"Sendirian aja neng?"
"Astagfirullah." Zahra mengusap dadanya karena terkejut lalu ia menoleh dan melihat Ali yang sudah menampilkan senyum tanpa dosanya.
"Kaget ya?" Tanya Ali dengan bodohnya.
"Menurut anda? Tanya Zahra sinis.
"Kamu nggak pantes Ra."
"Eh? Zahra tidak mengerti maksud dari ucapan Ali.
"Kamu nggak pantes kalau sinis gitu. Udah dari sononya lemah lembut. Jangan di sinis-sinisin lah,gak cocok."
"Abang ngomong apa sih." Ali tertawa mendengar ucapan Zahra.
"Tunggu-tunggu." Ucap Zahra saat menyadari sesuatu. Dan Ali langsung menghentikan tawanya.
"Kenapa?"
"Sejak kapan Abang ngomong aku-kamu?" Tanya Zahra. Sementara Ali mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aneh ya?" Tanya Ali.
"Enggak sih aku malah suka kalau pake aku-kamu. Soalnya kalau lo gue itu..."
"Oke, mulai sekarang kita aku-kamu'an." Potong Ali yang membuat Zahra menggelengkan kepalanya.
❄❄❄
"Ini gila!!" Ucap Vania keras yang membuat Zahra tersentak.
"Maksud lo apa sih?" Tanya Zahra tak mengerti.
"Lo nggak ngerti?? Heloo... Zahra..harusnya lo sadar!! Kalau Bang Ali itu lagi usaha buat deketin elo.
"Kita cuma temen." Jawab Zahra sementara Vania mendesah keras.
"Oke mungkin lo anggepnya cuma temen. Tapi Ali?? Lo nggak pernah tahu kan seperti apa perasaannya? Dan gue pikir. Dia lagi ngincer lo buat jadi targetnya.
"Gue nggak ngerti deh. Lo ngomong rancau banget. Dan target?? Emang target apa sih?" Tanya Zahra sembari menarik kursinya agar lebih dekat dengan Vania dan mencoba memfokuskan pikirannya agar ia bisa mencerna Vania dengan baik.
"Gini nih kalau lo terlalu polos. Lugu dan polos itu baik, tapi please jangan keterlaluan oke?"
"Gue nggak ngerti." Sahut Zahra.
"Udah gue bilang berapa kali ke elo kalau Bang Ali itu playboy??" Tanya Vania yang membuat Zahra memutar bola matanya malas.
Baginya masa bodoh dengan status Ali yang playboy. Tujuannya dengan Ali hanyalah berteman. Tidak lebih. Toh mereka juga berteman sesama anggota ORI dan saling mengingatkan agar lebih dekat kepadaNya. Siapa tahu saja dengan begitu Ali bisa sadar dan merubah sifatnya agar tidak lagi mempermainkan perasaan perempuan. Dan poin pentingnya adalah Zahra tidak akan membiarkan dirinya menjadi target seperti apa yang dikatakan Vania.
"Van..gini...gue sama Bang Ali memang deket. Tapi kita hanya teman. Lo tau gue kan? Gue gak mau pacaran atau semacamnya sebelum gue menikah. Dan pacar gue satu-satunya nanti adalah suami gue." Ucap Zahra mencoba menjelaskan.
"Oke fine. Gue paham elo. Gue tau elo. Dan gue juga percaya kalau elo bisa jaga hati. Tapi lo tau nggak sih kalau gue sebagai sahabat itu khawatir sama lo? Gue cuma gak mau aja, setelah lo terjerat pesona Bang Ali lalu dia dengan seenaknya nyakitin lo. Mungkin dengan mudah lo bilang "gue gak suka sama Bang Ali, dan kita cuma temenan." Tapi hati lo? Siapa yang tahu? Terlebih soal perasaan. Perasaan itu nggak bisa konsisten Ra, dia bisa berubah kapan aja. Dan lo juga nggak bakalan bisa mencegah itu." Jelas Vania panjang lebar.
Zahra berdiri dari duduknya. Ia berjalan mendekati Vania lalu memeluknya.
"Makasih Van. Gue beruntung banget punya sahabat kayak elo. Yang sayang banget sama gue, yang pengertian banget sama gue. Makasih banyak ya Van." Ucap Zahra sembari memeluk Vania.
Vania pun nembalas pelukan Zahra. "Gue cuma gak mau lihat sahabat gue tersakiti." Ucap Vania dalam pelukannya.
"Percaya sama aku insyaaAllah aku baik-baik aja."
✴✴✴
"Gimana hubungan lo sama Zahra lancar?" Tanya Adnan sahabatnya.
"Udah sikat aja kelamaan lo, biasanya langsung diembat juga nunggu apa lagi sih." Ucap Reno.
"Dengerin ya! Ada orang yang ngomong sama gue. Katanya jodoh itu nggak akan kemana. Jika dia jauh biarkan, anggep itu bentuk ujian dari Allah. Kalau dia jodoh kita sejauh apapun dia, sesulit apapun rintangannya. Tapi dengan mudah Allah akan menyatukan kita. Beda lagi kalau dia bukan jodoh kita. Sedeket apapun kita, selama apapun hubungan kita, sesayang apapun kita. Kalau dia bukan jodoh ya dengan mudah juga Allah akan memisahkan kita."
"Reno dan Adnan terdiam mendengar penuturan sahabatnya. Semua yang diucapkan Ali memang benar. Lalu sesaat kemudian otak mereka mulai berfikir.
"Lo nggak lagi sakit kan? Kenapa lo jadi bijak bener kayak mario teguh." Ucap Reno yang membuat Ali berdecak.
"Gue diem salah, gak diem salah. Bijak salah gak bijak salah. Playboy salah dan sekarang gue mau tobat apa salah?" Keluhnya.
"Tobat?? Maksud lo?" Tanya kedua sahabatnya.
"Kesambet setan apa ni anak" Ucap Reno terheran-heran.
"Gue capek. Gonta-ganti pacar sana-sini. Mantan ada di mana-mana. Dan dicap playboy. Emang sih. Gue ngaku kalau gue playboy. Tapi sekarang gue sadar kalau pacaran itu gak ada gunanya. Boleh nggak sih gue egois? Kalau suatu saat gue pengen punya istri yang nggak punya mantan. Seenggaknya gue usaha buat nggak cari mantan lagi. Gue pengen serius sekarang. Dan satu lagi gue pengen usaha supaya lebih dekat sama Allah. Gue juga sadar selama ini gue jauh banget sama Allah. Maka dari itu daripada gue deket sana-sini sama cewek yang nggak jelas dan belum tentu jadi jodoh gue. Lebih baik gue deket sama Allah." Jelas Ali yang membuat dua Sahabatnya melongo. Lalu sesaat kemudian mereka menepuk bahu Ali.
"Kita dukung hijrah lo."
♨♨♨
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Debar Aku Belajar (Revisi)
SpiritualMungkin sekarang kita ditakdirkan untuk menjadi teman. Dan akan selalu seperti itu. Tapi Allah maha membolak balikan hati manusia. Hatimu, perasaanmu, masa depanmu siapa yang tahu? Hanya Dialah yang Maha Mengetahui. Karena aku tahu perasaan tidak bi...
