Mungkin karena sadar usia, kali ini nenek benar-benar berubah. Beliau sangat menyayangi kakakku. Nenek juga suka memberi uang jajan lebih. Dan sekarang, giliran aku yang membenci nenek.
Ah, kata membenci mungkin kurang tepat. Aku hanya tidak menyukai nenek, tetapi tidak sampai dimana aku benar-benar membenci keberadaannya. Bagaimanapun juga beliau adalah nenekku, orang tua yang harus aku hormati. Lalu bagaimana seandainya sikap buruk nenek membuatku susah untuk menghormatinya?
Nenek punya kebun yang dikerjakan oleh sekitar sepuluh pekerja. Para buruh kasar itu berasal dari keluarga kurang mampu. Namun bukannya memberikan upah yang besar, nenek malah sering memotong upah para pakerja dengan alsan tidak ada uang kecil. Terpaksa, ayah dan ibu kembali mengeluarkan uang. Aku sangat tidak menyukai sifat nenek yang seperti ini.
Selain itu adalagi yang tidak aku sukai. Di luar nenek mungkin kelihatan menyayangi kakak, namun aku tau yang sebenarnya. Kakak adalah anak laki-laki, ia akan menjadi penerus keluarga kami. Dan lagi, karena suruhan ibu, kakak sering menginap dirumah nenek dan menemaninya saat keluar rumah. Karena itulah, jarakku dan kakak mulai merenggang.
Nenek sering pergi mengajak kakak. Kakak pasti mau karena nenek akan memberikan uang jajan. Sementara ibu tidak suka pola didik seperti itu. Apabila kakak mau melakukan sesuatu karena diiming-imingi sesuatu, itu akan berlanjut menjadi kebiasaan meminta upah setelah melakukan yang disuruh. Ibu mencoba menasehati nenek. Namun nenek malah menghardik ibu yang terlalu kasar memperlakukan anak. Ah, aku sangat kesal.
Jika aku paparkan semua, rasanya aku telah menjadi cucu durhaka dengan memperhitungkan perilaku nenekku selama ini. Karena itu, aku mencoba menerima semua ini dengan sabar seperti ibu. Setidaknya nenek tidak menyakitiku secara langsung. Begitylah, aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya.
***
Saat kuliah, kakak melanjutkan studinya di luar pulau. Sosok cucu yang mengisi kesepian nenek pun pergi, dan kini hanya aku satu-satunya harapan. Nenek mulai sering berkunjung ke rumah kami dan membawakanku buah alpukat dari kebun. Aku memang sangat suka jus alpukat. Dan aku tahu ada pohon alpukat di kebun nenek. Namun pertama kali aku mendapat buah itu adalah saat kakak pergi kuliah. Dan seketika aku merasa tidak senang.
Aku tahu nenek sering membuat jus alpukat bersama kakak. Dan tidak sekalipun nenek memberikannya padaku. Hanya kakak yang sering mengambil dua buah alpukat lalu memberikannya padaku. Tentu saja aku menolaknya. Bagaimanapun juga aku mengerti nenek sangat menyayangi kakak yang suka menemaninya. Sementara aku yang sibuk berkutat dengan urusan sekolah dan membantu ibu, tentu nenek menganggapku sekedar cucu saja. Lalu saat kakakku pergi, barulah nenek 'mengakui' keberadaanku. Menyebalkan.
Tidakkah itu sama saja dengan teman yang datang saat ada perlu dengan kita?
Pertama kali aku mulai mendekati nenek saat kondisi nenek kembali drop. Paman dan bibi memintaku agar menjaga nenek karena kakak sedang pergi. Dan mau tidak mau aku harus menurut. Pagi hari aku akan membawakan lauk untuk nenek, setelah kemarin sorenya memasakkan nasi dengan mesin penanak nasi untuk sarapan dan makan siang. Dan seperti kakak, nenek memberiku uang jajan. Dan aku tentu menolak. Aku ingin menunjukkan bahwa kasih sayangku tanpa pamrih, tidak seperti buah alpukat yang nenek beri padaku. Atau mungkin aku mengimplikasikan bahwa perlakuanku ini hanya sekedar formalitas sebagai keluarga. Ataukah aku mencoba mengatakan bahwa kebaikanku tidak bisa dihargai berapapun? Entahlah. Aku sendiri tidak mengerti. Karena aku hanya bertindak sesuai insting. Dan juga perasaan.
Nenek mulai sering mengajakku ke rumahnya. Bahkan nenek berjanji akan membelikan motor untukku kuliah nanti. Nenek juga memintaku datang padanya kapan saja kalau rumah sedang sepi atau aku sedang butuh uang. Semua perhatian itu hanya aku iyakan dengan senyum manis. Walau jarang ada yang terealisasi.
Waktu pun berlalu, lambat laun aku mulai terbiasa. Ibu selalu menasehatiku agar tetap bersikap baik pada nenek. Ibu sering berkata, "jangan membenci orang yang merendahkanmu. Karena tanpa kamu sadari, dialah yang membuatmu menjadi kuat." Yah, entah kapan aku bisa meniru sifat rendah hati dan lapang dada milik ibu.
***
Matahari bersinar malu-malu di ufuk timur. Sisa-sisa hujan semalam membuat suasana terasa segar. Pagi ini aku kembali pada rutinitasku yang monoton. Pergi menengok nenek, lalu berangkat sekolah. Namun kali ini ada yang berbeda dengan nenek. Raut wajahnya tampak cerah saat menyambutku di pintu. Sekarang hanya sesekali nenek memberiku uang jajan. Mungkin karena aku setiap pagi selalu datang dan nenek takut uangnya habis karena selalu diberikan padaku. Yah, mungkin.
"Renata, nanti pulang sekolah jam berapa?" tanya nenek. Benar-benar pertanyaan klasik yang penuh basa-basi. Memang sesekali nenek bertanya tentangku untuk mencairkan suasana. Jadi aku hanya menganggap ini hal yang biasa saja.
"Ah iya, nanti Ren pulang cepat karena ini hari sabtu. Mungkin sekitar jam satu siang, nek." Aku meletakkan semangkuk sayur di meja. Tak sedikitpun aku melirik nenek. Aku memilih fokus pada hidangan di depanku.
"Wah, kalau 'gitu pulang sekolah ke sini aja Ren. Ibu ayah pulang sore seperti biasa kan?" tanya nenek. Aku bisa menangkap nada ceria di ucapannya. Uh oh, aku akan menghabiskan satu siang penuh sandiwara dan sikap manis yang dibuat-buat lagi kalau begini.
"Mm, iya. Memang ada apa, nek?" aku balas bertanya. Kalau tidak penting sebisa mungkin aku akan memberi alasan. Hari ini adalah hari dimana aku cukup sensitif, jadi aku malas memasang ekspresi bohongan.
"Kemarin baru panen alpukat lho! Ren senang alpukat kan? Nanti buat jus disini." Ah, salah satu senjata nenek yang susah aku elakkan. Yap, karena nenek merasa 'memerlukanku' tentu nenek harus membuatku senang sebisa mungkin kan? Hah, ini akan semakin rumit. Aku memasang senyum manis dan mengangguk.
"Okee, kalau 'gitu Ren pamit ya nek," balasku cepat. Moodku mulai tidak bisa diajak kompromi lagi. Aku segera salam pada nenek dan bergegas berangkat ke sekolah. Astaga, aku harap pagi hari berjalan lambat dan siang hari berjalan cepat untuk hari ini!
***
Dua hari setelah aku membuat jus dengan nenek, beliau tiba-tiba datang kerumah. Di tangannya ada keranjang yang penuh dengan buah alpukat. Ibu segera menyambut nenek dan mengajaknya duduk. Semuanya pun terasa cepat di hadapanku. Ibu membuat jus alpukat lalu aku, nenek dan ibu segera meminum jus itu bersama. Obrolan basa-basi pun terus mengalir. Sementara aku tampak malas, ibu malah dengan mudah bersikap santai. Ah, ibu benar-benar luar biasa.
Ayah yang baru selesai mandi melewatiku dan mengingatkan untuk mengantar nenek pulang. Aku hanya mengiyakan.
Setelah mengantar nenek, aku mendapati orangtuaku berbicara dengan serius di ruang tamu. Menelengkan kepala, aku bertanya, "ada apa? Kenapa serius begitu?"
Ayah dan ibu menoleh cepat. Wajah mereka tidak bisa aku deskripsikan. Antara sedih dan agak terkejut mungkin. Namun mereka juga tampak berpikir keras. Aku mengangkat sebelah alis. Tangan ayah menggenggam handphone. Sementara ibu meremas bantal di atas sofa. Lalu sebuah pemikiran pun segera melintas di kepalaku.
"Apa ini tentang nenek?" tanyaku pelan. Dan perubahan air muka mereka sudah menjawab pertanyaanku. Aku mengerjapkan mata. Suasana pun hening. Kecanggungan menyelimuti kami. Aku mengerti. Jika benar apa yang kupikirkan sekarang, ayah dan ibu pasti kesusahan menjelaskan situasinya padaku. Segera aku menunduk dan pergi ke kamar tanpa berucap sepatah kata pun.
Sekarang aku bimbang. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Semua kejadian seolah berputar di benakku. Mulai dari perlakuan nenek dan hubungan keluarga kami yang tidak baik. Bagai memutar kaset, otakku menayangkan ulang apa saja yang sudah aku alami.
Lama hanya detak jarum jam yang kudengar. Aku memejamkan mata seolah konsentrasi mendengarkan suara yang teratur itu. Mendadak suara sirine memasuku pendengaranku. Segera pikiranku pecah dan digantikan kekalutan. Tubuhku menegang dan agak merinding. Pemikiran buruk segera berkelebat. Dan di tengah kecamuk itu, ibu membuka pintu kamarku.
"Renata, ayo siap-siap ke rumah sakit."
======
-Altair
KAMU SEDANG MEMBACA
Me and Mine (on hold)
De TodoHanya sebuah kumpulan cerpen sederhana. Dengan membawakan tokoh utama seorang perempuan, seolah mewakilkan beberapa kisah perempuan dari beragam usia. Dimulai dari hangatnya kebersamaan keluarga sampai dinginnya tenda peperangan. Cerita ringan di ru...
