Chapter 09.

4.7K 621 47
                                        

Kenapa kaca bisa pecah, padahal aku menyukainya.





Pagi ini Yoongi terlihat berbeda, terlihat jelas dari rautnya ada kegusaran di sana. Setelah beberapa saat terbangun, mendengus kemudian tidur kembali.

Jika biasanya dia bicara, walaupun satu kata untuk memancing pembicaraan, atau lebih tepatnya perdebatan dengan Jungkook. kali ini dia tidak bersuara sama sekali.

Yoongi tidur dalam mood buruk sampai Ia bangun. Beruntung hari ini akhir pekan dan kebetulan tidak ada jam kuliah, setidaknya ada keadaan yang mengerti dirinya.

Semalam Yoongi baru tidur setelah memastikan Jungkook dalam keadan baik dan tidur nyenyak, jadi pagi ini Ia hanya tidur bahkan jam sudah menunjukkan angka delapan.

Pagi yang tenang dan nyaman, keadaan itu bukan Jungkook saja yang menyukainya. Yoongi juga, bahkan Ia lebih sering mengerjakan sesuatu saat tengah malam saat semua orang sudah mulai nyenyak dalam tidurnya, kecuali Jungkook; Yoongi ragu.

Tapi Yoongi harus kembali terbangun saat mendengar suara barang pecah.

Dengan enggan dan perasaan mau tak mau, Yoongi bangun dengan sejuta sumpah yang dilontarkannya sambil menuruni anak tangga, jika itu maling; dengan senang hati Ia akan menghajarnya.

Gerutuan Yoongi berhenti saat menangkap seluet Jungkook yang tengah mengumpulkan pecahan gelas kaca di lantai dapur.

"Sedang apa?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.

Jungkook menoleh, dan sayangnya pecahan kaca yang Ia pengang malah menyayat jari telunjuknya. "Assh ..."

Yoongi bergegas menghampiri, dan menarik tangan Jungkook yang masih mengeluarkan darah, lalu tanpa ragu memasukkan jari itu ke dalam mulutnya berusaha menghentikan pendarahan.

Jungkook masih meringis setelah Yoongi beranjak memuntahkan darah dalam mulutnya ke washtafel.

"Basuh lukamu sebelum diobati" ucap Yoongi, bermaksud meminta Jungkook untuk menempatkan tangan dibawah aliran air.

"Tidak mau, itu akan sangat perih" tolak Jungkook.

"Umurmu berapa sih! Perih sedikit tidak mau, bahkan jarum suntik saja takut!"

"Hyung mencampur air liurmu dengan darahku!"

"Kau takut darah bocah!"

Tanpa basa basi Yoongi menarik tangan Jungkook dan membasuhnya tanpa persetujuan si pemilik tangan.

"Hyuung ..." tangan Jungkook yang tidak terluka beralih meremas tangan Yoongi saat rasa perih menjalar di jari telunjuknya.

"Selesai, dan tidak perlu menangis" ejek Yoongi saat melihat mata Jungkook yang berair, dasar cengeng.

"Aku tidak menangis!"

Soal Yoongi yang mengatainya takut jarum suntik itu tidak benar, tepatnya Jungkook takut ketika benda kecil itu menusuk kulitnya. Luka yang disengaja itu lebih menakutkan, Jungkook akan melakukannya kalau memang sekarat, ya apa boleh buat. Tapi untuk sekedar demam dan dipasang infus, big no!

"Tunggu di sini" ucap Yoongi sebelum beranjak menuju kotak P3K  yang selalu terpatri di dinding sudut dapur.

Jungkook menurut dan duduk dengan manis di anak tangga tempat dimana Yoongi menyeretnya tadi.
"Dia bahkan belum gosok gigi"

"Kenapa bisa pecah, begitu?"

Yoongi menunjuk pecahan gelas di lantai, saat Ia mulai mengobati tangan Jungkook.

AWKWARDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang