10# Deeply In Love

1.7K 190 12
                                        

Taeyeon Pov

"Aku mendapat informasi"

"Informasi apa?"

Aku membatalkan niatku masuk ke dalam cafe menyusul Fany setelah Baekhyun mengatakan sesuatu dengan nada dan wajah serius.

"Aku tahu keberadaan Khun"

Deg. Seketika dadaku terasa nyeri mendengar nama itu lagi.

"Dia ada di..."

"Sudah tidak perlu"

"Mwo? Bukankah selama ini kau mencarinya?"

Baekhyun menarik tangan kananku yang sudah memegang gagang pintu. Aku melepaskan tangannya dan kini dia mengahadangku di depan pintu.

"Tolong jangan katakan apapun pada Fany. Kau lihat? Dia sudah bahagia dengan Ju Hyun. Aku tidak ingin melihat dia bersedih lagi"

Ralat, maksudku Fany sudah bahagia bersamaku. Aku menunjuk Fany yang sedang membereskan barang-barang Ju Hyun di meja sambil sesekali menggoda gadis kecilnya itu. Mereka tertawa, aku tidak ingin kehilangan senyum mereka. Baekhyun melihat ke arah yang kutunjuk.

"Wae? Aku yakin kau tidak seegois itu, membiarkan Ju Hyun tumbuh tanpa tahu siapa Appanya. Kau bisa membantu Fany dan Ju Hyun memperbaiki semuanya Taeyeon~ah"

Baekhyun memegang kedua pundakku dan menatapku tajam. Memperbaiki semuanya dan aku kehilangan Fany? Definitely No. Aku melepaskan kedua tangannya dari pundakku kemudian kugenggam.

"Jebal Baekhyun~ah"

Baekhyun menatapku heran. Aku melewatinya dan kutarik pintu di depanku.

"Gwaenchana?"

"Ne"

Aku berlalu saja ketika Fany menanyaiku. Perasaanku sedang buruk, aku hanya ingin cepat sampai rumah. Fany mengekoriku kewalahan karena menggandeng Ju Hyun yang mengantuk berat.

---

Tiffany Pov

Aku membuka pintu kamar Taeyeon, mengintip si pemilik tapi yang kudapati adalah ranjangnya yang berantakan. Sepertinya tadi dia sedang mengerjakan sesuatu tapi belum selesai. Aku memberanikan diri masuk. Sedang apa wanita itu? Berdiri di balkon dengan tanktop hitam dan celana pendek jauh di atas lutut dengan warna senada, tangannya dia lipat di depan dada, rambut panjangnya tertiup angin. Cuaca sedang dingin, angin di luar sangat kencang. Dia bisa masuk angin dengan pakaian seperti itu. Aku membereskan laptop, bolpoin, dan berkas-berkas di ranjangnya, kuletakkan di atas nakas. Kutarik selimut putihnya. Aku mendekatinya yang sepertinya tahu keberadaanku tapi diam saja. Kututupi tubuhnya dengan selimut kemudian memeluk perutnya dari belakang.

"Apa yang Baekhyun katakan sehingga membuatmu seperti ini huh?

Aku memindahkan tanganku perlahan, melingkarkan di depan dadanya. Daguku kutempelkan di pundak kirinya. Tak ada jawaban aku menciumi telinganya.

Taeyeon melepaskan pelukanku, berbalik menghadapku. Diselipkannya rambutku di belakang telinga, kedua tangannya memegang pipiku.

"Bukan apa-apa Fany~ah"

"Kau bo..."

Tiba-tiba mulutnya membungkam bibirku. Kubalas ciumannya. Kurasakan dia meremas pinggangku, aku melingkarkan tanganku di lehernya. Selimut yang tadi membungkus tubuhnya jatuh ke lantai. Taeyeon terus melumat bibirku sambil mendorong pinggangku agar masuk ke kamar. Aku memainkan lidahku ke dalam mulutnya sembari mengatur langkahku agar tidak jatuh karena dia membuatku berjalan mundur.

Brak...

Benar saja, aku tersandung dan jatuh ke lantai. Taeyeon jatuh tepat di atasku. Dia sedikit terkejut dan melepaskan ciumannya, tapi tak lama dia kembali menghabisi bibirku penuh gairah. Aku memeluknya erat sehingga tidak ada lagi jarak di antara kami. Kubiarkan dia menindihku.

"Ahh...hmm...ahhh..."

