Bagi Evan Maximiliano Himawan, anggota boyband High End, cinta tak ubahnya kembang semusim. Ia akan menikmati keindahannya pada musim itu saja. Dan jika bosan ia bisa mengganti pada musim berikutnya. Hingga muncul Keyla Nadindra Pradipta dalam hidup...
Aku pernah menuliskan di twitter, formula terburuk untuk menghabiskan hari adalah hujan, lampu mati, dan sendirian. Tetapi, ternyata ada yang lebih buruk lagi yaitu terlentang tak berdaya dan tidak bisa melakukan apa-apa. Aku berharap bisa melakukan banyak hal, kenyataannya luka–luka ditubuh membatasinya. Akibatnya aku terus-terusan mendumal. Begitu terus seharian hingga Papa hilang sabar.
Semburnya ,”Van, jangan merengek terus-terusan!”
Plop! Seperti balon kempis, aku langsung diam. Kesal campur marah mendengar apa yang Papa katakan. Tanpa mempedulikan maafnya, kuhadapkan mukaku ke tembok. Sengaja agar aku tak melihat Papa. Lantas tidur membawa gemuruh marah di dada.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari sudah gelap saat aku membuka mata. Kulayangkan pandang ke sekitar dan terkejut melihat seorang gadis duduk di sofa yang letaknya berseberangan dengan ranjangku. Menyadari aku mengawasinya, gadis tersebut berhenti memainkan ponselnya. Ia bangkit dan melambaikan tangannya.
“Hallo.” Ia memajang senyum lebar, sementara matanya turut berbinar. Oh, si menyebalkan! Mau apa dia kemari lagi? Mau mengajak perang seperti kemarin-kah?
“Masa lupa? Aku yang kemarin kesini. Keenan,” katanya riang.
Heuuh sok akrab. Siapa juga yang nanya? Batinku kesal.
“Lalu kenapa kamu disini?” ketusku.
“Oh, aku besuk kamu. Sekalian ngantar kue dan buah dari Mamaku. Tuh!” Ia menunjuk meja di sebelahku. Nampak bungkusan kue dan buah ditaruh bersebelahan disana.
“Papaku mana?”
“Wah, waktu aku tiba hanya ada Mamamu. Beliau yang minta tolong aku menungguimu, sementara beliau sholat.”
Selama menunggu itu ia terus saja nyerocos ini itu. Sesekali melontarkan jok tidak lucu untuk menarik syaraf tawaku, namun gagal dan justru membuatku kesal. Pada menit ke delapan aku berseru ,”Diam! Bisa nggak sih kamu?”
“Iih, sewot amat sih? Aku kan hanya ....”
“Hanya merecokiku. Tahu?! Kau buat aku pusing saja. Sana pergi!” Kulambaikan tangan, mengusirnya.
“Uh, bisa nggak sih santai aja ngomongnya. Sudah tua jadi tambah tua kamu.”
“Gua belum tua! Baru juga 24.”
“Dibanding gua yang baru sembilan belas jelas tua kamu, kan?” ejeknya.
“Serah lu dah!” Aku memalingkan muka.
“Fuuh, galaknya. Macan kalah tuh.” Ia bersiul kecil.
“Berisik! Pergi sana!”
Keenan melongo. Dengan mulut manyun ia melangkah keluar ruangan. Sementara aku mencibirnya dari belakang.
Eh, siapa juga yang butuh? Gak bakalan! Aku malah seneng kamu nggak ada. Kenal aja enggak, eh sok tahu juga. Baru juga dimintain bantuan jagain bentar udah songong. Huuh!
Selesai bergumam semacam itu mendadak aku ingin buang hajat kecil. Kutahan-tahan dia, sekuatnya. Dan sepertinya aku tak sanggup. Kandung kemihku rupanya tak mampu lagi menahan urine-ku. Jika terus kutahan aku takut justru ngompol. Aduuh gimana nih?
“Hei!” aku berteriak.
“Hei, tolong aku!” Sekali lagi aku berteriak. Kali ini volumenya kutambah.
“Hei, kamu! Keenan atau siapapun deh disitu! Bantuin aku!”
Keenan melongok dari pintu yang setengah terbuka. Bibirnya melengkung ke bawah, penuh ejekan. Seolah hendak mengatakan ”Hadeeh, ternyata minta bantuan juga!”.
“Eh, kamu! Sini!”
Keenan melengos.
“Uh, kamu ya?! Gua minta bantuan malah gitu!”
Keenan melirikku dengan tatapan tak suka. “Jiaah tadi nyuruh gua pergi, sekarang minta bantuan? Cowok kok plin-plan.”
Meski kesal dengan perkataannya aku mendiamkannya. Terpaksa, soalnya aku butuh bantuan orang buang air kecil sekarang.
“Ya udah deh, maafin gue.” Aku melunak. Semata agar dia mau membantuku.
“Apa?” Keenan mendekat. Tapi galaknya masih nampak.
“Aku mau pipis,” kataku lirih saat ia sudah mendekat.
“Oh,” mulut Keenan membentuk huruf O. Sebentar kemudian ia menarik sesuatu dari bawah tempat tidur. “Nih pake!”
“Lu gila apa? Gerakan gue terbatas gara-gara lengan gue patah. Kalo lu suruh make sendiri gimana caranya, dodol?”
“Lho masa gue yang bantuin lu? Iih, ogah!” Ia bergidik.
Ugh, sialan dia bergidik. Memangnya aku ini menjijikkan?
“Panggil suster ya?” tawarnya.
“Jangan! Panggilin aja mamaku ,” cegahku.
Keenan memutar bola matanya. “Kan mamamu sholat, aku panggilin mbak atau mas perawat aja,” putusnya
Tanpa menunggu jawabanku Keenan keluar. Tak berapa lama muncul ia bersama seroang perawat. Perempuan itu dengan ramah membantuku menuntaskan hajat kecilku. Sumpah deh, itu pengalaman nggak menyenangkan bagiku. Kemana sih Mama? Aku malu rasanya.
Yang nyebelin si Keenan justru ketawa-ketawa. Oh, kalau saja aku sudah baikan, aku ingin sekali menjitak dia.
***
Man with infusion needle : https://pixabay.com/id/operasi-serum-perban-el-3031541/
Girl with her phone : https://www.pexels.com/photo/woman-holds-smartphone-sitting-on-chair-914898/