Billy melangkah keluar dari rumah Gerald dengan perasaan marah. Sungguh, ia tidak suka jika ada orang yang berbicara sembarangan tentang Evelyn. Gerald tidak tahu betapa Billy menyayangi perempuan itu. Gerald tidak tahu bagaimana sulit melupakan kenangan bersamanya. Dan Gerald tidak tahu bahwa berpisah dari Evelyn telah mencabut rasa bahagia dan semangat dari hatinya.
Billy merasa sepi dan hampa. Separuh jiwanya terbang entah kemana, menyisakan raga yang seolah tak bernyawa. Meski sudah berusaha untuk kuat dan tegar, tetap saja dirinya merasa putus asa. Entahlah, Billy tidak tahu harus bagaimana. Ia hanya berharap Evelyn selalu bahagia, karena hanya dengan begitu ia merasa tenang melepasnya.
Langkah Billy terhenti di persimpangan rumah Gerald. Ia menyetop sebuah taksi, dan saat taksi berwarna kuning itu berhenti, Billy segera memasukinya. Ia menyebutkan alamat yang menjadi tujuannya kepada lelaki yang duduk di kursi kemudi, lalu dalam sekejap taksi tersebut telah bergerak membelah jalanan kota. Untunglah, jarak antara rumah Gerald tidak begitu jauh dengan tempat tujuannya, sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai disana.
Apartemen milik Ben. Awalnya Billy merasa ragu untuk kembali menginjakkan kakinya ke tempat itu. Namun setelah mempertimbangkan dengan cukup matang, terlebih mengingat sudah cukup lama ia tidak bertemu keponakan kesayangannya, maka Billy memutuskan untuk kembali kesana.
Billy menghela napas sejenak. Berusaha menentramkan hatinya yang mendadak berdebar hebat saat membayangkan wajah Evelyn. Ia takut tidak mampu menahan dirinya untuk memeluk perempuan itu. Entahlah, meski telah bertemu siang tadi pun, Billy masih begitu merindukannya. Tepatnya, selalu merindukannya.
Setelah memantapkan hatinya, Billy memencet bel yang ada di dekat pintu. Tak butuh menunggu lama, sebab beberapa detik kemudian pintu terbuka dengan kemunculan Ben di ambangnya. Lelaki itu menatap Billy dengan ekspresi terkejut. Dan itu membuat dahi Billy berkerut.
"Kau menatapku seolah menatap hantu, Kak." Billy berujar seraya melangkah memasuki apartemen, melewati Ben yang tampak sejenak terpaku. Kemudian, Ben berjalan mengikut di belakang adiknya setelah kembali menutup pintu.
Mendadak, raut wajah Billy berubah ceria kala matanya menangkap sosok Angel. Gadis kecil itu tampak duduk pada salah satu kursi yang ada di ruang makan dengan wajah ditekuk. Dengan segera Billy menghampiri dan berjongkok di sisi kursinya.
"Hello, Sweety." Billy menyapa sembari mencubit pelan hidung mungil Angel. "Uncle merindukanmu."
Angel tidak menjawab. Ia mengerucutkan bibir mungilnya, membuat Billy seketika tertawa.
"Mengapa wajahmu ditekuk seperti itu, Sayang? Dan, mengapa kau tidak memakan makananmu?" tanya Billy saat pandangannya berpindah pada piring berisi makanan milik Angel yang tampak masih utuh.
"Aku tidak mau makan kalau tidak disuapi oleh Mommy." Angel menyahut dengan wajah terlihat murung.
"Ya sudah kalau begitu, minta Mommy yang menyuapimu," kata Billy seraya membelai puncak kepala gadis kecil itu dengan sayang.
Angel menggeleng lemah. "Mommy tidak ada, Uncle. Mommy pergi."
Jawaban yang melontar dari bibir Angel membuat Billy terperanjat seketika. Dengan segera ia mengalihkan pandangan pada Ben yang berdiri tidak jauh darinya.
"Dimana Evelyn?" tanya Billy kemudian.
Ben menghela napas. Alih-alih menjawab, ia melangkah mendekati Angel. "Sayang, masuklah ke kamarmu. Daddy ingin berbicara sebentar dengan Uncle," katanya seraya membelai pipi malaikat kecil itu dengan lembut.
Angel menurut. Dengan cepat ia turun dari kursi dan melangkah menuju kamarnya. Meninggalkan Ben dan Billy yang kini saling bertatapan.
"Dimana Evelyn?" Billy mengulang pertanyaannya. Sepasang mata cokelat gelap miliknya menatap Ben dengan tajam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unexpected Wedding
Romance"Mommy? Kau mommyku kan??!!" tiba-tiba saja gadis kecil itu berteriak histeris, membuat Evelyn nyaris melompat saking kagetnya. Tangan mungilnya terangkat menarik-narik lengan baju Evelyn. Evelyn terhenyak. "Apa? Bu-bukan-" "Daddy bilang mommy canti...
