Rasa ini... (Lagi?) 3

68 5 0
                                        

Tak lama kemudian. Setelah 30 menit dalam posisi seperti tadi. Merenungkan peristiwa saat siaran. Mungkin 2 liter air telah menetes dari mataku. Kalau aku peres bantal yang aku jadikan saksi kesedihan ku mungkin seperti itu. Aku pun bangkit dari tempat tidur. Lalu bercermin. Ku lihat mataku yang merah karena menangis. "Kok bisa sampe nangis aku ya?.  Sampe merah gini mata aku. Ternyata bener yang di katain Sinta sama Rafi. Tapi, sulit juga. Dia udah punya pacar juga. Aku bisa apa?. Ya Allah, bantu hamba Ya Allah. Bantu hamba menyampaikan perasaan hamba. " kata ku pada bayangan ku di cermin. Gara-gara rasa ini jadi ngomong ama kaca ya?.. Emang parah sih rasa ini.

Kalau memang benar dia jalanku. Aku akan mengejarnya. Namun, jika bukan. Ku kan berhenti mengejarnya. Akan ku coba rencana B.
Bismillah.

Barang 1.

"Bun, kan uang tabungan kakang ada 30 ribu. Kakang beliin coklat boleh nggak? " tanya ku pada bunda.
"Buat apa emang? " tanya bunda balik.
"You know lah bun"
"Sok aja. Asal jangan yang mahal-mahal. "
"Makasih bunda. Kakang berangkat nyari barang dulu ya bun. Assalamualaikum bun. " kata ku sambil berlari keluar gerbang rumah.

Barang 2

"Mas, ada kertas polio sama pulpen? " tanyaku pada seorang pegawai toko photo copy.

Barang 3

"Bu beli amplop 1." pinta ku pada ibu-ibu penjaga suatu warung.

"Barang udah ada semua. Tinggal jalanin rencana. Besok, hari eksekusi. Laksanakan. " gumamku sambil berlari pulang.

Esok harinya...

"Astagfirullah, aku lupa nulis suratnya!!, gimana ya?. Untung aku dateng kepagian terus. Tulis di kelas ajalah. " gumamku dalam perjalanan ke sekolah.

Sesampainya di sekolah..

"Dear Hana

Aku tau kamu udah ada yang punya. Aku tau cowok kesukaan kamu siapa. Aku juga tau jawaban yang bakal kamu tulis di surat ini apa. Tapi aku pikir, Cinta itu nggak harus memiliki. Aku cuma mau kamu tau perasaan aku ke kamu. Memang telat. Aku juga nyesel dulu kenapa aku nggak peka sama kamu. Tapi yang jelas, aku suka sama kamu. Aku Cinta kamu. Terlambat aku nyataiin perasaan ini.
(Puisi yang aku lupa apa isinya. Jadi nggak aku tulis di novel ini:v) tolong kasih aku kesempatan. Seenggaknya kita bisa jadi sahabat. Gimana?. Aku tunggu jawaban dari kamu. Aku cuma mau ngeliat kamu bahagia di masa depan itu aja. Sama siapanya tergantung Allah.

Danial. 8a.
Wassalamualaikum. ".

"Eh. Rafi. Kok ada disini?. K-kamu liat tulisan aku tadi? ". Kata ku terkejut saat melihat Rafi di duduk di samping ku.
"Aku liat semuanya. Tapi tenang aku bisa jaga rahasia kok. "
"Syukur deh kalo kayak gitu" ucapku sambil memasukkan coklat dan surat tadi kedalam amplop.
"Semoga berhasil ya.. " terus Rafi sambil berjalan ke tempat duduk istiqomahnya.

Bel istirahat pun berbunyi..

"Ris, Riska. Hahh. Hahh. Cape banget ngejar kamu. Sampe kantin pula.. " keluh ku.
"Cie ngejar aku... "
"B-bukan gitu Ris. Aku mau minta tolong sama kamu. Tolong kasih ini ke Hana. Paksa dia buat nerima. Masalah di baca atau nggaknya itu urusan nanti. Ok? " pinta ku
"Kenapa nggak buat aku aja? " tanya Riska.
"Jijik da aku mah. Intinya KASIHIN ITU KE HANA. Ok? "
"Siap. 86"

Gimana pun dia tetep Riska itu sahabat ku. Meski dia pernah nyimpen perasaan sama aku. Pernah dia menampar aku saat keluar pintu kelas. Tanpa alasan pasti. Tangan itu mendarat tepat dipipi kanan ku. Tapi nggak langsung lepas. Dia elus dulu, baru dia lepas. Ya Allah tolong hamba dari situasi seperti ini Ya Allah.

Asmara dibalik AsramaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang