"Jangan ucapkan kata menyerah tapi berdoalah dan serahkan semuanya kepada Tuhan. Karna Tuhan tau apa yang terbaik buat kita"
--verschillend—
"Akhirnya pak ketu dateng juga" ucap seseorang di ruang panitia yang memiliki name tag bernama Izryladi
Yang disambut malah membuang muka dan langsung merebahkan diri di salah satu kursi di ruangan tersebut. Ia menekan-nekan keningnya dengan jemari dalam kondisi mata terpejam. Izryl pun menghampiri bapak ketuanya yang terlihat sangat-sangat tidak bersemangat.
"Ngapa lu Yo?" tanya Izryl
Nandio hanya membuka matanya sekejap untuk melihat siapa yang bertanya setelahnya ia kembali menutup matanya tanpa memiliki niat menjawab. Nandio adalah tipe orang yang susah mengenali seseorang dari suaranya.
Jika Valdo merupakan ketua OSIS maka Nandio merupakan ketua Pramuka atau lebih tepatnya disebut sebagai Pradana Putra. Mereka telah bersahabat sedari masa taman kanak-kanak meski sempat berpisah selama tiga tahun karna Nandio melanjutkan Sekolah Menengah Pertamanya di Singapura.
"Sahabat lo ngapa nih Do?" tanya Izryl kepada Valdo sambil sedikit berteriak. Valdo yang sedang duduk di ujung ruangan sambil memainkan handphonenya yang sedang di charge hanya mengangkat bahunya acuh tanpa melirik Izryl sama sekali.
"Ahhh teuing lah" ucap Izryl sambil melangkah ke luar ruangan. ("Aaahh gak peduli lah")
Nandio kemudian membuka matanya dan langsung melirik ke arah jam dinding yang menggantung.
"Zryl mulai sekarang kegiatannya" teriak Nandio
Izryl yang masih bisa mendengar suara Nandio langsung membalasnya dengan sedikit berteriak juga "Iya".
--verschillend—
Waktu itu terkadang berasa sangat cepat sekali berlalu. Baru saja rasanya tadi berangkat dari rumah dengan langit terang benderang tapi saat ini langit sudah tergantikan dengan langit gelap gulita. Kelompok Daisy mulai memasuki hutan kecil --kebun warga-- yang telah disiapkan untuk jerit malam. Daisy adalah nama bunga yang dipilih oleh kelompok Berry sebagai nama kelompoknya dengan alasan karna katanya bunga daisy itu melambangkan kesetiaan.
"Eh Eh, itu ada tanda belok kanan tuh" ucap Liras kepada teman kelompoknya sambil menunjuk kearah pohon yang terdapat tanda panah berwarna kuning terang.
"Yoi. Kalo kata kertas disini sih habis belok kanan kita bakalan ketemu sama pos 1" ucap Jehan yang memegang kertas yang diberikan oleh salah satu kakak seniornya sebagai petunjuk
"Oke semangat ayoo. Biar bisa cepet balik lagi ke tenda" ucap Berry untuk menyemangati teman-temannya dan lebih khususnya untuk menyemangati dirinya sendiri yang mulai kedinginan karna berdasar peraturan peserta dilarang mengunakan jaket. Biar gak manja katanya mah!
Waktu terus berlalu. Detik menjadi menit. Menit menjadi jam. Dua jam sudah mereka lalui di dalam hutan.
Pos 1. Terlewati. Pos 2. Beres. Pos 3. Selesai. Pos 4. Gak kelar-kelar. Pusing euyyy.
"Rambutan tinggi?" Berry menengadahkan kepalanya ke langit. 'Disini enggak ada rambutan. Maunya apa sih tuh senior?" Batin Berry.
Seperti kelompok lainnya kelompok daisy diperintahkan untuk mencari barang di sekitar pos 4 sesuai dengan klue yang telah diberikan. Sudah setengah jam mereka berusaha untuk memecahkan klue tersebut tapi hingga detik ini belum ada hasilnya sama sekali. Yang ada hanya pusing karna berusaha memutar pikiran sejak tadi.
"Waktu tersisa dua puluh lima menit lagi" teriak salah satu senior memperingati
"Iya kak" jawab kelompok daisy
Kelompok daisy kembali berunding. Semua anggotanya masih setia berpikir apa maksud dari klue tersebut.
