Maaf aku masih disini, dalam permainan yang ku buat sendiri
Entah nanti kapan aku memenangi
Saat aku mengalahkan keegoan ini, atau membunuh perasaanku sendiri
Tapi itu nanti.. dan kini,
Aku masih berjalan dalam tingkatan-tingkatan, memburu sebuah kemenangan,
Dengan hati yang berlumuran, dengan pendarahan yang tak bisa ku hentikan
Masih terus berjalan, memunguti pecahan-pecahan yang berceceran
Kau tau dalam sebuah kesetiaan, terbelit simpul perjanjian
Memetik buah-buah kesabaran, untuk sekedar memuaskan, rasa lapar akan kepastian
Mungkin nanti saat aku mulai kelelahan, nanti saat aku kau hilangkan
Kau dorong kedalam lorong kesepian, terperangkap dengan kekecewaan
Kuharap nanti saat kepergian, bukan air mata yang kau alirkan
Agar tak mengejawantah dalam kepedihan
Agar bukan kekecewaan yang berdentuman
Segera simpan semua yang menyesakkan
Lekaskan kau toreh senyuman
Jika nanti hatimu meregang kerinduan, ingat dan lihat apa yang telah aku goreskan
Saat denyutnya mulai terasingkan, dalam rebah rangkul ketenangan
Tebaring dalam kesendirian, dibawah nisan yang ku tancapkan
Kuharap nanti mulutmu tak terbisukan, untuk menyanyikan lirik-lirik pujian
Mulai tuliskan kisah untuk kau abadikan
Nanti saat swaramu t'lah terisakkan
Dengarkan..
Akan segera dilantunkan...
Syair-syair kematian...
Untuk sebuah perasaan...
_DaFamzz
KAMU SEDANG MEMBACA
Teruntuk Kamu
PoetryBaris-baris huruf tak runtut perkata, susunan kata tak beraturan dalam sajak, larik-larik sajak tak tentu arah pada bait. Semua ku sulam indah, Teruntuk Kamu.
