~SELAMAT MEMBACA~
* * *Bayu mendengus malas saat melihat mobil mamanya terparkir di garasi. Dengan lesu ia turun dari motornya dan berbalik untuk menutup pintu gerbangnya kembali.
Lelaki itu menutup pintu gerbangnya yang terbuka. "Duarrr!" teriak Ara di depan gerbang Bayu hingga membuatnya terkejut.
Bayu mengelus dadanya, "ngagetin banget, mau masuk gak?" tanyanya sambil membuka kembali gerbang yang sudah tertutup
"Di sini aja. Enak ada penghalangnya biar keliatan romantis," ujar Ara sambil memukul pelan gerbang rumah Bayu dan menaik-turunkan alisnya.
Bayu mengurungkan gerakannya untuk menutup gerbang. "Ya udah. Ngapain lo ke sini?"
"Besok berangkat bareng ya?"
"Tumben."
"Lagi mau naik motor." Bayu hanya mengangguk mendengar jawaban Ara.
"Ya udah gue pulang, Bye!" pamit Ara sambil melambungkan kecupan jauh.
Bayu hanya menggeleng sambil tersenyum melihat kelakuan sahabatnya. Padahal jika dia hanya ingin berangkat bersama ia bisa menghubungi Bayu melalui pesan singkat.
Ia berbalik dan menuju masuk ke rumahnya. Suasanya rumahnya sepi, seperti biasanya. Mamanya tidak berpengaruh untuk menghidupkan suasana rumahnya di malam yang sudah larut ini. Dengan pelan ia menginjakkan kakinya hingga tangga paling atas, ia tidak mau mengganggu istirahat mamanya. Padahal belum tentu sang mama sudah terlelap, bisa saja sang mama melanjutkan pekerjaannya di rumah seperti biasanya.
Bayu membuka pintu kamarnya dengan pelan, "diajak jalan bilangnya ngantuk, tapi keluar buat main pulangnya jam segini." Bayu menghentikan aktivitasnya lalu berbalik menghadap mamanya yang sedang menatap jam tangannya.
Lagi-lagi Bayu mendengus malas, "mama marah?"
Mama Bayu menggeleng sambil tersenyum, "enggak, Mama sedikit kecewa aja sama kamu."
Bayu mengangguk, "sama. Aku juga sedikit kecewa sama Mama."
"Gak bisa kamu lupain itu?"
"Gak semudah itu, Ma. Mama sendiri yang buat aku kecewa."
"Tapi itu semua bukan seperti yang kamu lihat. Beri Mama waktu buat jelasin yang terjadi."
"Semua sudah cukup jelas, aku gak mau dengar pembelaan Mama." Bayu langsung masuk ke kamarnya dan membanting pintunya hingga membuat sang mama terkejut di luar sana.
Lelaki itu membanting badannya diatas kasur. Ia memejamkan matanya berusaha menghilangkan bayangan peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia mengambil ponsel di saku celananya. Alisnya berkerut ketika melihat nama yang tertera di ponselnya. Tapi sedetik kemudian, senyumnya mengembang, ia langsung memencet tombol hijau yang membuat suaranya terhubung dengan sang penelpon di sebrang sana.
"Lama banget lo angkat telpon gue," omel Raina di sebrang sana yang menjadi salam pembuka obrolan mereka.
Bayu tertawa, "kenapa lo? Kangen sama gue? Padahal tadi baru aja ketemu."

KAMU SEDANG MEMBACA
Disputatio
Teen Fiction"Lo itu bukan tipe gue! Jadi jangan berharap dengan sikap lo yang sok care gue jadi jatuh hati sama lo," tegas Raina saat Bayu mencoba menghiburnya. "Oh ya? Tenang aja kok lo juga bukan tipe gue. Cewek sangar kaya lo jauh dari daftar kriteteria cewe...