Aku mendesah. It feels like heaven. Aku merasakan punggungku mendingin. Dasar pacar tidak peka. Lantai ini dingin, kalau begini aku yang akan masuk angin. Aku sedikit mendorong pundaknya, aku kehabisan napas. Kami berdua ngos-ngosan. Aigoo. Napasku belum teratur, Taeyeon menggendongku.

"Argghhh"

Dia mengerang mengangkat tubuhku yang lebih besar darinya. Dia melemparkanku ke atas kasur kemudian langsung menyerbuku. Dia menyatukan jari-jarinya ke jari-jari milikku sehingga aku telentang pasrah. Tenaganya kuat menahan tanganku. Matanya memandangi payudaraku yang naik turun karena mengatur napas, bibir bawahnya dia gigit. She's so pervert.

"Aku tidak ingin kehilanganmu"

"And you won't Kim Taeyeon"

Taeyeon kembali menindihku. Dia menjilati leherku, tangan kirinya memegang tengkukku, tangan kanannya liar masuk ke dalam celanaku, meremas kemaluanku.

"Uhhmm... hahh..."

Tanganku kiriku meremas sprei kasurnya, tangan kananku memegang bokong kenyalnya. Puas menggerayangi pantatnya, aku memasukkkan tanganku ke tanktopnya, meremas punggungnya, memainkan tali branya. Perlahan aku menarik tantopnya ke atas sampai bra putihnya terlihat. Menyadari itu, Taeyeon bangun kemudian membuka tanktopnya. Kini dia berusaha membuka kaosku. Aku membantunya, membiarkan dia menelanjangiku. Aku mendorong tubuhnya, dia rebah sambil berusaha mengendalikan napasnya.

"Aku tidak ingin kehilanganmu Fany~ah"

Kalimat itu lagi. Matanya benar-benar menunjukkan ketakutan. Entah apa yang tadi dia bicarakan dengan Baekhyun, jelas itu yang membuat Taeyeonku ketakutan. Kini aku yang berada di atasnya. Kuremas kedua buah dadanya. Aku menciumi setiap sudut wajahnya. Taeyeon mendesah, membuatku semakin menggilainya. Entah berapa lama kami melakukan ini. Pagi harinya aku terbangun dengan kepalaku di dadanya, tangan kanannya melingkar di pinggangku dan tangan kirinya di kepalaku. Aku memindahkan kedua tangannya pelan agar dia tidak terbangun. Aku melihat jam digital di nakas menunjukkan pukul 06.37. Jinja?? Aku bangun merapikan tali bra-ku dan memakai kaosku. Kusisir rambutku kemudian berlari ke kamarku. Belum sampai, kudengar suara Umma dan Ju Hyun di lantai bawah. Kulongokkan kepalaku ke bawah, kulihat Ju Hyun sudah rapi dengan seragam dan tas sekolahnya. Umma mengelap bibir Ju Hyun dengan sapu tangan.

"Annyeong"

Ju Hyun melambaikan tangan pada Umma dan berjalan keluar rumah digandeng Song ahjussi.

"Ya, turunlah"

Ah shit, Umma menyadari keberadaanku. Aku turun ke bawah mengambil air mineral di dapur. Kulewati Umma yang membereskan sisa makanan Ju Hyun.

"Kalau Umma tidak membangunkan Ju Hyun, dia pasti sudah terlambat ke sekolah"

Aku meneguk minumanku kemudian meletakkannya di atas meja. Kutatap gelas kaca itu sambil memikirkan jawaban yang tepat.

"Mianhae Umma. Semalam aku dan Unnie mendiskusikan rencana bisnis baru kami sampai aku tertidur. Aku lupa memasang alarm"

Umma mendekatiku. Aku sedikit kagok, kuteguk sisa air mineralku sampai habis, berusaha terlihat setenang mungkin. Kini Umma sudah berada di sebelahku, aku memberanikan diri menatapnya.

"Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu?"

Aku menggeleng pelan. Maafkan aku Umma, aku belum siap mengecewakanmu untuk kedua kalinya. Aku berusaha menahan air mataku yang sudah hampir tumpah. Kadang aku menyesali semua yang terjadi, tapi perasaan selalu punya aturannya sendiri kan? Ini di luar kendaliku.

"Tanggal 15 malam nanti kosongkan jadwalmu dan Taeyeon, kita belima akan makan malam di luar. Sudah lama kita tidak makan bersama"

"Ne Umma"

Umma meninggalkanku dengan raut wajah penuh tanda tanya. Aku menyandarkan punggungku di tembok, merasa sangat bersalah sudah membohongi Umma.

To be continued

togetHERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang