Sudah sangat lalu aku sering bepergian
Sudah lelah aku berjalan kesana-kemari
Sudah sangat jarang aku kembali kesini
Hingga saat aku menemukanmu tumbuh
Di bawah rintik-rintik hujan langit itu
Tumbuh di balik jendela tempatku melihat
Hujan itu menumbuhkanmu, menguatkanmu
Hujan itu yang membuatku takut akan sakit
Hujan itu yang membuatku terpaku di balik jendela
Aku yang hanya melihatmu dari balik jendela
Berlalu dan terus berlalu, masih seperti itu
Embun-embun kecil pun mulai hinggap di jendelaku
Membuat pandanganku buram akan dirimu
Dulu kau mawar, sekarang tersamar
Ku ciutkan pupil-pupil mataku
Untuk tetap dapat melihatmu mekar
Rintik-rintik hujan mulai menua
Segera ku beranjak untuk memetikmu
Tapi, kau pupus bersama hujan yang sirna
Mengembalikan langkahku ketempat ku semula
Di balik jendela tempatku melihatmu, dulu
Dan sekarang, semua risauku, untukmu
Menunggu masih berharap kau kembali tumbuh
Tanpa hujan yg menyertai
_DaFamzz
KAMU SEDANG MEMBACA
Teruntuk Kamu
PoesíaBaris-baris huruf tak runtut perkata, susunan kata tak beraturan dalam sajak, larik-larik sajak tak tentu arah pada bait. Semua ku sulam indah, Teruntuk Kamu.
