empat

2.9K 274 14
                                        

Hari minggu menjadi suatu hari yang kutunggu, hari tersebut menjadi suatu rutinitas aku dan dia untuk sekedar bertemu. Entah itu untuk mencoba kafe-kafe baru, nonton, jalan-jalan di mall ataupun hanya sekedar memasak di rumah Irene. Seiring waktu berjalan, kita saling bertukar pin pintu masuk ke rumah masing-masing sehingga memudahkan kalau diantara kita ada suatu keperluan yang mendesak.

Akhir-akhir ini walaupun hanya dengan sekedar memasak bersama dan makan di rumah, hal itu menjadi favorite kita. Hanya dengan kegiatan yang simpel itu aku pun merasa menjadi semakin mengenal dan dekat dengannya. Ternyata seorang Irene Bae mempunyai suatu hobi yang aneh dan unik, yaitu hobi untuk mencuci baju dan mensetrika. Aku tersenyum ketika pada saat kita berada di supermarket mata dia terbinar-binar melihat jajaran deterjen yang berbaris rapi di rak. Dengan cermat dia selalu memasukkan berbagai macam jenis pelembut dan pewangi pakaian dalam jumlah banyak. Aku selalu menggodanya agar dia membuka tempat laundry saja dibanding menjadi dokter di rumah sakit dan dia membalasnya dengan memukul pelan tanganku.

Ada satu hal tentang Irene Bae yang membuatku terkadang merajuk, yaitu ketika dia melarangku banyak membeli makanan favoriteku pringles dan ramen instan. Menurut dia, aku terlalu banyak memakan ramen instant dan pringles, itu tidak sehat katanya. Tapi bagiku itu adalah makanan terenak dan ternikmat di dunia. Demi seorang Irene Bae aku mengurangi memakan ramen instant dan pringles, tapi hanya di depan dia saja karena aku suka sembunyi-sembunyi membeli dan memakannya.

Karena Irene tahu bahwa aku tidak bisa memasak kecuali memasak ramen, maka dari itu terkadang Irene selalu membawakanku makanan yang dia masak sebelum berangkat kerja dan mengirimkannya kepadaku ketika berkunjung ke kafe tempatku bekerja. Aku merasa dunia itu indah karena perhatian yang diberikan seorang Irene Bae kepadaku. Salahkah aku apabila aku mulai merasakan perasaan yang lebih dari sekedar sahabat?

Kadang kita berdua tertidur di sofa ketika menonton film dan terbangun dengan posisi sudah berpelukan. Tidak tahu mengapa posisi kita bisa secara otomatis selalu begitu, apakah mungkin karena ada magnet di antara kita ataukah karena suatu keterbiasaan. Aku selalu menatap wajahnya yang tertidur dengan nyenyak, matanya, hidungnya, bibirnya yang ingin kukecup. Kubelai pelan rambut hitamnya yang panjang, tercium wangi lavender. Ah sungguh begitu indah ciptaan Tuhan ini.

Apabila kita berjalan berdua, secara otomatis dia akan selalu mengalungkan lengannya kepadaku atau memegang erat tanganku dan terus terang hal itu membuat detak jantungku serasa habis lari maraton. Aku tidak tahu apakah dia merasakannya atau tidak karena terkadang dia selalu menyandarkan kepalanya juga di bahuku. Pada musim dingin ketika kita jalan berdua, aku selalu memegang tangan dia dan memasukannya ke dalam saku jaketku agar tangan dia hangat.

Hari itu salju turun dan udara menjadi dingin sekali, aku menjemput Irene di rumah sakit. Irene sudah menungguku di depan rumah sakit dan dia terlihat kedinginan, aku pun membuka syalku dan memakaikannya ke leher Irene. Kami berdua saling bertatapan lama ditengah salju yang turun, entah mengapa aku melihat sorot matanya yang seperti ingin mengatakan sesuatu, ataukah itu hanya perasaanku saja. Ku genggam tangannya yang terasa dingin karena tidak memakai sarung tangan, lalu aku menggosok-gosokan cepat kedua tanganku agar hangat dan kugenggam lagi tangannya sambil kutiupkan hawa panas dari mulutku agar tangan dia hangat. Dia tersenyum sangat manis melihatku, tangannya terulur untuk merapikan poni rambutku yang terkena salju. Kita berdua melanjutkan perjalanan menuju rumahnya untuk memasak dan makan malam bersama.

Irene tidak memperbolehkanku untuk pulang malam ini karena salju turun semakin lebat dan dia tidak ingin aku pulang dengan kondisi kedinginan. Irene ketakutan aku akan jatuh sakit lagi. Dan malam itu kita tidur berdua berselimutkan malam yang gelap dan dingin. Sepertinya aku bisa berbangga hati karena itu adalah salah satu bentuk perhatian dari seorang Irene Bae untukku.

To Be Continue....

Mencintai Dalam DiamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang