Aroma 8: Penolakan Coffee Tasting

24 0 0
                                        

AKU mengendus. Tidak tercium aroma kopi dari tubuh Vendra. Hari ini ia sengaja memakai banyak parfum agar aroma kopi tidak tercium olehku. Ia mengajakku pergi ke toko buku untuk membeli perlengkapan gambarnya yang sudah mulai habis. Aku memilihkannya sketchbooks dengan kover tipografi. Aku suka ketika ia membuat tipografi dari beragam tema. Karakternya selalu berbeda dan goresan dari drawingpen-nya selalu rapih.

Aku mengerti Vendra mengajakku keluar rumah. Ia ingin membuat pikiranku sedikit lebih segar. Biasanya ia selalu membuatkanku kopi untuk mengatasi masalah, tetapi kali ini kasusnya berbeda. Ia memilih cara lain. Aku akui, kau tidak pernah kehabisan akal.

Honda CBR 150R dihentikan suara mesinnya dan kami tiba di depan rumah. Aku menegakkan pundak. Seketika aku tertuju pada pintu rumah yang terbuka.

"Kau tidak mengunci pintu?" Tanyaku sedikit panik. Memastikan rumah tidak dibobol maling. Aku akan siap mencari pentungan jika tiba-tiba Vendra panik ketika melihat pintu rumah kami terbuka. Namun, tidak ada reaksi apa pun dari Vendra meskipun matanya sudah melihat ke arah pintu rumah.

"Ada malaikat yang menjaganya," ujarnya sambil tersenyum kecil. Aku mengikuti senyumnya. Memang kau pandai bercanda di saat-saat orang merasa genting.

Aku langsung tertuju pada lilin yang menyala di atas sebuah cangkir ketika memasuki rumah. Cantik, sungguh cangkir yang cantik dengan desain batik berwarna hitam dan dilengkapi tatakan yang senada. Aku belum pernah melihat cangkir seperti itu sebelumnya.

Aku mencium aroma kopi yang berasal dari asap lilin itu. Aku mendekatinya, ternyata cangkir itu berisi biji-biji kopi dan lilinnya tertanam di dalamnya. Semakin aku mendekatinya, aroma itu semakin tajam. Aku belum merasa pusing.

"Kau meninggalkan rumah dengan lilin yang masih menyala?" Kataku ketika tersadar kami tidak di rumah pada beberapa jam lalu. Tidak lucu juga jika rumah kebakaran karena perkara lilin. Meskipun dimaksudkan sebagai hiasan tetapi tetap saja mengandung risiko besar. Apalagi rumah dalam keadaan kosong.

"Aku tidak tahu Grey membuat furniture baru untuk kita," katanya dengan bingung. Aku segera memalingkan pandanganku padanya. Grey? "Kemarin aku hanya memberi kunci rumah untuk meminta tolong mengambilkan aeropress, aku lupa memintanya, mungkin dia juga sama-sama lupa," lanjutnya. Aku mengangguk pelan dan mataku mulai menelusuri ruang tengah. Vendra masih dalam posisi semula.

"Kau tidak pusing?" Tanyanya lagi. Membuatku harus mengalihkan mataku padanya dan melupakan Grey yang aku tahu betul pasti di dalam. Aku diam. Mengerlingkan bola mataku untuk berpikir. Iya. Kenapa aku tidak merasakan apa-apa? Perutku sama sekali tidak menunjukkan reaksi menolak. Hidungku berasa biasa saja. Melihat Vendra menunggu jawabanku, aku segera menggeleng pasti.

Aku melihat sosok Grey yang sejurus memutarkan posisi duduknya untuk lebih jelas melihat kami. Ia sedang memilih-milih biji kopi di meja bar rumahan kami. Tak ada suara. Ia masih menatapku bingung.

"Apa kau merasa pusing dengan aroma yang aku buat ini?" Tanyanya kemudian setelah melihatku tidak ada reaksi apa pun. Aku menggeleng. Aku melihat lilin yang sama di dekat bug tembok yang kosong. "Menurut beberapa ahli, cara ini merupakan salah satu terapi untuk menyegarkan otak. Sebelumnya aku ragu, takut penciumanmu menolak dan kau merasa pusing. Tapi ternyata tidak. Kau masih baik-baik saja," lanjutnya dengan senyum yang merekah.

Vendra mulai sibuk untuk meracik kopi sedangkan Grey kembali memilah-milah biji kopi.

"Aku tidak berpikir sampai situ. Terasa berbeda aroma ruangannya," kata Vendra sambil menuangkan air hangat dari catle ke tabung french press.

Monolog KopiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang