"Duuuh! Kuis matematika besok keknya susah deh..." Novya memonyongkan bibir mungilnya. Ia terlihat tak ikhlas mempelajari rumus-rumus yang ada di buku paket matematika.
Tiiingg! Itu bunyi notifikasi pesan.
Novya mengambil hp nya di sebelah buku paket tebalnya. Novya mengeceknya daaann... "Dafa?" jantung Novya deg-degan. Ia membaca wa yang dikirim oleh cowok bertampang keren abis itu.
Dafa: Hai! Makasih ya udah ngobati dan basuh lukaku! Maaf ya udah ngrepotin, haha.... Hanya kata-kata ini yang bisa kuucapkan, karena memang... Harus! Sebagai permintaan maaf, aku ingin memberimu sesuatu, besok. Ditunggu aja ya! Bye! 👋...
Dari orang yang sekelas dan seangkatan dengan Novya. Haha...
Novya tertawa seusai membacanya. Namun ia juga terkejut, bahwa Dafa berjanji akan memberikan sesuatu kepadanya besok. Tapi apa?
"Duh! Aku penasaran!" ujar Novya dalam kesendirian. Ia tak memedulikan lagi buku di hadapannya.
Tiingg! Bunyi notifikasi untuk kedua kali.
Novya segera mengeceknya. Masih dari Dafa!
Dafa: Belajar ya, besok kan kuis. Jangan pikirkan tentang 'sesuatu' yang akan kuberikan! Salam...
Wa dari Dafa membuat Novya memelotot. Hah, gak salah?! Wa nya... Kayak dia mampu baca pikiranku aja.
Novya mengembuskan napasnya. Lembut. Ia tak percaya apa yang dilihatnya.
"Ah, masa bodoh!!! Belajar, Novya! Belajar!" seru Novya menyemangati dirinya. Soalnya fokusnya mulai teralihkan. Dibaca dan dihapalnya lagi sebuah rumus matematika.
"Neng, makan dulu!" panggil Bik Enom dari luar pintu.
Huh!
"Iya bik, segera!" Novya beranjak dari kursi belajarnya dan keluar dari kamar.
***
"Selamat pagi anak-anak, duduk!" seorang guru berperawakan tinggi, mulai duduk di bangku guru setelah masuk ke kelas dan disambut para siswa-siswi.
"Arrgghh! Apa ini?!" tiba-tiba guru yang akan mengajar itu berseru. "Ada apa ini?!" tanyanya berang.
"Wahhhaahaaa..." sontak hampir semua murid tertawa terbahak-bahak, kecuali Novya, Dian, dan Dafa. Mereka bertiga tak tahu apa yang terjadi.
"Haha..."
"Duh, Pak Gio lucu dech!"
"Sip-sip!"
Komentar teman-temannya makin membingungkan Novya.
"Kenapa ya Dian? Kenapa semua seperti itu?" bisik Novya mengernyitkan kening.
"Entah..." Dian mengangkat bahu.
"Ahaaa! Ini pasti permen karet! Pantas... Siapa yang melakukan semua ini?!" guru yang ternyata bernama Pak Gio, memelotot ke semua murid. Sebelumnya ia melongok ke bawah, melihat apa yang didudukinya.
"Siapa yang melakukan semua ini?!" ulang Pak Gio tak sabar.
Hening. Tak ada yang menyahut. Terlebih lagi Novya, Dian, dan Dafa. Jelas, mereka bukan pelaku yang sengaja menaruh permen karet di atas kursi guru.
"Arrgh! Kalau begini jadinya, saya tidak bisa mengajar!!!"
"Memang tak usah pak, hahahha!" jawab seseorang yang langsung disambut tawa semuanya.
"Diiaaaam! Bantu saya saja, tidak usah tertawa dan membantah!" Pak Gio menahan amarah.
"Permen karet?! Siapa yang melakukan ini?" bisik Novya menghadap Dian. Sementara Dafa di belakang mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear P!nk
No FicciónBagi banyak orang, hitam adalah suram. Ya, memang betul! Tapi bagi Novya, hitam adalah warna favoritnya dan segalanya. Dimulai dari handphone, casing, tas, alat tulis dan tentu saja barang-barangnya serba berwarna hitam. Teman-temannya juga mengangg...
