Kenyataan pahit

1.3K 76 0
                                        

Selendang malam telah terbentang, langit menaburkan bintang-bintang sebagai hiasan.

Siapapun yang melihatnya akan merasa takjub akan ciptaan tuhan.

Namun tidak untuk seorang azima. Hatinya diselimuti kegundah gelisahan.

Ia mendongakkan wajahnya kelangit.
Betapa indah bintang-bintang itu. Bintang-bintang itu seakan ingin menghibur hati azima yang sedang dilanda gegana (gelisah, galau, merana)

Azima kembali mengingat kejadian tadi. Dimana masa depannya hancur lebur dalam genggaman orang tuanya.

Flashback on

Saat ini, selepas makan malam, azima berkumpul dengan abi dan uminya.

Nampaknya ini pembicaraan serius -pikir azima

"Abi dan umi ingin bicara" ucap abi

"Bicara saja" ucap azima

"Nak, abi sudah pernah mengatakan tentang perjodohan itu. Sekarang abi akan menentukan tanggal pernikahan kalian" ucap abi

"Abi jangan becanda, deh!! Gak lucu" ucap azima malas

"Ini serius" tegas abi

Azima mulai menitikkan air mata.

"Tapi Azima nggak mau." tolak Azima

"Sudah abi katakan ini perintah, bukan tawaran" tegas abi

"Kalau begitu, perintah kali ini akan aku langgar" ucap azima

"Kenapa? Calon suami kamu sudah tampan, mapan, dan soleh pula. Apa lagi yang kurang?!!" ucap umi

"Azima cinta sama orang lain" ucap azima bergetar

"Siapa? Sudahlah lupakan dia. Kamu harus mencintai calon suami kamu" ucap umi

"Ya nggak bisa gitu dong, umi. Cinta itu nggak bisa dipaksa." sanggah azima

"Abi dan umi kayak nggak pernah muda aja!! Abi dan umipun kalau tidak saling mencintai, pasti nggak mau menikah kan? Ini masalah hati. Sampai kapanpun nggak bisa dipaksakan." sambung azima

"Sudah. Abi tidak ingin ada bantahan!! Pokoknya tepat pada tanggal 3 september nanti, kamu akan menikah. Dan semua persiapan sudah abi siapkan, kamu tinggal menjalaninya" cetus abi

"What!!" pekik azima

"Abi, aku bahkan nggak tau rupa orang yang akan dijodohin sama aku. Dan aku nggak tau namanya. Lalu dengan seenaknya abi memutuskan pernikahan aku bulan depan, tepat dihari ulang tahun aku, aku juga akan menikah?!! Ini gila sumpah. Ulang tahun terburuk!!" ucap azima lalu pergi meninggalkan umi dan abinya

"Kalau kamu menolak artinya kamu durhaka sama kami" teriak umi

Tanpa menghentikan langkahnya, azima berteriak.

"Terserah!!"

Brakk..

Azima menutup pintu kamarnya kasar.

Flashback off

Azima menangis memikirkan itu. Hatinya merintih, bagaikan dicabik-cabik pisau tertajam.

Yang ada dibenak azima hanya satu, yaitu azmi.

Azmi lah yang menempati tahta tertinggi dihatinya, bukan siapapun.

"Ya allah,,cobaan apa lagi ini? Aku terlalu rapuh apabila cobaanmu kali ini adalah memisahkanku selama-lamanya dengan azmi. Ini terlalu berat, aku nggak kuat." lirih azima

Sepanjang malam dihabiskan azima dengan merenung dibawah rembulan.

Berharap sang rembulan menyampaikan rasa cinta azima pada azmi.

Pantaskah Surga Untukku?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang