Bab 24 - Peringatan Ke 2

22.2K 1.8K 22
                                        

   Malika Dan Rere sudah sampai di rumah Arthur, kini keduanya sedang duduk santai di teras rumah bersama dengan Mbok Salmi. Berbagai macam kue kering dihidangkan Mbok Salmi untuk menemani mereka bercengkrama. Matahari yang terlihat malu-malu di balik awan membuat suasana menjadi tambah menyenangkan.

   “Jadi besok kita harus ke rumah sakit buat cek kandungan Mbak,” ujar Malika antusias sambil mengelus perut buncit milik Rere.

   “Malika, bisa tidak kalau aku di sini tidak menumpang secara gratis. Maksudnya aku di sini bekerja sebagai pembantu saja bantu-bantu Mbok Salmi,” pinta Rere serius.

   “Mbak kok ngomongnya gitu sih,” Malika merasa tidak setuju dengan permintaan Rere tersebut.

   “Malika sayang, gak mungkin kan aku numpang di sini terus. Belum lagi, aku harus melahirkan, aku gak ingin menyusahkan kamu sama calon suami kamu Malika,” jelas Rere.

   Mendengar perkataan Rere itu, Malika menjadi berpikir apa yang dikatakan Rere itu memang benar, dan entah kenapa dia juga berpikir untuk harus mencari kerja dan tidak menyusahkan Arthur lebih lama. “Akan aku pikirkan, untuk sekarang Mbak jangan banyak pikiran dulu,” kata Malika akhirnya.

   “Mbok rasa Aden gak akan keberatan kok kalau harus membiayai Non Rere dan calon anak Non,” Mbok Salmi angkat bicara sebelum tadinya hanya diam saja mendengar.

   “Iya saya paham Mbok, cuma saya tidak ingin merepotkan orang banyak,” Rere memberikan senyum manisnya kepada Mbok Salmi.

   “Jangan sungkan sama Mbok Non, jangan formal gitu bicaranya,” komentar Mbok Salmi.

   “Beuh! Mbok Salmi tahu juga ya soal formal-formalan,” Malika terkekeh geli di ujung perkatannya.

   “Wah iya dong, Mbok ini walaupun udah tua harus tetep gehol dong,” ucap Mbok Salmi dengan pedenya menggunakan bahasa gaul anak muda sekarang, sontak saja Rere dan Malika tertawa terpingkal-pingkal.

   Sementara itu Arthur masih berada di kantornya, dia sibuk memeriksa berkas tentang kasus pembunuhan anak-anak di bawah umur yang ditanganinya. Kali ini Arthur akan kembali bergerak bersama anggota team A yang akan dipimpin oleh dirinya langsung.

   “Jangan terlalu serius lah, makan dulu baru kerja lagi,” kata Bima yang masuk dengan santainya menghampiri Arthur, Bima hanya geleng-geleng kepala saja melihat kotak makan yang sama seklai tidak disentuh oleh Arthur.

   “Jangan cerewet deh Bim, lebih baik kamu bantu aku periksa berkas-berkas ini,” cibir Arthur kepada Bian yang duduk di hadapannya.

   “Tentang kasus pembunuhan anak di bawah umur itu?” tanya Bima saat melihat foto-foto yang bertebaran di atas meja kerja Arthur.

   “Iya itu barang-barang yang dipakai sebelum korban tewas,” jelas Arthur tanpa diminta oleh Bima.

   “Tapi, menurutku kamu harus hati-hati dengan kasus ini. Karena koorbannya bukanlah anak-anak biasa, mereka anak para konglomerat Indonesia,” ucap Bima serius.

   “Maksudmu?” tanya Arthur yang tidak paham.

   “Jika kita tidak memenangkan kasus ini, firma hukum ini bisa ditutup dengan mudahnya oleh para orang tua korban,” jelas Bima dengan ekspresi wajahnya yang sedikit menegang, mungkin dia juga membayangankan hal ngeri itu di dalam benaknya.

   “Untuk itu kita harus bekerja dengan ekstra, mulai besok aku akan mendampingi para orang tua korban untuk memeriksa kelanjutan kasus anak mereka,” Arthur kembali memandangi berkas di tangannya itu.

   “Pembunuhnya masih belum dapat teridentifikasi ya, agak mencurigakan kasus ini karena anak konglomerat ini pasti dijaga ketat oleh orang tuanya, motifnya apa?” analisa Bima, jarinya mengusap-usap daerah dagunya dengan dahi berkerut.

Stay With MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang