Bab 60 - Bersatu Kembali

50K 1.7K 68
                                        

Bagian Enam Puluh

Kondisi rumah yang ditiinggali Lukas telah dalam enjagaan ketat pihak berwajib, bukannya Arthur yang mengetuk pintu rumah tetapi tiba-tiba rencana berubah menjadi Agung yang mengetuk pintu. Sementara itu yang lainnya sedikit menjauh, hal ini dilakukan agar Lukas tidak dapat melukai Malika jika dia melihat yang datang adalah Arthur bersama para polisi.

Tok! Tok! Tok!

"Wendy!" teriak Agung sengaja memanggil Wendy, walaupun sebenarnya bibirnya terasa berat mengucapkan nama temannya yang sudah meninggal mengenaskan itu.

Dari dalam rumah, Lukas yang mendengarnya buru-buru meletakkan peralatan P3K yang sedang dipegangnya untuk mengobati luka di kepalanya. "Wendy!" sekali lagi suara Agung terdengar memanggil dan itu membuat kepala Lukas bertambah berdenyut sakit.

Lukas berjalan membuka pintu rumah tanpa merasa curiga sedikit pun, pikirannya sedang kacau sehingga tidak bersikap waspada. Saat pintu rumah terbuka terlihat Agung berdiri di depan pintu rumah dengan wajahnya yang datar dan kaku. "Wendy ...."

Buk!

Belum selesai lagi Lukas mengucapkan kalimatnya, Agung memberinya pukulan memetaikan sehingga membuat Lukas sempoyongan. Kondisi itu dipergunakan Jeremy untuk mendekat dan memborgol tangan Lukas secepat mungkin. "Apa-apaan ini!" teriak Lukas yang sudah mulai sabar dari rasa pusing dan sempoyongannya.

"Kamu pikir ini apa?" ucap Arthur muncul di hadapan Lukas dengan wajahnya yang penuh amarah. Begitu juga dengan Bima menatap jijik ke arah bajingan bernama Lukas itu.

"Lukas Anda ditangkap karena telah menghilangkan nyawa seseorang dan melakukan penculikkan terhadap saudari Malika," ujar Jeremy kepada Lukas yang bergerak-gerak berusaha untuk melepaskan diri dan kabur.

"Aku tidak membunuh dan menculik siapa pun!" elak Lukas yang sebenarnya sudah lemas karena kehilangan banyak darah.

Arthur menatap Lukas sinis sambil melewati Lukas masuk ke dalam rumah. Dia mencari keberadaan Malika di dalam rumah. Malika yang mendengar suara rebut-ribut di depan berusaha membuat suara-suara dengan gerakan kursinya sambil berusaha teriak dengan kondisi mulut yang tertutup lakban.

"Malika!" teriak Arthur di dalam rumah mencari Malika, seluruh ruangan di dalam sana di periksanya. Hanya ada satu ruangan yang belum diperiksanya untuk memastikan keberadaan Malika di sana.

"Hmmm!" teriak Malika saat mendengar suara orang yang sangat dikenalnya, suara suami tercintanya yang sudah lama tidak bertemu.

"Malika!" seru Arthur saat dia menemukan Malika dalam kondisi terikat di dalam ruangan yang penuh dengan foto Malika. Keadaan Malika sungguh menohok jantung Arthur, mata yang sayu dan bengkak, pipi yang penuh bekas air mata, rambut yang lepek dan belum lagi luka-luka lecetyang di dapat Malika.

"Sabar sayang aku akan membawa kamu keluar dari sini," Arthur buru-buru melepaskan lakban Malika dan langsung beralih membuka semua simpul ikatan yang ada pada tubuh Malika.

"Syukurlah kamu datang," kata Malika pelan dan lemah, lalu setelahnya Malika jatuh pingsan di dalam pelukkan Arthur.

Arthur langsung membawa Malika yang pingsan ke luar, mobil ambulance sudah menunggu dan langsung sigap membawa Malika ke rumah sakit. "Arthur kamu harus obati luka-luka kamu!" teriak Bima yang melihat Arthur masuk ke dalam mobil ambulance bersama Malika.

Luka-luka yang diterima tidaklah parah, hanya saja Malika mengalami dehidrasi yang luar biasa. Sehingga harus dirawat beberapa hari di rumah sakit, sedangkan Arthur sendiri sudah mendapat penanganan untuk luka-lukanya. Dokter hanya baru bisa memprediksi kondisi fisik Malika dan belum bisa memberikan laporan tentang kondisi psikis Malika.

Stay With MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang