Chapter 13.

5.4K 537 56
                                        

Mungkin pilihannya adalah bentuk kekecewaan, atau sekedar pelampiasan sesaat. Tidak ada yang tahu maksudnya, termasuk si pembuat keputusan; Jungkook sendiri.

Ia pikir pergi ke luar negeri memang pilihan terbaik, memulai semuanya dari awal, hidup dalam peraturan dengan kemampuan bersosialisasi rendah, seperti yang pernah Ia lakukan. Rasanya pasti tidak terlalu menyenangkan, setidaknya ada suatu malam yang dingin dan membuatnya berpikir betapa menyedihkan hari itu.

Jungkook memutuskan untuk melanjutkan studinya ke Paris, dengan mengikuti program beasiswa yang berbeda dari sebelumnya, menentang kemauan sang ayah untuk pertama kalinya.

Bahkan Jungkook tidak mengucapkan salam perpisahan dengan semestinya, Jungkook benar-benar tidak ingin bergantung lagi dengan siapapun. Lebih tepatnya berusaha mengupayakan semuanya sendiri, dan pastinya Ia manusia biasa yang suatu saat membutuhkan teman dan pertolongan.

Musim semi yang sedikit berbeda menurut Jungkook, Pemuda itu merencanakan banyak hal menyenangkan hari ini, salah satunya berjalan di tengah keramaian dengan aroma roti yang memenuhi penciumannya.

Tidak bisa dijelaskan tentang moodnya sore ini, kenyataan bahwa dirinya tidak baik-baik saja adalah fakta yang baru ditemukan.

Sudah dua hari Ia menetap di Paris, mengabaikan panggilan dari Seonha ataupun Yoongi. Dan sesekali membaca e-mail yang dikirim oleh Jimin atau Taehyung.

Beberapa isinya tidak begitu penting. Hanya tentang kutukan Jimin mengenai dirinya yang lebih memilih melakukan tes ulang daripada mengambil beasiswa ke Jepang. Namun di akhir kalimat Jimin selalu berpesan agar Jungkook baik-baik saja dan bersyukur; Jungkook bisa mendapat apa yang diinginkan.

Sedangkan Taehyung, daripada protes tentang Jungkook yang pergi tanpa pamit. Teman konyolnya satu itu lebih memilih untuk berceloteh tantang hari yang Ia lalui sebagai calon mahasiswa di Seoul.

Dari sekian kekacauan yang Ia lakukan, Jungkook lebih memilih sang Ayah sebagai seseorang yang selalu Ia pikirkan belakangan ini.

Jungkook masih mengingat dengan jelas, bagaimana Ayahnya menatap dengan tatapan sendu saat dirinya lebih memilih tinggal di asrama yang disediakan Universitas daripada menerima fasilitas yang diberikan pada perdebatan terakhir mereka sebelum insiden kue kering.

Apakah ayahnya menanggung banyak penyesalan, selama ini. Atau ayahnya juga terlalu merasa canggung untuk minta maaf, Jungkook tidak tahu. Tujuannya saat ini, hanya menghindar sementara dari bayangan masa lalu yang menyebalkan dan menyesakkan ketika dicari letak kerusakannya.

Menghindar seperti biasa dengan tujuan untuk menghadapi dengan kesiapan yang matang, Jungkook menggunakan haknya untuk menolak rasa sakit lebih lama lagi.

Banyak yang terjadi, dan belum bisa Ia terima dengan baik. Termasuk jiwa kekanak-kanakan yang dimilikinya, hal yang salah dan seharusnya tidak menjadi masalah,

Perasaan bersalah yang terus tumbuh bersamanya dengan waktu yang cukup lama. Tumbuh di lingkungan yang kurang menyenangkan, dengan banyak orang brengsek yang mengaku sebagai teman, atau dilepaskan saat dirinya masih sangat membutuhkan bimbingan.

Terlepas dari semua itu, Jungkook lebih merasa menyesal telah menyia-nyiakan waktu dalam keresahan tanpa seorang teman. Bahkan sampai saat ini dia hanya punya Jimin dan Taehyung.

Tetapi bukan itu yang membuatnya memeluk lutut dengan ketakutan, serta menangisi dirinya seperti sekarang.

Alasannya cukup sederhana, Jungkook hanya menyesal telah hidup dengan cukup kesia-siaan hingga berakhir dalam keadaan mental yang kurang baik.

Secarik kertas yang sudah lusuh oleh rematan, cukup membuat Jungkook sadar bahwa mencintai hidup adalah hal terpenting dalam hidup, selain makanan dan oksigen.

AWKWARDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang