"Hai Darling, lama tidak berjumpa!" seseorang berseru seraya menepuk pundak Evelyn dari belakang, membuat perempuan itu kontan memutar kepalanya.
Evelyn terbelalak, lalu tersenyum seketika. "Monica!" pekiknya kegirangan.
Sedetik kemudian mereka sudah berpelukan, melepaskan rindu dalam hati masing-masing, setelah sekian lama berpisah.
Monica adalah teman dekat Evelyn semasa SMA. Sejak kelulusan, kedua perempuan itu tidak pernah lagi bertemu. Hal itu disebabkan kepergian Monica ke Melbourne, atas perintah Ayahnya yang menetap disana. Monica dan Evelyn kehilangan kontak untuk beberapa lama, hingga akhirnya perempuan itu mendapatkan nomor ponsel Evelyn dari salah satu teman mereka. Sejak saat itulah, kedua sahabat itu mulai kembali berhubungan.
Berkat bantuan dari teman ayahnya, kini Monica berprofesi sebagai salah satu staff pengajar di Greyson Creek Elementary School, tempat Angel bersekolah. Bahkan keduanya nyaris berjumpa jika saja Evelyn tidak bertemu dengan Angel, satu minggu yang lalu.
"Mengapa kau tidak jadi datang waktu itu? Kau tahu, seharian aku menunggumu," kata Monica dengan wajah cemberut, saat akhirnya mereka memutuskan untuk duduk di bangku kayu yang ada pada taman mini sekolah tersebut.
"Ah ya, maafkan aku. Sebenarnya aku sudah datang kesini, hanya saja..."
"Ada apa?"
Evelyn terdiam sejenak, memikirkan apakah sebaiknya ia menceritakan segalanya kepada Monica, atau tidak. Tetapi kemudian Evelyn memutuskan untuk terbuka, sebab ia tahu Monica masih dan akan selalu menjadi sahabatnya.
"Aku bertemu dengan seorang anak kecil disini, dan setelahnya hidupku benar-benar berubah..."
Monica menautkan kedua alisnya dan menatap Evelyn dengan bingung. "Apa maksudmu, Eve? Berubah bagaimana? Dan siapa anak kecil itu?" tanyanya beruntut.
Evelyn menghela napas sesaat, lalu detik berikutnya, mengalirlah cerita itu dari bibirnya. Tentang ia yang bertemu dengan seorang gadis kecil yang mengira bahwa Evelyn adalah ibunya, hingga tentang Evelyn yang harus menerima lamaran ayah dari sang gadis kecil karena terlanjur sayang, sekaligus merasa iba pada anak itu. Semua mengalir secara gamblang, membuat Monica yang mendengarnya memasang ekspresi terkejut, heran, hingga mengangguk-angguk mengerti kemudian.
"Kau benar-benar beruntung, Eve," komentar Monica ketika Evelyn mengakhiri ceritanya.
"Beruntung? Apa maksudmu?"
"Ya. Kau tahu, Benjamin Brown, ayah gadis kecil itu adalah orang tua siswa yang paling mencuri perhatian di sini. Selain tampan, mapan, ia juga sangat baik. Banyak guru perempuan single disini yang mengidolakannya," cecar Monica seraya tertawa.
Evelyn tersenyum. "Ada-ada saja kau, Monica. Beruntung bagaimana? Pernikahan kami ini hanya didasarkan atas perjanjian, bukan pernikahan yang sebenarnya."
"Ya, kau benar. Tetapi, kau sendiri tentu pernah mendengar kalimat 'cinta dapat tumbuh karena kebersamaan', bukan? Entah mengapa, aku merasa yakin jika kebersamaan itu pada akhirnya akan mampu membuat kalian saling menyukai."
"Berhenti berkata yang tidak-tidak, Monica. Aku tidak ingin berpikir sejauh itu. Kau tahu benar bagaimana perasaanku pada Billy." Evelyn menunduk, menyembunyikan raut wajahnya yang sedih setiap kali mengingat kekasihnya.
Monica terdiam, menghela napas. "Lalu, apakah Billy mengetahui semua ini?" tanyanya kemudian.
Evelyn menggeleng lemah. "Aku terlalu takut, Monica. Aku belum siap. Dan menurutku akan lebih baik jika aku memberitahunya secara langsung. Aku sangat berharap dia mau mengerti dan bersedia menunggu untukku..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Unexpected Wedding
Roman d'amour"Mommy? Kau mommyku kan??!!" tiba-tiba saja gadis kecil itu berteriak histeris, membuat Evelyn nyaris melompat saking kagetnya. Tangan mungilnya terangkat menarik-narik lengan baju Evelyn. Evelyn terhenyak. "Apa? Bu-bukan-" "Daddy bilang mommy canti...
