~Selamat Membaca~
***
Hari itu sudah mulai petang, seorang anak perempuan berumur 10 tahun dengan tergesa menuju pulang ke rumahnya. Ia takut mamanya akan marah jika ia pulang terlalu sore.
Saking terburu-burunya ia pun tak menyadari ada sepeda yang berlalu dengan kecepatan laju ingin melalu jalan di mana tempat ia menyebrang.
Pengendara sepeda pun langsung menghentikan sepedanya dengan mendadak sehingga ia terjatuh dan rantai sepedanya putus.
"Raina! Kalau kamu jalan liat-liat dong," omel sang pengendara sepeda.
"Maaf Bayu, aku buru-buru pulang. Aku takut Mama aku marah kalau aku pulangnya lambat," jelas gadis kecil itu sambil menunduk ketakutan.
"Aku juga buru-buru tau. Rumah aku di komplek sebelah, lebih jauh daripada rumah kamu."
"Maaf ya, Bayu. Aku gak sengaja."
"Aku gak mau tau, kamu harus baikin sepeda aku!" perintah Bayu sambil menunjuk rantai sepedanya yang putus.
"Aku gak bisa Bayu, aku minta maaf!" tegas Raina, lalu ia berlari pergi. Ia masih memikirkan nasibnya jika ia pulang terlambat. Selain itu, ia juga takut melihat Bayu yang sepertinya marah kepadanya. Padahal, ia sudah meminta maaf kepada Bayu.
Bayu menggeram di tempatnya. Ia mentap sebal kepergian Raina.
"Hei! Jangan kabur kamu," teriak Bayu di tempatnya berdiri.Bayu menghela nafasnya panjang. Lalu, ia mendorong sepedanya menuju ke rumahnya.
"Awas ya kamu, Raina! Aku gak mau lagi temenan sama kamu. Kamu gak mau tanggung jawab!" Bayu menggerutu di jalan sambil mendorong sepedanya.
Beberapa hari kemudian, hujan turun sangat lebat. Bayu pulang sekolah dengan menggunakan jas hujan dan mengendarai sepedanya yang sudah diperbaiki oleh papanya. Di perjalanan menuju rumahnya ia melihat Raina berjalan kaki di pinggir jalan dengan menggunkan payung untuk melindungi dirinya dari hujan.
Bayu tersenyum sesaat, ia berniat untuk membalas perilaku Raina yang tidak mau bertanggungjawab. Kemudian ia melajukan sepedanya dan melewati genangan air yang tepat berada di sebelah Raina.
Raina menggeram kesal.
"Gak ada gunanya dong aku pake payung tapi baju aku basah.""Gak bisa apa Bayu minta maaf? Nyebelin banget sih," omel Raina melihat bajunya yg basah.
***
Beberapa tahun kemudian, Raina telah menggunakan seragam putih biru. Ia memilih untuk masuk di SMP yang dekat dengan rumahnya."Raina!" panggil seseorang. Ia pun menoleh ke sumber suara dan melihat sahabatnya berjalan menuju ke arah ia berdiri.
"Lo kok bisa sama Ara?" tanya Raina kepada lelaki yang berdiri tepat di sebelah Ara.
"Oiya Rai, ini sahabat gue dari kecil yang sering gue ceritain sama lo."
"Bayu, kenalin ini Raina sahabat baru gue di SMP," lanjut Ara mengenalkan keduanya.
"Udah kenal," jawab Raina dan Bayu serempak dengan ekspresi yang sangat tidak suka.
Ini merupakan kesialan bagi Raina dan juga Bayu. Raina tidak suka sekali dengan Bayu yang sangat tidak tau mengucapkan kata maaf. Sedangkan Bayu, ia sangat tidak suka melihat Raina yang tidak mau bertanggungjawab atas kesalahan yang ia lakukan. Tapi mengapa harus mereka bersahabat dengan orang yang sama? Untung saja pada saat itu mereka tidak sekelas, jadi tidak merupakan kesialan bagi mereka.
***
Tak cukup sampai situ, hal menjengkelkan itu berlanjut hingga SMA. Mungkin sudah takdir semesta, mereka kembali bertemu di sekolah yang sama. Dan yang paling menjengkelkan adalah mereka harus menerima nasib kalau mereka harus berada dalam satu kelas yang sama.
* * *
Haloo semua. Terima kasih sebelum nya udah mau baca cerita ini. Btw ini cerita pertama aku, semoga kalian suka :3
Luv, Ras!

KAMU SEDANG MEMBACA
Disputatio
Teen Fiction"Lo itu bukan tipe gue! Jadi jangan berharap dengan sikap lo yang sok care gue jadi jatuh hati sama lo," tegas Raina saat Bayu mencoba menghiburnya. "Oh ya? Tenang aja kok lo juga bukan tipe gue. Cewek sangar kaya lo jauh dari daftar kriteteria cewe...