Hari terus berganti, namun tidak ada yang berubah dari hari sebelumnya. Hari demi hari hanya berlalu begitu saja, dengan rutinitas yang sama, dengan perasaan yang sama, dengan emosi yang sama dan ketidaknyamanan yang saja juga. Jiyong dan Lisa, keduanya berusaha terlepas dari jeratan satu sama lain. Keduanya berusaha berhenti memperhatikan satu sama lain dan memperbaiki hidup masing-masing. Namun tetap saja akhirnya mereka kembali ketitik awal lagi.
"Aku tidak bisa begini terus, ayo selesaikan semuanya," ucap Lisa begitu Jiyong membukakan pintu studionya. "Ayo bicara. Penutupan, terakhir kalinya," kedatangan Lisa tidak membuat Jiyong terkejut lagi. Pagi tadi gadis itu sudah mengiriminya pesan dan membuat handphonenya kini berada ditempat sampah. Hancur seperti baru saja terlindas bus.
"Baiklah, kita memulai semuanya dengan baik jadi akhiri semua ini dengan baik juga," balas Jiyong, membiarkan Lisa untuk masuk kedalam studionya dengan ransel dipunggungnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jiyong menyuruh semua orang yang ada disana keluar, mengunci pintu untuk memastikan tidak akan ada yang mengganggu pembicaraan mereka. Sementara Lisa menggeser semua kertas diatas meja dan menarik kursi untuknya sendiri.
Kini Lisa dan Jiyong sudah duduk berhadapan di meja hitam besar ditengah ruangan, duduk diatas kursi beroda menatap 10 sloki whiskey dan sebotol whiskey dingin diatas meja. Lisa memangku ranselnya, sementara Jiyong bersandar di kursinya seperti seorang bos besar yang akan menghabisi bawahannya yang mencuri dana perusahaan. Pria itu duduk dengan aura yang terlalu angkuh untuk ukuran seorang pria yang akan bicara dengan mantan pacarnya.
"Kita hitung semuanya, aku tidak ingin berhutang padamu," ucap Lisa memecah keheningan mereka.
"Hm," Jiyong mengulurkan tangannya untuk meraih dua lembar kertas dan pensil diatas meja kemudian membaginya dengan Lisa. "Cukup?"
"Ayo kita mulai, berapa harga yang ini?" tanya Lisa menaikan sebuah topi keatas meja.
"46.000 won," Lisa mengangguk, menunggu Jiyong mengeluarkan sebuah barang dari tas jinjing dilantai sebelahnya. "Yang ini, berapa?" tanya Jiyong, menunjukan sebuah celana olahraga hitam yang pernah Lisa berikan untuknya.
"6.000 won termasuk ongkos kirimnya," ucap Lisa spontan, namun terlalu cepat sampai Jiyong tidak mendengarnya dengan jelas.
"Hm?"
"46.000 won termasuk ongkos kirimnya," ucap Lisa, meralat sendiri ucapannya, menekan disetiap kata yang diucapkannya. "Ini, berapa?" tanya Lisa untuk sebuah tas kecil yang pernah Jiyong berikan.
"350.000 won," bohong Jiyong untuk sebuah tas Chanel seharga lebih dari 3 ribu dollar. Rasanya menghitung semua hadiah yang pernah diberikannya seperti ini benar benar sudah melukai harga dirinya. Ditambah Jiyong bukan bocah ingusan yang tidak tau berapa penghasilan Lisa sebenarnya. "Ini," ucap Jiyong, mengeluarkan sebuah kamera yang pernah Lisa berikan untuknya.
"Itu sedikit mahal, 1.100 dollar," ucap Lisa, memberi harga pada kamera yang diberikan fans untuknya.
"1.100 dollar? Tapi ada lebih banyak fotomu didalam sini, kau yang lebih di untung-"
"Bagaimana dengan Lingerie seksi yang oppa berikan untukku? Berapa harganya dan siapa yang lebih di untungkan dengan itu?" sela Lisa. Lagi-lagi emosi mereka tersulut, tanpa sadar sloki sloki diantara mereka sudah berulang kali di isi ulang.
"Baiklah, bagaimana dengan yang ini?" tanya Jiyong sembari mengeluarkan sebuah mug coklat, begitupun dengan Lisa yang mengeluarkan mug putih dari ranselnya.
"Ini mug couple, bagaimana?" Lisa menurunkan nada bicaranya. Sedikit rasa kecewa serta rasa rindu tiba tiba meremas jantung mereka masing-masing.
"Kita tukar saja ya," ucap Jiyong, membuat keputusan dengan nada bicara yang juga di turunkan. Menukar mug mereka dengan perasaan yang mulai kembali bimbang.
Benarkah yang mereka lakukan ini?
Haruskah mereka melakukannya sampai sejauh ini?
Apa setelah ini mereka benar benar bisa mengakhiri semuanya?
Apa setelah ini mereka tidak diam diam saling memperhatikan lagi?
Ada banyak pertanyaan yang berkecambuk didalam pikiran masing-masing, namum tidak satupun yang berani mengungkapkannya.
Tanpa sadar satu botol whiskey diatas meja sudah berpindah kedalam perut keduanya. Dan tanpa sadar, juga dibawah pengaruh alkohol keduanya mengakhiri acara penutupan mereka dengan beberapa adegan panas dan rasa lelah setelahnya membuat mereka tertidur di atas sofa panjang studio itu.
"Jadi pertemuan pertama kita setelah putus berakhir seperti ini?" gumam Jiyong. Berusaha tidak bergerak sedikit pun sementara Lisa perlahan lahan melepaskan pelukannya dan duduk untuk merapihkan kembali pakaiannya.
"Hm..."
Keduanya menyesali apa yang terjadi, menyasali adegan panas sebelumnya, menyesal karena menikmati setiap sentuhan yang beberapa waktu lalu mereka rasakan.
"Jadi kita-"
"Tidak akan berkencan lagi," sela Lisa sementara Jiyong yang masih berbaring di sofa terlalu malas untuk bangun dan hanya menaikan kembali celana jeansnya.
"Baiklah,"
Sama sekali tidak terdengar sebuah keyakinan di antara keduanya. Baik Lisa maupun Jiyong sama sama ragu dalam keadaan canggung mereka saat itu. Keduanya menikmati akhir pertemuan mereka, namun gengsi dan harga diri membuat tidak satupun dari mereka mau mengajak berbaikan terlebih dahulu.
Lisa berjalan keluar dari studio itu setelah menyelesaikan segala yang dimulainya.
Semuanya sudah berakhir.
Ia mengakhiri hubungan mereka tanpa hutang.
Semuanya selesai.
Lisa berulang kali meyakinkan kalau "penutupan" itu yang di inginkannya, namun rasa senang yang didapatkannya tetap tidak sebanding dengan rasa kosong yang selama beberapa bulan terakhir dirasakannya.
"Kenapa masih di agensi tengah malam begini?" tanya Hoon yang tidak sengaja berpapasan dengan Lisa di lobby agensi. Hoon baru saja kembali dari promosi album barunya dan mampir ke agensi untuk mengambil beberapa barang yang di tinggalkannya.
"Kemana oppa akan pergi setelah ini?"
"Dorm, ayo pulang denganku, aku hanya akan mengambil beberapa barang di ruang latihan,"
"Baiklah,"
Lisa menceritakan semua yang terjadi di harinya hari itu sembari berjalan berdampingan dengan Hoon, menceritakan semuanya kecuali adegan panasnya.
"Lalu, bagaimana perasaanmu sekarang? Merasa lebih baik?" tanya Hoon setelah Lisa menyelesaikan ceritanya.
"Ya, tentu saja, kurasa aku tidak perlu menghindarinya lagi, kami sudah putus dengan benar sekarang,"
"Baguslah kalau begitu," jawab singkat Hoon
"Tapi sepertinya tidak bertemu dengannya akan terasa lebih baik? Iya kan?"
-:=:- Sejauh ini gimana ceritanya? Menurut kalian gimana Lisa sama Jiyongnya?