AKU tak pernah berpikir bahwa kaca ternyata penipu. Terkadang, melihat diriku berada di depan bayangan itu membuatku merasa begitu sempurna. Akulah yang paling hebat. Melenggok dan tersenyum pada bayangan sendiri. Kaca tidak pernah nyata. Hidup dan takdirlah sebuah kenyataan.
"Aku tidak puas berkaca jika ukurannya kecil," kataku ketika Vendra menyuruhku untuk mengganti ukurannya yang lebih kecil atau menutupnya dengan hordeng. Permintaan itu sudah terucap dari mulutnya berkali-kali, tetapi aku masih belum juga melakukan apa-apa.
"Kaca hanya akan membuatmu berkata kau paling hebat. Berbeda jika kau tidak pernah melihat dirimu tetapi kau selalu bersyukur dengan kehidupanmu," ujar Vendra dengan sedikit menaikkan nada bicaranya.
Lagi-lagi kehidupan. Jika sudah berbicara mengenai kehidupan membuat aku harus meneguk bercangkir-cangkir kopi. Menghaluskan perasaan agar mata hatiku kembali melihat bagaimana kehidupan. Aku tak pernah salah bertemu Vendra. Mengenalnya karena kopi. Kopi mengenalkanku pada kehidupan. Kesadaran itu muncul karena mengenalmu dan kopi, Ve.
Aku lekat mengamati sahabatku itu dari ruang depan. Ia selalu berada di teras setiap senja tiba. Ia masih mendekatkan hidungnya pada secangkir kopi untuk menunggu empat menit setelah penyeduhan.
Vendra selalu bilang, bahwa kesalahan menikmati kopi ialah ketika brand menjadi pilihan, bukan rasa. Ia memang tidak akan pernah main-main soal kopi. Baginya bukan perkara ngopi dengan siapa, tetapi perkara ngopi di mana. Bisa saja ia memperkarakan hal seperti itu.
Ia tak pernah salah memilih kafe untuk menikmati kopi. Selalu selektif dengan kedai-kedai baru. Menyusuri setiap ruangan kedai yang dikunjungi. Meneliti setiap kopi-kopi yang disediakan. Terkadang kau juga menanyakan di mana penyangraian biji kopinya, karena proses roasting dan grinding secara langsung, membuat kopi terasa lebih nikmat.
Aku mengingat obrolan kami dulu ketika Jakarta Coffee House (JCH) sebagai kedai kunjungan rutin kami setiap Sabtu. Katanya, JCH tempat yang tepat untuk menikmati kopi dengan benar karena menyediakan kopi nusantara. Si Petung merupakan kopi yang diambil dari tanah Jawa Barat dan hanya ada di JCH. Kedai kopi yang berada di jalan Cipete Raya itu juga memiliki mesin roasting. Pengunjung dapat langsung melihatnya ketika membuka pintu kedai. Hal ini, pertanda kedai memiliki alat pemasakan sendiri. Mereka akan me-roasting kopi-kopi yang memang dibutuhkan dalam waktu dekat, sehingga karakter rasa kopi lebih kuat ketika diseduh. Di situlah kopi dapat dikatakan memiliki kenikmatan yang sempurna.
Meskipun JCH menjadi kedai favoritnya, tetapi ia tidak pernah berhenti meng-eksplore pencicipan kopi di kedai lain yang tersebar di Jakarta. Di JCH itu, aku mengingat bagaimana mengenalnya. Bagaimana aku disadarkan olehnya mengenai kehidupan yang ia ibaratkan dengan secangkir kopi. Aku ingat betul pendapatmu tentang kopi dan kehidupan yang ia sampaikan .padaku saat kami menikmati kopi di sana.
"Apa kau pernah merasa kurang puas dengan apa yang sudah kau dapatkan sekarang?" Tanyanya waktu itu.
"Pernah," kataku sambil menggeser cangkir kopiku lebih dekat. Aromanya makin tercium.
"Aku ingin mengibaratkan, Har," ia berhenti sejenak, "Aku punya banyak variasi cangkir. Mulai dari yang polos hingga gambar-gambar menarik. Jika aku menawarimu kopi dan kau bebas memilih cangkir sendiri. Kau pilih cangkir yang seperti apa, Har?" Ia mengangkat cangkir dan menyeruput lagi.
"Pasti aku akan memilih cangkir yang aku suka Ve. Dengan bentuk cangkir yang unik dan gambar menarik,"
Ia tersenyum. Selalu membuatku bertanya-tanya. Matanya tertuju padaku. Tepat di depanku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Monolog Kopi
Fiction généraleSINOPSIS "Kopi itu Candu yang Bikin Rindu" Permasalahan hidup perlu diimbangi dengan kontrol yang baik, jika tidak, dapat dipastikan rasa pada seluruh indra akan mati, tak dipungkiri pula dengan perasaan. Padahal, pengindraan itu merupakan media uta...
