"Saya terima tawaran untuk menjadi asisten pribadi anda, Mr. Grayson."
Dua minggu telah berlalu semenjak Alea menerima tawaran Riley untuk menjadi asisten pribadinya. Selama bekerja bersama Riley, Alea sama sekali tidak diberikan pekerjaan yang tidak bisa dia kerjakan. Mengurus jadwal pertemuan dengan perusahaan yang diajak bekerja sama dengan GChance, mengatur jadwal harian Riley dari pagi sampai malam, memastikan dokumen hasil pertemuan sudah tercetak rapi di ruangannya dan beberapa pekerjaan yang masih bisa dia kerjakan.
Kali ini Alea sedang berada diruangannya dan tengah duduk berpikir. Ya, sebelumnya Riley menawarkan Alea untuk berada satu ruangan bersama dirinya. Setelah Alea menyetujui permintaan Riley sebagai asistennya, Alea juga mengajukan perubahan penempatan dia bekerja selama menjadi asisten Riley. Bukankah biasanya seorang asisten pribadi dan atasan tidak akan bekerja dalam satu ruangan? Itu sama saja akan membuat diri mereka berdua menjadi bahan gosip satu kantor. Sudah cukup dengan kenaikan pangkat Alea yang begitu mendadak, jangan lagi ditambah dengan tempat dia akan bekerja adalah berada didalam satu ruangan dengan atasannya.
Dua minggu sebelumnya bahkan seperti mimpi saja baginya. Mulai dari tatapan kaget, bingung, iri dan tentu saja heran yang ditujukan teman-teman kerjanya saat ia mengemas barang-barang yang berada di kubikelnya dan menyusunnya dengan rapi didalam kardus yang berukuran sedang.
Ian yang saat itu membantu Alea menyusun barang-barangnya hanya bisa berkata :
"Aku tidak tahu mau mengucapkan apa padamu. Aku kaget, tapi juga bahagia untukmu. Tapi aku rasa kata-kata yang tepat untukmu adalah You are dead, girl."
Alea hanya dapat menoleh lirih ke arah Ian karena ia tahu apa maksud Ian dengan kata You are dead.
Tatapan mata beberapa kolega perempuan yang berada diruangannya bisa dikatakan sangat membunuh, namun tidak sampai membuat Alea berdarah tetapi cukup membuat Alea merasa kikuk dan canggung tujuh alam karenanya. Terutama tatapan dari si Nona Centil yang tidak lain adalah Helena. Tatapannyalah yang paling bisa membunuh Alea saat itu juga. Alea hanya diam saja, ia sama sekali tidak mau membuat masalah dengan Helena. Kalau Helena ingin mencari orang yang dapat disalahkan, maka ia bisa menemui Riley diruangannya dan mengajukan komplain kepadanya mengenai Alea yang tiba-tiba saja menjelma menjadi asisten pribadi pria paling sukses di New York. Namun mengingat alasan Riley menginginkan Alea, ia mengurungkan niatannya untuk memberitahu Helena untuk komplain kepada Riley.
Setelah selesai mengemas semua barang-barangnya, Alea segera bergegas mendatangi manajernya yang hanya dapat tersenyum jahil kepadanya. "Hentikan senyuman itu, Mr.Hudson."
"Senyuman apa?" Tanyanya pura-pura bodoh dan semakin tersenyum lebar saat melihat raut wajah Alea yang sangat kesal dengan ekspresinya.
"Senyuman itu!" Rutuk Alea sambil mengarahkan dagunya ke wajah tampan Erik.
Erik adalah semua idaman wanita Asia pada umumnya. Rambut pirang, mata biru bagaikan dalamnya Samudra Pasifik, lesung pipit tergores dalam dikedua sisi pipinya dan meskipun ia masih kalah tinggi dari Riley yaitu dengan 188 cm, Erik masih merupakan pria idaman kaum Hawa.
"Ini senyuman bahagia karena akhirnya ada salah satu anak buahku melambung tinggi menjadi asisten pribadi. Kamu sama sekali tidak tahu betapa bangganya aku." Ungkap Erik bangga.
Alea mendengus. "Seperti Piala lomba Sepak Bola yang dioper setiap tahunnya."
Erik diam dan menatap Alea. Posisi mereka saat itu tengah berada dipintu lift dan menunggu lift itu terbuka. "Maaf kalau aku membuatmu tersinggung, aku tidak bermaksud seperti itu."

KAMU SEDANG MEMBACA
That Man and That Woman
RomanceAleisha Yashira (Alea), 26 tahun. Wanita asal Indonesia dan bekerja di perusahaan terbesar di New York. Setelah putus dengan kekasihnya selama 8 tahun, ia memilih untuk memfokuskan dirinya pada karir dan keluarga. Riley Grayson, 30 tahun. Multi-bill...