Chapter 7

19 4 23
                                        

"Nah, awas! Pelan-pelan.... Yak!" Dafa menurunkan Novya di bangkunya.

Tiiing! Bunyi notifikasi pesan di hp Dafa, membuat cowok itu merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Matanya membulat dan alisnya berkerut, lalu beralih ke wajah Novya.

"Kalo ada apa-apa bilang ya! Aku mau ke lapangan dulu." cowok itu mengedarkan pandangannya. Dilihatnya tas teman-temannya sudah ada. "Aku mau main. Dah!"

"Iya, dah! Terima kasih!" Novya tersenyum kikuk. Dafa mengangguk lalu melesat keluar setelah menaruh ransel nya.

Hening. Itu yang Novya rasakan. Ia menoleh ke segala arah. Meskipun ada berbagai tas yang tersampir di bangku, namun tidak orang satu pun nampak batang hidungnya.

"Ada apa ini? Masa udah jam segini gak ada orang?" Novya menautkan alisnya. Dilihatnya jam dinding yang menggantung. Hah, jam tujuh kurang lima menit?!

"Hai Vy!" sapa Dian dari pintu kelas. Namun wajah sumringahnya berubah menjadi khawatir.

"Kamu kenapa?"

"Eh, Dian. Kamu liat orang-orang gak?" Novya masih bingung.

"Orang-orang? Eh, maksudnya... Oh ya! Aku tadi liat, tapi cuma sekilas. Katanya ada pertengkaran tuh antara kakak kelas sama adik kelas. Tapi tak hiraukan saja. Males aku." Dian menghampiri Novya. "Kenapa?"

"Kamu bilang ada pertengkaran? Kakak kelas? Adik kelas? Emang siapa?" tanya Novya mulai panik. Jangan-jangan, itu ulah kakaknya yang memang terkenal jahil.

Dian mengangkat bahu.

"Kelas berapa, kakak kelasnya?" Novya memastikan lagi.

"Ga tau. Bukan urusanku kok." ujar Dian.

"Enggak Dian, masalahnya kalo itu ada kakak kelasnya, ada kemungkinan itu kakakku, Dian." Novya beranjak berdiri. Ia masih menahan nyeri.

"Hah, beneran?! Masa? Ayo deh kalo gitu!" Dian menaruh tasnya di laci dan menarik paksa lengan Novya.

"Awww!" teriak Novya.

Dian menghentikan langkahnya. "Kenapa lagi, Vy?"

"Huuuh, tadi pagi aku habis jatuh. Dijegal kalo gak salah. Makanya pas jalan aku harus hati-hati." jelas Novya meringis.

"Oh yaudah, kita jalannya pelan-pelan aja ya!" Dian merangkul Novya lalu melangkah keluar kelas.

"Dimana?" tanya Novya.

"Lapangan belakang kalau gak salah."

***

Lapangan belakang sekolah...

"Kamu nyadar enggak sih, kalau yang kamu lakukan itu fatal?!" sentak seorang cowok.

"Eh, um.. I, i.. Iya. Maafin aku kak!"

Di sisi lain, Novya dan Dian sampai di pinggir lapangan.

"Itu dia Vy! Kakakmu kan?" tunjuk Dian mengarah ke seorang cowok.

Evan... Ada apa dengan dia?!

Dian menatap cemas pada kerumunan massa yang kian bertambah. "Semua orang kesini Vy."

"Iya, hah mana kakakku?!" pandangan Novya menyapu di lapangan belakang.

"Itu," tunjuk Dian lagi.

Novya menangkap arah tunjukan Dian. Ternyata kakaknya ada di tengah lapangan.

"Tanggung jawab lo!"

"I.. Iya, kak."

"Tunggu, mending gini aja. Gimana yang dia lepas seragam bajunya terus dikotorin dan dilap di mukanya, lalu dipakai lagi. Kan biar dia yang ngerasain. Gimana?"

Dear P!nkTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang