Pintu kamar terbuka, Rahayu tahu bahwa itu adalah suaminya. Ia bergeming, dengan posisi membelakangi pintu, ia berharap suaminya tak menyadari bahwa dirinya masih terbangun. Terdengar suara aktivitas suaminya di dalam kamar, kendati tidak melihatnya langsung, apa yang dilakukan suaminya terbayang jelas di dalam kepalanya. Bagaimana suaminya melepaskan jam tangan, melucuti pakaiannya, dan melangkah pelan ke kamar mandi dengan handuk di pundak. Ketika ia masuk ke dalam kamar mandi mungkin seluruh pakaiannya sudah ia lucuti terlebih dahulu, tinggal kaus kutang dan celana pendek favorit suaminya yang masih menempel.
Suara air bersimbah ruah dari dalam kamar mandi, rupanya suaminya mandi padahal biasanya jika ia pulang semalam ini paling hanya berakhir bersih-bersih kecil. Rahayu menoleh ke arah pintu kamar mandi yang sedikit terbuka, bayangan tubuh suaminya menari-nari di celah sempit. Ia bergegas kembali ke posisi awal ketika suaminya selesai dan hendak keluar dari kamar mandi, sekarang ia kembali mengandalkan kekuatan imajinasi untuk memetakan gerak-gerik suaminya.
Pintu lemari terbuka, di kepala Rahayu tergambar suaminya mulai berpakaian dengan tangan masih menggosok-gosokan handuk ke rambut tipisnya yang basah. Hening sejenak hingga ia tempat tidur di belakangnya bergoyang. Kini suaminya duduk tepat di belakangnya, luka lebam di wajahnya mendadak berdenyut lagi.
"Sudahlah, kita bercerai saja." Suaminya bersuara.
Jantung Rahayu berdebar kencang.
"Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, dan tidak akan pernah bisa memaafkan diriku jika aku melakukan itu lagi."
Dalam bayangan Rahayu suaminya kini tengah menatapnya dengan tatapan muram.
"Maafkan aku, ini adalah hal terburuk terakhir yang akan kulakukan padamu. Maka aku mohon, jangan buat semua ini semakin sulit." Suara suaminya terdengar rendah, setiap tarikan napasnya mengandung rasa lelah.
Rahayu memutar tubuhnya dan akhirnya berhadapan dengan suaminya, memang benar apa yang ia bayangakan, suaminya tengah memandangnya dengan tatapan muram. Kelopak matanya basah, andai saja itu adalah sisa air ketika suaminya mandi tadi Rahayu tidak akan terlalu memikirkannya. Sayangnya bukan.
"Aku tidak pernah membuat semua ini sulit, aku hanya belum siap melepaskan semuanya."
"Tidak akan pernah siap."
Rahayu menaikan tubuhnya lalu bersandar ke tembok, matanya menerawang jauh.
"Apa lagi yang kamu pertahankan, sudah tidak ada lagi yang dapat dipertahankan. Semuanya sudah lama berakhir, hadapilah kenyataan ini." Suara suaminya terdengar lembut tapi menyakitkan.
"Tidak ada yang terlambat, kita masih bisa mempertahankan keluarga kecil kita dengan apa yang tersisa."
"Apa yang tersisa?"
Rahayu hampir tidak bisa menjawab, tapi ia memaksakan dirinya untuk tidak hilang dalam percakapan penting ini.
"Aku, Ario, dan kamu."
Rahayu sangat berharap jawabannya memberikan sedikit harapan untuk masa depan mereka, namun suaminya tidak tergerak.
"Itu tidak cukup, bagaimana bisa membenarkan semua ini jika ada bagian yang hilang dan kita tahu bagian itu tidak akan bisa digantikan oleh apa pun. Arlene terlalu berharga untuk dapat digantikan dengan seisi dunia ini, kamu bisa mengambil hak asuh Ario. Aku tak akan menahan, dan semua yang kita punya ini bisa kita bagi dua. Aku pun akan jadi ayah yang baik untuk Ario, akan kubiayai semua keperluannya. Perpisahan kita tidak akan banyak membawa perubahan." Suaminya ikut bersandar di sisi Rahayu, kini mereka menatap ke arah yang sama. Arah kehancuran.
Keadaan yang Rahayu hadapi terasa lebih menyakitkan ketimbang luka di wajahnya atau pun dengan rasa sakit yang paling menyakitkan di dunia, ia ingin melawan tetapi ia tahu bahwa tidak ada jalan untuknya melakukan itu. ia sudah berada di tepi jurang, dengan sekali dorongan kecil tubuhnya akan terjun bebas hingga hancur berkeping-keping di dasarnya.
"Masih ingat ketika kita berdansa di klub setelah kali pertama kita bertemu? kamu terlihat tampan dengan jas abu-abumu,"
"Dan bodoh." Suaminya menyela pelan.
Rahayu tidak menghiraukannya, "aku benar-benar jatuh cinta padamu, aku tidak pernah merasa bahwa how deep is your love bisa terdengar begitu indah, lebih indah dari sebelumnya. Kemudian aku sadar itu karena aku mencintaimu."
Rahayu melirik mata suaminya, dan ketika suaminya membalas tatapannya justru membuat perasaannya bertambah buruk. "Sebelumnya aku tak pernah percaya pria mana pun yang pernah kutemui karena aku belum menemukan yang terbaik untukku, aku tidak mau menyerah ketika sudah menemukannya."
Cahaya bulan bersinar suram dari jendela yang tirainya dibiarkan terbuka membuat suasana kamar menjadi pengap, seperti berada di di dalam kotak televisi tua dari tahun lima puluhan. Dua orang yang ada di dalamnya kini tidak mengenal satu sama lain, mereka sudah hidup bersama selama puluhan tahun. Tidur di ranjang yang sama, makan di meja yang sama, dan tinggal di rumah yang sama. Mereka berusaha keras membangun masa depan setapak demi setapak dan kini mereka juga yang harus menyaksikan semuanya hancur, jalan setapak mereka kini putus di tengah jalan.
"Andai aku bisa mempertahankan semuanya, aku pasti akan melakukannya sekarang. Nyatanya aku tidak bisa, kalo saja kamu sedikit lebih berhati-hati pasti keadaan tidak seperti ini, dan Arlene pasti masih bersama kita sekarang. Putriku itu pasti sudah menjadi remaja yang cantik sekarang, dan bukannya terpuruk, aku justru harus bersiap-siap menghadang pemuda yang berani macam-macam dengan putriku." Kedua mata suaminya memancarkan kepedihan yang sudah mengendap selama bertahun-tahun dan hampir tidak bisa ia bendung lagi.
Seorang lelaki yang kuat menghadapi hidup yang terus menggerusnya kini harus menyerah oleh perasaan kehilangan yang membunuhnya hari demi hari.
"Setiap kali aku melihatmu, aku tidak bisa menghentikan bayangan itu. Bayangan tentang apa yang terjadi hari itu, bayangan akan senyum Arlene yang kini terenggut dariku."
"Kamu pikir aku tidak merasakan hal yang sama? Tidak ada satu hari pun kulalui tanpa penyesalan atas apa yang terjadi hari itu, aku memang ibu yang buruk tapi Arlene juga putriku. Aku yang melahirkannya dan merawatnya, aku pun masih tidak percaya bahwa akulah penyebab kematiannya. Aku sekarat, andai saja ada penebusan untuk apa yang telah kulakukan ini. Aku akan dengan senang hati melakukannya, apa pun itu."
Suara Rahayu tiba-tiba hilang.
"Tidakkah ada penebusan yang pantas untukku?" Rahayu melanjutkan dengan suara parau.
Pertanyaan itu tidak hanya ia tujukan untuk suaminya tapi juga untuk dirinya sendiri.
Suaminya menoleh, "inilah penebusan untukmu, biarkanlah semua ini hancur seperti seharusnya. Mungkin kita akan sama-sama menemukan kehidupan ke dua bersama orang lain."
Ia memberikan tatapan terakhir untuk Rahayu sebelum berbalik, melempar handuk dan tidur membelakangi Rahayu. Tatapan itu tidak akan pernah terlupakan oleh Rahayu, tatapan seseorang yang pasrah sebelum regu penembak melubangi dadanya dengan selusinan peluru.
"Baiklah, aku menyerah." Rahayu berbisik lalu ikut memalingkan tubuhnya.
Tidak satu pun di antaramereka yang tidur malam itu.
YOU ARE READING
Memento
Misterio / SuspensoHalo, Readers! Memento adalah cerita baru yang akan admin share ke kalian semuan di wattpad @kisahhorror, semoga kalian suka, dan kalo suka jangan lupa like, vote, comment, dan share ya. Sinopsis: Semenjak kematian adiknya, Arlene, Ario dan orang tu...
