Happy Reading!***
Rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya.
-Athaya-
Malam ini Dion sedang bermain dengan para angka. Sesekali ia mengerang frustasi, menjambak rambutnya, mengigit ibu jarinya hanya karena mencari jawaban X. Bukunya pun masih bersih belum ada goresan tinta atau pensil sama sekali. Yang ada kertas HVS disebelahnya sudah terisi penuh dengan angka dan gambar tidak jelas rupanya.
“Gue bisa gila kalo gini caranya.” Dion mengerang frustasi.
“Jodoh aja lagi nyari malah ditambah nyari X.”
Dion meletakkan penanya dengan kasar, ia menghela napas kasar sambil mengusap wajahnya “Mau tidur tapi belum dikerjain sama sekali, gak tidur gue ngantuk. Kalo gue ngerjain belum tentu besok Pak Iwan masuk, tapi kalo gak gue kerjain pas tidur kepikiran terus, apa ini yang namanya cinta?” Sepertinya Dion memang sudah gila karena tugas matematikanya.
Yaudah lah ya.
Kita tinggalkan saja Dion dengan dilema yang sedang dilandanya.
***
Di lain tempat, tepatnya dikediaman keluarga Adhayasta, Athaya sedang memakan cemilannya diatas sofa biru yang empuk dengan televisi yang menyala menayangkan dua bocah kembar botak yang sedang bermain bersama teman temannya. Meja dihadapannya penuh dengan berbagai cemilan dan sampahnya. Saat ini ia sedang diposisi paling enak sepanjang masa, berselonjor dengan kedua kaki dinaikkan keatas sofa, makanan yang memenuhi mulutnya dan berbagai ocehan yang keluar dari para tokoh di televisi. Kenyamanannya itu tidak berlangsung lama, sebab ada seseorang yang menjatuhkan kedua kakinya kelantai. Alhasil Athaya kaget dan berniat memarahi orang yang mengganggu posisi nyamannya tetapi niat itu ia urungkan ketika melihat wanita paruh baya yang sedang berdiri dihadapannya, ia melihat Athaya dengan tatapan menyelidik.
“Kenapa Bun?” Tanya Athaya. Ia melihat bundanya seperti sedang mencari sesuatu.
Disa menyipitkan matanya, “Remote Tv mana ya de?”
Tiba tiba Athaya terbatuk mendengar pertanyaan Bundanya, Disa segera mengambil air putih diatas meja dan memberikannya pada Athaya.
“Makan tuh mesti despacito Aya. Emang ada yang salah dengan remote Tv sampe-sampe kamu kaget dengernya?” Disa mengernyitkan dahinya.
Athaya meminum air putihnya,lalu meletakkan gelasnya kembali dimeja. “Bunda tau despacito darimana lagi?”
“Aissh ieu budak. Bunda nanya bukannya dijawab malah balik nanya.” Disa mengalihkan pandanganya kearah meja disampingnya.“Yaampun Aya! Kamu tuh budak awewe jangan jorok begini ih. Sampah berserakan diatas meja, makan nggak bener, posisi duduk aja nggak ada kesan feminimnya sama sek--.” Omel Disa.
“Iya Bun, nanti Aya rapihin, lagian sekarang kan Aya lagi dirumah nggak ada siapa-siapa juga paling keluarga kita aja, jadi nggak usah feminim feminim lah hehe. Bunda mau ngapain kesini?” Athaya memotong ucapan Bundanya.Sebab kalau Bunda sudah mengomel, itu akan panjaaaaang. Kalian nggak akan kuat dengernya. Apalagi Athaya.
Ck,ck Durhaka kamu Aya.
Semoga lupa tujuan utamanya Yaallah, Aya mau nonton si kembar,batin Athaya
Athaya terus merapalkan doa agar Bundanya lupa tujuan utamannya.
Disa teringat tujuan utamanya datang kesini, “Yaallah Gusti. Remote mana Aya! Bunda ketinggalan nih nanti kalo sampe telat.” Ucap Disa panik.
“Kamu nyembunyiin ya? Ngaku?! Ayo ngaku Aya. Durhaka kamu ngumpetin remote ke Bunda.”

KAMU SEDANG MEMBACA
Athaya
Teen FictionIni tentang cinta lama yang hadir kembali. Tentang kedua insan yang sama-sama menyukai. Tetapi mereka tidak bisa bersama karena beberapa hal. Athaya dan Dion. Ketika mereka hampir bersama, ada masalah besar yang menimpa Athaya. Sehingga tidak memu...