Ditanamnya tunas-tunas cinta itu
Dibiarkannya tumbuh tak terurus
Di seluk-beluk hutan itu
Tertata rapih di pinggir-pinggir sungai air mataku
Berakarkan canda, tawa, yang meluka
Berdaunkan kegelisahan
Berbuahkan kemalangan
Berbayangkan wajahnya
Dihembusnya sejuk angin fana
Lalu dibiarkannya burung- burung hinggap
Melatuk kayu-kayunya
Membawa pergi buah-buahnya
Merontokkan daun-daunnya
Dihabiskanlah semuanya
Hingga kembali tumbuh lebih kuat
Namun siapa sangka
Ditebangnya pula pohon cinta itu
Dibuatnya gubuk yang rapuh
Di sana, di seluk-beluk hutan itu
Diminumnya air-air itu
Dari aliran sungai air mataku
Tepat di depan gubuk hutan itu
Ditinggalinya seluk-beluk hutan itu
Kini tanpa semua yang dulu tumbuh bersamaku
Tapi, bersama peluk hangat surya
Bersama anggun temaram rembulan
Bersama belai lembut angin
Bersama sejuk siram hujan
Dengan sebijih yang dulu jatuh
Dari paruh burung mulia itu
Bertumbuh lagi di belakang gubuk itu
Yang tak pernah di sadarinya
Karena dia hanya duduk terpaku
Memandang jauh kedalam aliran sungai itu
Tak pernah sekalipun disadarinya
Yang tumbuh itu membayanginya
Yang tumbuh itu meneduhkannya
Yang tumbuh itu menaunginya
Memberinya nafas untuk terus hidup
Yang tumbuh itu selalu disana
Di seluk-beluk hutan itu
Selalu berada di belakangnya
Dan akan selalu di sana
Hingga menua,
Tumbang pun tak disadarinya
_DaFamzz
KAMU SEDANG MEMBACA
Teruntuk Kamu
PoetryBaris-baris huruf tak runtut perkata, susunan kata tak beraturan dalam sajak, larik-larik sajak tak tentu arah pada bait. Semua ku sulam indah, Teruntuk Kamu.