"Ahh" ucap Berry dengan wajah berbinar. Anggota lain yang melihat pun jadi ikut berbinar. "Gue gak tau dah. Gue nyerah" tambahnya dengan ekspresi yang berubah memelas dan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Hii si pe a, gue udah seneng dengernya eh malah dikecewain" balas Vita sambil menoyor kepala Berry. Berry hanya membalas dengan cengiran sambil menyatukan kedua telapak tangannya
"Sakit ya Vit dikecewain tuh" sambung Laras
"Iya, sesakit liat doi jalan sama orang lain" lanjut Vita sambil memegang dadanya
"Yeeuuh edannya kambuh" Berry menoyor kepala Vita dan diikuti ledekan lain oleh teman-temannya. Vita hanya mengerucutkan bibirnya.
"Gue seriusan nyerah lah, dingin jadi enggak bisa mikir" Berry menggesek-gesekkan kedua tanganya berharap dapat menambahkan kehangatan
"Ihh jangan gitu kita berdo'a dulu aja, insyaAllah ada jalan" ucap Tia. Memang hanya Tia yang paling benar diantara mereka bertujuh.
"Haha alasan si Berry mah, tapi kali ini gue setuju deh sama Berry sama Tia juga" ucap Jehan yang juga mulai menggesek-gesekkan kedua tangannya. "Kan tadi kita udah usaha tuh, nah sekarang kita tinggal do'a hehe" tambah Jehan sambil sedikit terkekeh.
"Gue setuju deh. Lagian kalo misalnya nanti dihukum juga paling bareng-bareng. Gue mah ikhlas dah asal bareng-bareng jalaninnya hehe" lanjut Febri
"Enggak lah nanti gue mau bilang ke senior kalo misalnya si Febri tuh gak mau mikir kak jadi kalo mau hukum ya hukum dia aja kak" canda Berry
"Iihh jahat lo Ber" ucap Febri sambil melempar ranting pohon yang ada disampingnya kepada Berry.
"Addaww" jerit Vita karna terkena lemparan Febri yang salah sasaran. Febri yang merasa bersalah pun langsung menghampiri Vita. "Duuh sorry Vit sorry" ucap Febri meminta maaf.
"Hahaha lo sih Feb makanya gak boleh main kasar" Berry tertawa melihat kelakuan temannya.
"Ehh bentar deh bentar" ucap Vita sambil memegang ranting pohon yang mengenai kepalanya tadi. Di ranting tersebut ada kertas yang menempel dengan tulisan cukup besar. 'RAmbutaN TINGgi'
--verschillend—
"Hahaha merasa dibodohi gue" ucap Berry sambil tertawa yang tak henti-henti setelah kembali ke tenda
"Samma Ber, untung si Febri lempar tuh ranting coba enggak gue gak tau dah nasib kita sekarang gimana" lanjut Vita dengan tawa yang juga belum henti.
"Yoi untung ada gue" ucap Febri membanggakan diri
"haha iyain aja iyain" ucap Jehan sambil mendorong bahu Febri dan diikuti juga oleh lainnya. Febri mengerucutkan bibirnya dan berusaha mengelak dengan bantuan kedua tangannya "udah woy udah. Tega amat sih lu lu pada sama gue"
Ketujuh orang itu masih asik tertawa merutuki kebodohannya di pos 4 tadi. Hanya karna hal itu saja mereka sudah sangat merasa bahagia yang benar-benar asli 100%. Tidak ada campuran kepura-puraan sama sekali. Hingga akhirnya adzan subuh terdengar dan mereka mulai meredakan tawanya.
"Udah udah ayo ke masjid" ajak Tia
"Siap Ustadzah" ucap lainnya serempak dan mulai mengambil peralatan shalatnya masing-masing
--verschillend--
Semoga sukaaa😊
Jangan lupa vote dan coment ya!!! Harus meninggalkan jejak pokoknya wkwk😂
Salam Ber-Nand👊
♥
Lovanonym
KAMU SEDANG MEMBACA
Verschillend
Teen FictionAndai ini adalah sebuah novel maka akan ku beri judul "Verschillend" (Belanda = Perbedaan). Mau tau karna apa? Karna ini adalah kisah antara aku dan kau yang sangat berbeda. Jika aku perempuan maka kau lelaki Jika aku periang maka kau pendiam Jika a...
