59 months 6 days ago.
Warna jingga yang sudah menghiasi langit, memberi pertanda bahwa mereka harus segera pulang ke rumah masing-masing. Sebelum hari semakin gelap dan membuat orang tua mereka khawatir. Namun, mereka tetap saja bermain.
Permainan lempar tangkap bola pun terhenti ketika Felix menghampiri adiknya. Felix masih menggunakan seragam putih birunya, berarti dia belum pulang ke rumah semenjak pulang sekolah.
"Kok kalian berhenti mainnya?" tanya Felix saat menghampiri Gio, Variel, dan Angiela.
"Kakak kan mau jemput Iyel, jadi kita udahan mainnya," jawab Gio sambil memeluk bola yang dibawanya dari rumah.
"Kakak boleh ikut main sama kalian?" wajah kecewa Variel berubah menjadi bahagia, ternyata kakaknya ingin bermain bukan menjemputnya.
"Boleh," jawab Angiela dengan senang.
Gio melemparkan bola yang dipeluknya kepada Felix dilempar kembali bola tersebut kepada Angiela dan Angiela melemparnya kepada Variel. Itulah yang terjadi berulang-ulang. Dan saat bola terjatuh mereka tertawa. Tertawa dengan sangat bahagia.
Setelah bermain lumayan lama mereka berhenti. Beristirahat sejenak di atas rerumputan yang hijau di bawah pohon rindang. Mereka membaringkan tubuh mereka merasakan angin yang menerpa tubuhnya. Semakin gelap warna langit. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.
Mereka berjalan kaki menuju rumah masing-masing. Jarak rumah mereka dari taman tidak terlalu jauh. Mereka bercanda, mengobrol sepanjang jalan. Tertawa mendengar cerita lucu yang di buat Felix dan Gio.
"Dadahh," Variel melambaikan tangannya kepada Gio dan Angiela saat mereka sampai di rumahnya.
"Dadahh," balas Gio dan Angiela berbarengan dengan melambaikan tangan mereka kepada Variel dan Felix.
Felix dan Variel melanjutkan jalannya menuju rumah mereka. Tidak ada obrolan di antara mereka. Mereka saling terdiam. Tangan Felix tetap menggandeng tangan kecil Variel.
¤¤¤
Hari ini Felix yang mengantar Variel sekolah menggunakan sepedanya. Entah ke mana orang tua mereka. Saat Felix terbangun dari tidurnya, ia melihat kedua mobil orang tua sudah tidak ada.
Variel menanyai ke mana kedua orang tuanya pergi sepagi ini kepada Felix. Felix menjelaskan bahwa orang tuanya sedang ada urusan kantor yang membuat mereka harus datang sangat pagi.
Namun, tidak bisa Indah-mamah Felix dan Variel membuat sarapan untuk anaknya plus memberi uang jajan yang disimpannya di atas meja makan. Felix tidak memakan sarapannya, ia menyimpan sarapannya untuk adiknya makan siang nanti.
"Kakak, gak sarapan?" tanya Variel yang sedang mengunyah nasi goreng buatan Indah, ia melihat kakaknya hanya diam melihat dirinya yang sedang makan.
"Udah tadi, sebelum Iyel makan," Variel menganggukkan kepalanya mendengar jawaban kakaknya. "Nanti Iyel pulangnya sama Gio ya."
"Kan biasanya mamah yang jemput, emang mamah nanti masih sibuk?" tanya Variel sambil mengambil segelas air yang ada di depannya.
"Kalo nanti mamah gak ada Iyel pulang sama Gio, Gio kan bawa sepeda," jelas Felix kepada adik. Variel menganggukkan kepalanya dan mengangkat jempolnya. "Yuk, berangkat," ajak Felix setelah adiknya selesai minum.
¤¤¤
Keadaan kelas sangat ramai. Walaupun bell sudah berdering semua murid masih berjalan ke sana ke mari. Tidak dengan Variel dan Gio mereka duduk diam. Gio duduk menghadap belakang karena meja Variel berada tepat di belakangnya.
Gio membawa buku dan pensilnya ke meja Variel. Ia menggambar dan menulis mencorat-coret buku bagian belakangnya. Variel hanya melihat apa yang dibuat Gio. Sesekali ia memiringkan kepala untuk melihat apa yang dibuat Gio.
"Gio," panggil Variel yang membuat Gio berhenti dari kegiatannya dan melihat ke arah Variel.
"Kenapa, Yel?"
"Tadi kata Kak Felix, Iyel disuruh pulang bareng kamu," jawab Variel sambil memutar-mutar pensil miliknya.
"Oke, ntar Iyel tunggu Gio di depan gerbang ya," sahut Gio dengan senang.
Percakapan antara Gio dan Variel terhenti ketika guru mereka memasuki kelas. Namun, Bu Fia tidak masuk sendiri, ia masuk bersama anak perempuan yang cantik. Anak perempuan tersebut anak baru.
"Anak-anak, sekarang kalian punya temen baru. Perkenalkan diri kamu," perintah Bu Fia kepada anak perempuan yang ada di sampingnya.
"Hai," sapa anak perempuan tersebut dengan malu-malu. "Nama saya Sheren Diana Putri, saya pindahan dari Surabaya," ucap Sheren malu-malu.
"Sheren, kamu bisa duduk dengan Variel," Variel langsung tersenyum ketika Bu Fia meminta Sheren duduk bersamanya.
Sheren langsung menuju Variel dan duduk di sebelahnya. Variel memperkenalkan dirinya pada Sheren saat Sheren duduk di sebelahnya. Ia sangat senang karena ia memiliki teman duduk, sudah lama Variel ditinggal oleh teman sebangkunya.
Saat bell istirahat berdering Gio langsung mengajak Variel ke kantin. Variel tidak mungkin membiarkan Sheren di kelas, ia mengajak Sheren ke kantin bersama dirinya dan Gio. Sheren menerima ajakan Variel.
Selama perjalanan menuju kantin mereka mengobrol menanyai kenapa Sheren pindah, membicarakan tentang guru-guru yang lucu, yang baik, bahkan yang menurut mereka jahat.
Walau pun Sheren baru bersama mereka, Sheren merasa memiliki teman baru yang membuatnya nyaman. Sheren tidak lagi malu-malu menceritakan tentang sekolahnya saat dia belum pindah.
Sheren dan Gio tertawa mendengar cerita lucu yang diceritakan oleh Variel. "Aku seneng punya temen kayak kalian," ucap Sheren membuat Gio dan Variel tersenyum.
"Aku juga seneng bisa temenan sama kamu," sahut Variel.
"Ke kelas yuk, udah mau bell nih,"ajak Gio sambil melihat jam yang melingkar di tangan kanannya.
Sebelum bell berbunyi mereka sudah ada di dalam kelas. Mereka mengobrol memanfaatkan waktu sebelum guru pelajaran selanjutnya datang. Tidak lagi Gio dan Variel yang selalu mengobrol. Sekarang dengan bertambah Sheren mereka makin sering mengobrol, bercanda bersama.
Mereka selalu bersama-sama selama di sekolah. Sheren pun sering mengunjungi rumah Gio untuk bermain bersama. Mereka sangat senang karena mereka memiliki satu sahabat baru yang sangat menyenangkan.
Hampir sebulan mereka bersama-sama namun, tiba-tiba Sheren tidak masuk sekolah dan tidak lagi bermain bersama. Tiba-tiba Sheren menghilang, jika Sheren sakit Bu Fia akan memberitahukan bahwa Sheren sedang sakit dan ia tidak bisa sekolah.
"Gio, Sheren kok gak masuk-masuk ya?" Gio menggelengkan kepalanya."Gak tau, Gio juga bingung," bibir Variel mengerucut mendengar jawaban Gio.
Selama sebulan Sheren selalu masuk sekolah, tidak pernah telat, dan saat akhir pekan Sheren bermain di rumah Gio. Namun, sudah seminggu entah kemana Sheren.
Pendek yaa?
Gakpapa lah sekali-kali pendek
Jangan bosen ya sama ceritanya baca terus ntar aku up secepet mungkin.
Jangan lupa vote ya....Bye....
24 Maret 2018

KAMU SEDANG MEMBACA
My Memories
Teen Fiction[ON GOING] "Lo bukan suatu kebahagian yang hilang dari gue" ucap Variel dengan tatapan tajamnya. "Lo akan tau semuanya" balas Gio sambil menatap dalam-dalam mata indah seorang perempuan dihadapannya. "Siapa lo sebenernya dan apa yang lo tau dari g...