beberapa mata kuliah. Nama 2PM sedang viral di kampus. Kuakui mereka semua tampan tapi kelakuannya minus. Terutama si... ya si itu lah. Player kelas kucing garong yang kini tebar pesona pada Fany. Kulihat mereka berjabat tangan kemudian Nichkhun sedikit menggeser kursinya lebih dekat ke Fany. Mereka tertawa, bercanda, seperti sudah kenal lama. Apa apaan ini. Aku muak melihat mereka, Fany juga mau-maunya.

Kupotong reff terakhir lagu ini agar selesai lebih cepat. Aku memberi kode pada seorang perempuan di samping panggung untuk menggantikanku menyanyi. Dia sedikit tidak siap karena memang belum waktunya dia menggantikanku. Aku tidak mau tahu, yang aku inginkan sekarang menyingkirkan Fany dari playboy itu.
Aku mendekati mereka.

"Fany~ah"

"Mwo? Kau baru menyanyi 2 lagu, kenapa sudah turun? Ah ya tadi aku cerita sampai mana Oppa? Aku lupa hahaha"

Dasar genit, dia bahkan tidak menggubrisku. Dia benar-benar lemah urusan lelaki.

"Taeyeon~ah, mau minum apa?"

"Soju"

"Ya, sejak kapan kau minum soju?"

"Sekarang!"

Aku membentak Baekhyun. Dia sedikit terkejut, melihat Fany dan Nichkhun kemudian mengambilkan pesananku. Sepertinya dia tahu penyebabnya, dia tahu aku sedang tidak mood. Dia selalu memahamiku. Baekhyun meyodorkan cup kecil kemudian menuangkan sojuku. Aku langsung menghabiskan dan meminta lagi. Berulang kali sampai kurasakan tubuhku memanas dan kepalaku sedikit berat.

"Tambah"

"Sudah cukup"

"Baekhyun~ah!"

"Ya, kau masih harus menyetir. Sudah"

Baekhyun mengelus rambutku, berusaha menenangkan. Malah dia yang memperhatikanku, bahkan Fany tidak menyadari keanehanku. Entah kenapa kali ini aku ingin mengemis perhatiannya. Kenapa aku ini. Aku melihat Nichkhun memegang pundak Fany dengan tatapan mesum dan Fany memberinya senyuman yang tidak pernah dia berikan padaku.

"Ya, Fany! Ayo pulang!"

Aku menarik pundaknya agar menatapku.

"Sebentar lagi Unnie, aku sedang mengobrol"

"Sekarang!"

Aku menggenggam pergelangan tangan Fany.

"Ya Taeyeon. Kalau kau buru-buru pulanglah dulu, biar Fany kuantar pulang nanti"

Apa katanya? Enak sekali. Fany harus pulang denganku. Aku berdiri kemudian menarik tangan Fany. Aku tak perlu persetujuannya lagi, apalagi persetujuan playboy kampret ini.

"Unnie! Unnie, sakit!"

Fany terus meneriakiku. Beberapa pengunjung cafe melihat kami heran. Aku berhasil membawa Fany keluar cafe dan memasukkannya paksa ke mobil. Emosi dan efek sedikit mabuk membuatku sedikit berlebihan memperlakukannya.

Aku memacu mobilku dengan kecepatan tinggi padahal jalanan kota lumayan ramai malam ini.

"Kau ini kenapa?"

Kulihat Fany ketakutan. Tangannya menggenggam sabuk pengaman.

"Kau menjijikkan!"

"MWO?!"

"Iya, kau dan Nichkhun, menjijikkan"

"Ya! Aku hanya mengobrol dengannya"

"Dia menyentuhmu dan kau menyukainya. Kau pikir aku tidak lihat? Dan kau selalu bertingkah genit ke banyak lelaki. Murahan, kau tahu!"

Berbagai kata kasar keluar mulus dari bibirku. Soju tadi benar-benar membuat tingkat kejujuranku meningkat. Hal yang selama ini kupendam kuungkapkan begitu mudahnya. Aku hanya ingin melindunginya, sungguh. Wajah Fany memerah, dia benar-benar marah.

"Turunkan aku di sini!"

"Aku hanya tak ingin kau terluka. Dia bukan lelaki baik, aku mengenalnya. Dan kau, berhentilah mempermainkan lelaki"

"Orang tertutup sepertimu tahu apa tentang orang lain! Selalu merasa paling benar! Menyakiti orang lain! Kau cocok hidup sendirian!"

Aku membanting setir ke kanan, kuinjak rem kuat-kuat. Terdengar decitan ban keras. Tubuh kami terdorong ke depan. Napasku naik turun menahan amarah. Fany melepaskan sabuk pengamannya.

"YA! Kita memang tidak pernah cocok. Tak usah berbicara denganku lagi!"

"Geurae!"

Kuamini permintaannya. Fany membuka dan membanting pintu mini cooperku, kemudian berjalan kembali ke arah cafe. Bahkan dia masih ingin kembali ke sana. Aku memukul-mukul setir. Napasku masih naik turun. Dia memintaku tidak bicara dengannya lagi. Oke, aku tidak peduli apa yang akan terjadi besok, tidak peduli jika dia sakit hati karena dipermainkan, toh dia juga sering mempermainkan. Karma does exist! At least, i've told her.

---

Tiffany Pov

Aku menutup pintu mobilnya keras-keras, berjalan kembali ke arah cafe. Kulihat tadi kami melewati halte bus, kuputuskan pulang naik bus daripada terus bertengkar dengannya. Aku tidak habis pikir kenapa kami selalu berakhir seperti ini. Baru saja tadi siang dia bersikap manis, dia kembali mengasariku sekarang. Aku tak terima dia mengataiku murahan, walau kuakui aku dekat dengan banyak lelaki. Itu kan resiko orang cantik, bukan gampangan. Dan Nickhun, entah kenapa dia benar-benar-benar menawan.

"Fany~ah"

Sebuah mobil sedan BMW berhenti di sampingku.

"Ayo kuantar pulang"

Pangeran penyelamatku datang. Khun Oppa turun dari mobil mendekatiku. Memegang punggungku, mendorongnya agar segera masuk ke mobil. Tubuhku mengikuti perintahnya, bagaimana aku bisa menolak.

---

Taeyeon Pov

Aku melumat potongan steak terakhirku. Di hadapanku Fany masih sibuk memotong steaknya, sedangkan Appa dan Umma sudah selesai dengan sarapannya.

"Taeyeon~ah, kau kuliah jam berapa?"

"Setengah 8, Appa"

"Kalau begitu kau antar Fany dulu. Appa ada urusan harus segera ke kantor sekarang"

"Tidak usah Appa. Aku berangkat dengan temanku"

Fany menjawab santai. Tenang Kim Taeyeon, tenang. Dulu kau tak mempedulikannya, kau bisa melakukannya lagi. Ya, kau bisa.

Drrtt...drtt...drrt...

Handphone Fany bergetar. Dia tersenyum kemudian meneguk air mineralnya. Dilapnya bibir merahnya dengan sapu tangan putih di meja

"Appa, Umma, aku berangkat dulu. Annyeong"

Fany melambaikan tangan pada Appa dan Umma. Aku tak dianggapnya sama sekali. Oke fine. Giliranku pamit pada mereka. Aku berjalan keluar menuju garasi. Ternyata Khun yang menjemput Fany. Khun melihatku kemudian tersenyum penuh kemenangan. Damn! Player bertemu player, kita lihat mereka bisa sejauh apa.

To be continued

---

Holla readers, ini sekedar cerita, jangan dianggap serius, jangan baper berlebihan juga kekeke. Udah 4 part nih, gimana-gimana? Yang ngehamilin Fany masih jadi misteri, udah ada yang bisa nebak? Atau jangan-jangan si TaeTae lakik lagi ulululu 😂

togetHERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang