10

1.9K 451 247
                                        

Mera menyumpal telinganya dengan earphone setelah dia menaikkan resleting jaketnya setengah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mera menyumpal telinganya dengan earphone setelah dia menaikkan resleting jaketnya setengah. Langkahnya ringan keluar dari rumah. Walaupun begitu menutup pagar, bundanya yang tengah menyiram tanaman langsung menginterogasi singkat. Minimarket, Mera menjawab. Tempat yang ditujunya tidak jauh dari rumah, hanya perlu keluar kompleks, kurang lebih sepuluh meter sudah sampai. Jadi, cukup berjalan santai. Berhari-hari dikurung, Mera tentu merasa sumpek. Hal yang dilakukannya begitu monoton. Sedang pengambilan rapor masih beberapa hari lagi. Dia harus bertahan lebih lama.

Mera meraih segelas kopi yang telah selesai terisi penuh. Di pelukannya sudah ada dua bungkus keripik. Selesai membayar di kasir, Mera mendudukkan diri di sebuah kursi kosong di depan minimarket tersebut. Dia membuka keripiknya, lalu makan dalam diam.

Ya ampun, gini banget hidup gue.

Kalau sudah begini, Mera cuma bisa memendam segalanya. Sejengkel apa pun dia dengan sang ayah yang terus membatasi pilihannya sejak kecil, Mera hanya akan berakhir menuruti. Sebab dia tidak punya apa pun untuk dijadikan senjata; opsi satu-satunya adalah menjadi apa yang diinginkan ayah dan bundanya.

Mera menatap datar pemandangan di depannya, hingga di suatu detik, dia tersedak.

Kopi yang diseruputnya menumpahi celana dan jaket. Usai Mera membersihkan kekacauan itu sekilas, dia melongo mengikuti sosok yang kini berjalan menghampirinya.

"Nga–ngapain lo di sini!?"

"Ketemu lo."

"Zidan!"

Sosok itu kini duduk di sebelahnya, terpisah oleh meja. Lalu seolah sadar akan sesuatu, Mera merapikan rambutnya kilat. Gila, dia belum mandi sore!

"Lo sekarang jadi susah bener ya dihubungi? Dulu aja ngerecokin gue dengan LINE lo yang nggak penting. Zidan inilah, itulah." Zidan bertumpu pada meja, memandang Mera sejemang. "Gimana kabar lo?"

Mera menegakkan punggungnya. Ada yang berbeda dengan cara Zidan menanyakan kabarnya, seperti nada yang digunakan lebih ... tidak ketus seperti biasanya. "Gue baik," sahut Mera cepat. "Masih idup kan, lo lihat."

"Gue—"

"Lo belum jawab pertanyaan gue. Kenapa lo bisa di sini, sih? Di hari ini, jam segini, ketika gue belum mandi dan lagi jelek-jeleknya. Kenapa?"

Mereka bersitatap.

Kemudian, "Lo nggak jelek," kata Zidan. "Dan kalau gue kasih tahu lo gimana gue bisa ada di sini, gue yakin lo bakal freak out. Saking nggak masuk akalnya."

Kening Mera mengerut.

"Lo nggak bakal ngerti, tapi mungkin lo bakal paham akan satu hal ini," Zidan menarik napas tajam, "gue kangen lo, Mer."

Kendati membeku selama beberapa saat, Mera menggumam, "Itu hal ter-nggak masuk akal yang pernah gue dengar dari lo."

"Gue tahu."

i like it when you smileTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang