Chapter 05.

5.3K 629 35
                                        

Jungkook ayo ke kantin.

Jungkook antar aku ke perpustakaan.

Jungkook ayo bermain bola.

Jungkook ajari aku gerakan itu!

Jungkook ajari aku bernyayi sebaik ini.

Jungkook kenapa baru datang?

Kau suka minuman apa?

Bagaimana dengan makanan?

Oh, waktu itu kau makan es krim rasa Vanilla.

Genap sebulan Jungkook muak mendengar namanya disebutkan. Terutama oleh Taehyung, semenjak mereka bertemu di taman bermain malam itu, Kim Taehyung selalu mengikutinya kemanapun.

Bahkan ke toilet sekalipun Taehyung ingin, kalau Jungkook tidak mengeluh kesetanan. Sementara Jimin?

Dia hanya menjadi penonton setia, yang kadang-kadang ikut tertawa.

"Kau kenapa?" Yoongi menatap penuh tanya, wajah Jungkook yang terlihat sangat 'kusut.' Dia tahu rata-rata wajah para pelajar memang begitu saat jam pulang sekolah, tapi ini tidak biasanya terjadi pada Jungkook.

Anak itu tidak mengeluh, tidak gembira, bahkan tidak protes. Semuanya hanya dijalani begitu saja. Makanya Yoongi jadi heran.

"Aish ... Jangan tanya! Aku lelah hari ini"

Kali ini benar-benar raganya yang lelah. Tidak seperti biasa, ini pertamakalinya Jungkook terlihat lebih 'berwarna'

"Kim Taehyung itu memang sedikit melelahkan" gumam Jungkook di samping Yoongi.
Dia menyender sepenuhnya pada jok mobil.

"Memangnya apa yang kalian lakukan?"

"Main bola dibawah panas terik, memecahkan jendela kaca, sampai mendapat hukuman di toilet. Dia mengikutiku terus"

Yoongi tertawa tapi tak sampai terbahak. Baru kali ini Jungkook bercerita tentang teman-temannya, dengan menggebu-bebu, pula.
"Kau terlihat senang"

Jungkook menegakkan punggung dan menatap jengkel kakaknya. "Tidak. aku tidak senang, sama sekali tidak."
dan dia berdecak di ujung kaliamat. Lebih tepatnya merutuki diri sendiri, awalnya 'kan dia yang memerintahkan Yoongi untuk tidak bertanya. Tapi sekarang malah dia yang bercerita.

"Berarti kau marah?"

Jungkook diam. Yoongi juga.
Yoongi menyumpahi dirinya yang terlalu pintar membuat suasana hening.

Jelas Yoongi tahu, Jungkook tengah berpikir untuk menjawab pertanyaan sederhana. Masalahnya anak itu tidak pernah tahu bagaimana marah pada teman, atau bersenang-senang dengan teman. Singkatnya Jungkook tidak menaruh minat.

Mungkin, bagi oranglain sekedar berkenalan dengan orang baru adalah salah satu hal termudah di dunia. Tetapi bagi seorang korban bullyan seperti Jungkook, sekedar mengucap 'hai' belum sah, kalau belum mengeluarkan keringat dingin.

Jungkook tidak pernah memberitahu Yoongi, sampai suatu hari dia mengaku setelah Yoongi memaksa mengatakan alasan tentang memar di perutnya yang terekspos tanpa sengaja saat tidur.

AWKWARDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang