Lights Out

1.3K 99 5
                                        


Playlist for this chapter :

EXO - Lights Out

-❤️-

Bukan hal yang baru untuk Mingyu ketika melihat dua cangkir cokelat hangat tersaji di ruang tengah. Perapian tampak menyala pelan, disertai padamnya lampu yang berada di seisi rumah. Ketenangan menyergap Mingyu saat itu juga, membuat seluruh bebannya terangkat begitu saja.

Tak perlu Mingyu cari siapa pelaku dari seluruh kelakukan ini, karena tanpa di caripun, sosok itu akan muncul dari balik pintu kamar dengan senyuman manisnya. Pelukan hangat milik sosok itu akan membungkus raga Mingyu yang begitu lelah menghadapi hari-hari sulitnya. Elusan di kepala juga menjadi obat penenang bagi pemuda yang sebentar lagi akan menginjak usia 32 tahun itu.

Seperti hari ini, Mingyu pulang ke rumahnya dengan tampang lelah yang begitu kentara. Ia melonggarkan dasi yang melilit lehernya dan dengan segera memasuki rumah. Bau cokelat panas sudah tercium dari pintu, membuat Mingyu dengan segera melepas sepatu dan menggantinya dengan sendal rumah berbulu. Kaki panjangnya melangkah lebih dalam, dan menemukan seorang wanita tengah menatap kearah luar jendela, memunggungi Mingyu yang kini tersenyum senang mendapatkan pujaan hatinya telah berada disana.

Dengan lembut, Mingyu memeluk tubuh itu dan menariknya mendekat. Wanita itu cukup terkejut dan memukul pelan lengan Mingyu karena sudah mengagetkan dirinya. Sebuah kecupan mesra diterima Mingyu ketika wanita itu menoleh kearahnya, menunjukkan kedua bola mata yang membuat Mingyu terhipnotis karena keindahannya. Disana Mingyu bisa melihat pantulan dirinya, disertai dengan pengakuan cinta tersirat dari mata milik istrinya itu.

"Apa hari ini kau sangat lelah, sayang?" Suara lembut milik sang istri layaknya melodi mengalun ke gendang telinga Mingyu. Ia memejamkan matanya dan mengistirahatkan kepalanya di Curuk leher milik si wanita, membuatnya menerima sebuah belaian di pipi kanannya.

"Aku ada disini bersamamu, jangan di simpan sendiri"

Lagi, sebuah kenyamanan Mingyu terima tatkala kalimat sederhana itu kembali menyapa malam tenangnya sehabis siang beratnya. Ia mengeratkan pelukan di pinggang sang istri, dan berbisik lemah di telinganya.

"Aku sangat lelah, begitu lelah sampai ingin rasanya aku menenggelamkan diriku di tanah"

Kekehan pelan diterima Mingyu setelah ia mengutarakan keinginan terbesarnya hari ini. Bukan hal sepele yang dihadapi Mingyu tiap harinya, membuat ia berpikir untuk hidup dibawah tanah agar terhindar dari segala macam masalah di dunia. Tapi ia kembali berpikir, jika semuanya terasa berat ketika ia tidak bersama wanita di pelukannya ini. Beban yang sedari tadi menggelayut di tubuh Mingyu seketika sirna hanya karena melihat punggung sempit berbalut piyama sutera di ruang tengah. Punggung milik istrinya, Chou Tzuyu.

Tubuh Mingyu menjauh dari tubuh Tzuyu ketika wanita itu memutuskan untuk menghadap Mingyu secara langsung. Ia mengalungkan tangan kurusnya ke leher Mingyu, kemudian menempelkan kedua kening mereka hingga hanya ada jarak diantara hidung dan bibir mereka. Mata tajam Mingyu menatap penuh kasih kearah Tzuyu, tidak berubah sejak 7 tahun yang lalu saat mereka memutuskan untuk saling mengikat.

Senyuman hangat yang di perlihatkan Mingyu terjadi setelah bibir Tzuyu menyentuh bibir lawannya dengan sangat lembut, seolah-olah tengah mengecup gelas yang begitu rapuh. Kim Mingyu memang begitu kuat, namun ia akan melepas seluruh topeng kuatnya dihadapan istrinya. Ia akan menjadi sosok Mingyu yang akan mengeluh karena kehidupan diluar rumah yang membuatnya harus memikul beban yang lain. Hanya dirumah bersama Tzuyu lah yang membuat beban itu seperti hilang, di letakkan Mingyu didepan pintu untuk ia pikul di keesokan harinya.

Menjadi satu-satunya penerus perusahaan raksasa milik keluarga membuat Mingyu memiliki banyak sekali tanggung jawab. Selain itu, kedua orangtuanya seperti lepas tangan dan memilih untuk menyerahkan segalanya pada sang anak semata wayang mereka. Tidak memikirkan bagaimana kehidupan Mingyu yang tidak hanya berpusat pada perusahaan, melainkan pada keluarga kecilnya.

"Apa Ruru sudah tidur?"

"Sudah, ia tadi ingin menunggumu, tapi aku menyuruhnya untuk tidur cepat karena besok ia akan lomba di sekolahnya"

Satu lagi sosok istimewa Mingyu selain Tzuyu. Seorang anak lelaki berumur 6 tahun yang diberi nama Kim Ryujin atau kerap di sapa Ruru oleh Mingyu. Anak mereka yang selalu membuat onar ketika Mingyu tengah sibuk dengan seluruh pertemuan atasan hingga rasanya kepala pemuda Kim itu hampir pecah. Tapi hal itu tak membuat rasa sayang Mingyu pada Ryujin berkurang.

"Apa dia berbuat ulah lagi hari ini?" Tanya Mingyu dengan wajah bertanya disertai dengan pandangan menyelidik. Karena Mingyu tahu jika Tzuyu kerap kali menyembunyikan kesalahan anak mereka agar tidak menambah pikiran Mingyu.

Tapi hal itu selalu gagal karena Mingyu yang begitu pemaksa sehingga mau tidak mau, Tzuyu lebih memilih berkata jujur.

"Dia menangisi Lee Kyeo-yoon, anak Lee Seokmin yang kebetulan sekelas dengan Ruru. Bahkan Yu-na harus datang karena Kyeo tidak mau berhenti menangis"

Ya, kenakalan Ruru tidak jauh dari mengganggu anak perempuan Lee Seokmin dan Choi Yu-na, Lee Kyeo-yoon. Ia tidak pernah berkelahi, namun menangisi Kyeo adalah hobi untuk anak lelaki Mingyu. Padahal ia sudah sering menasehati Ruru agar tidak melakukan hal itu lagi.

"Tidak usah marah, aku sudah bilang pada Ruru untuk tidak melakukan hal itu lagi atau aku akan membuang seluruh boneka Pororo miliknya"

Senyuman cantik mengembang di bibir Tzuyu setelah berkata demikian. Masih bisa ia ingat bagaimana mata turunan Mingyu itu berkaca-kaca ketika ia marah, dan jangan lupakan rengekan manja yang ia pikir bisa meluluhkan hati ibunya.

Mingyu menghelah napas dan memeluk tubuh Tzuyu lebih erat lagi. Membuat wajah Tzuyu tenggelam di dada bidang suaminya. Kehangatan yang dirasakan Tzuyu membuatnya tanpa sedari memekik girang, meski suaranya tertutup karena dada Mingyu.

"Malam ini, aku mau tidur di pelukanmu" bisik Mingyu. Ia terkekeh geli ketika Tzuyu dengan malu-malu mengangguk dan melirik Mingyu dengan wajah memerah sempurna. Meski sudah 7 tahun bersama, belum lagi di tambah lamanya mereka menjadi kekasih, tak membuat rasa gugup dan malu itu hilang dari diri Tzuyu. Ia akan tetap menjadi sosok Tzuyu yang manis, pemalu serta memiliki sejuta kasih sayang untuk Mingyu dan juga untuk buah hati mereka.

Malam ini, kedua insan itu saling berbagi kehangatan. Membuat Mingyu melupakan segala bebannya sebagai pewaris tunggal perusahaan raksasa milik keluarganya. Sekarang, di tengah matinya seluruh lampu di kamarnya, ia hanya akan menjadi Kim Mingyu, suami dari Chou Tzuyu dan juga ayah dari putra tersayangnya, Kim Ryujin.

-❤️-

Janjinya mau tambah panjang di Chapter ini, tapi mentok idenya, mianhae :")

Oh iya, silahkan di play medianya, meski ngga terlalu nyambung, tapi intinya Tzuyu cuma mau Mingyu tenang dengan caranya sendiri *eak

Voment ditunggu~


P.S : Eh iya, itu ada alasannya kenapa aku stop sampe diatas, karena si kiming lagi kepikiran buatin(?) Ade baru untuk Ruru 🌝
*Berpikir keras*

Ice Cream  [ Tzuyu x Mingyu ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang