O3|

749 98 18
                                        

Lelaki itu menatap Kyungsoo lalu mengalihkan pandangan ke api yang menyala, membakar tumpukan dedaunan kering yang sudah dikumpulkan oleh tukang kebun. Di balik tumpukan daun-daun itu, ada tas cokelat Jiyeon yang berisi pakaiannya, dan tentu saja ikat rambutnya.

“Jangan sampai ada yang tersisa, pastikan itu.” gumamnya tegas.
Kyungsoo menganggukkan kepalanya, “Baik, Tuan Loey.”

Lelaki itu mengernyit mendengar panggilan itu, lalu tertawa terbahak-bahak, “Betapa aku merindukan panggilan itu. Dan hanya kau, Kyungsoo, pelayanku yang setia yang berani memanggilku seperti itu.”

“Saya selalu setia kepada anda berdua.” jawab Kyungsoo, suaranya masih datar. Loey tersenyum lambat-lambat, kebiasaannya, kalau dia ingin memerangkap seseorang.

“Benarkah? Mungkin kau memang setia pada Chanyeol. Tapi padaku?” dengan pelan Loey beranjak tepat di hadapan Kyungsoo yang mulai kehilangan topeng datarnya, pelayan itu mulai kelihatan gelisah.

“Saya setia kepada anda berdua, saya pastikan itu.” jawab Kyungsoo cepat-cepat.

“Kau memang harus setia kepadaku,” gumam Loey dengan nada malasnya yang biasa, “Karena kalau tidak— Aku akan marah. Dan kalau aku marah— Ah tidak perlu kujelaskan, kau sudah tahu bukan?” Loey tersenyum sangat manis.

Wajah Kyungsoo pucat pasi, keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Dia tidak suka kalau harus terpaksa mendampingi dan berbicara dengan tuannya yang satu ini. Rasanya seperti berhadapan dengan serigala buas yang memutuskan untuk bermain-main dulu sebelum memangsa korbannya.

Ah— Kenapa Tuan Chanyeol tidak muncul-muncul?

“Saya bersumpah tidak akan berkhianat.” gumam Kyungsoo akhirnya.

Loey terkekeh. “Ya… Ya… Karena kalau tidak, aku akan pastikan tidak akan ada yang selamat dari kecelakaan yang kedua kalinya,” Loey menoleh, senyumnya hilang dan menatap Kyungsoo tajam.

“Kecelakaan yang pertama itu hanyalah peringatan. Menunjukkan apa yang bisa kulakukan kepada keluargamu kalau kau sampai berani berulah lagi, tapi aku tidak akan main-main pada kecelakaan yang kedua, kau tentunya mengerti kan?”
Kyungsoo mengernyit, lalu cepat-cepat menganggukkan kepalanya. Keluarganya mengalami kecelakaan parah di jalan pulang menuju rumah mereka tiga tahun lalu. Sebuah mobil dengan sengaja menabrakkan diri ke mobil mereka. Pengemudi mobil itu mati seketika, tetapi anak dan istrinya bisa diselamatkan meskipun terluka parah. Semua itu terjadi setelah Kyungsoo mencoba mengingatkan kakek Jiyeon bahwa ada bahaya yang mengintai cucu mereka.

Senyum Loey muncul lagi melihat kernyitan Kyungsoo, dia lalu menatap Kyungsoo ramah, “Bukankah kau seharusnya berterimakasih padaku karena kebaikan hatiku?” gumamnya ramah.

Kyungsoo segera menganggukkan kepalanya, takut kalau dia tidak segera menjawab, tuannya yang menakutkan ini akan marah, “Te— Terima kasih Tuan Loey.”

Loey terkekeh mendengarnya, tampak puas. “Dan kudengar istrimu baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki ya? Anak ketigamu?”

Kyungsoo langsung pucat pasi begitu Loey mengucapkan hal itu di depannya. Tidak mungkin kan tuannya ini tega menyakiti bayi kecil yang tidak berdaya? Tapi Kyungsoo kemudian menatap mata yang bersinar keji itu dan menyadari kalau Loey pasti mampu melakukannya. Lelaki ini tidak punya setitikpun belas kasihan di hatinya.

“Saya bersumpah akan setia kepada anda Tuan Loey. Tapi saya mohon, jangan sakiti anak saya. Dia masih kecil.”

“Hei! Kau menghinaku,” Loey terkekeh, “Aku sedang berpikir untuk mengirimkan kartu ucapan dan hadiah untuk anak dan istrimu. Lagipula kau tidak berpikir aku tega menyakiti anak kecil bukan?” Kyungsoo menatap Loey dan bulu kuduknya berdiri. Loey mampu dan dengan kata-katanya yang tersirat itu, Loey memastikan kalau Kyungsoo tahu bahwa Loey mampu menyakiti anak kecil yang paling tidak berdosa sekalipun.

From The Darkest SideTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang