0.1

169 74 61
                                        

"Selalu ada alasan dibalik sebuah pertemuan, entah itu indah atau tidak tetap bersyukurlah karna pasti ada pesan kehidupan dibalik semua itu"

--verschillend--

Perempuan dengan seragam putih-abu yang sudah melekat di tubuhnya dan tas pink yang digantung di belakang pundaknya berjalan menuruni tangga menuju ke meja makan sambil sedikit bersenandung lagu selamat pagi - RAN

Selamat pagi!!

Embun membasahi dunia dan mulai mengawali hari ini

Dan kukatakan:

Selamat pagi!!

Kicau burung bernyanyi dan kini ku siap tuk jalani hari ini.

Kini bergegaslah sipakan dirimu untuk memulai menjalani hari ini

"Pagi Baang" sapa Berry pada Gilang sambil mendudukkan dirinya dan mengoleskan selai strawberry pada rotinya

"Pagi Ber" sapa balik Gilang. "Nanti sekolah dianter Mang Ujang ya, abang ada meeting jadi harus buru-buru" pinta Gilang

"Oke" balas Berry dengan mulut yang masih penuh dengan roti. "Abang nanti jangan lupa makan siang ya,jangan lupa istirahat juga, pokoknya sesibuk-sibuknya abang, abang harus tetep perhatiin kesehatan abang ya" tambah Berry panjang lebar.

Gilang menatap Berry gemas, adek satu-satunya ini jika sudah disampingnya pasti selalu saja khawatir berlebih. Padahal, seharusnya ia lebih menghawatirkan dirinya sendiri yang kondisinya lebih sering drop dibanding Gilang. "Iya bawel" balas Gilang sambil mencubit kedua pipi Berry.

Berry mengusap pipinya, sakit itulah yang iya rasakan. Gilang terlalu gemas hingga tidak sadar sudah mencubit pipi Berry terlalu keras. "Hehe sorry sorry, abang berangkat sekarang ya" pamit Gilang.

Berry pun menyalimi punggung tangan abangnya sebagai tanda hormat. "Bye abang, hati-hati di jalan" pesan Berry.

"Iya, assalamu'alaikum"

"Wa'alaikumussalam"

Sekarang hanya tinggal Berry seorang diri di rumah. Rumah ini sebenarnya tidak terlalu luas tapi jadi terasa sangat luas karna hanya ditinggali oleh Berry dan Gilang bahkan sebelumnya hanya ditinggali oleh Gilang saja karna Berry menetap di Amerika bersama tante dan omnya. Kedua orang tua mereka telah lama berpulang, kurang lebih sudah sepuluh tahun yang lalu karna sebuah kecelakaan pesawat. Untuk urusan rumah, seperti bebersih dan memasak Gilang serahkan sepenuhnya pada Mang Ujang dan istrinya, Bi Inem.

Berry menatap jam dinding yang menempel pada tembok rumahnya. Jam menunjukkan sudah pukul enam lewat tujuh belas menit. Ini hari pertamanya bersekolah jadi ia harus segera berangkat agar tidak terlambat karna gerbang sekolahnya ditutup pada pukul tujuh lewat lima belas menit dan perjalanan dari rumah ke sekolahnya memakan waktu selama tiga puluh menit jika tidak macet. Berry meminum habis susu strawberrynya kemudian meletakkan piring dan gelas yang tadi digunakan ke tempat cucian piring. Setelah semua selesai, Berry pun langsung bergegas mencari Mang Ujang untuk minta diantarkan ke sekolah.

--verschillend--

Beruntung diperjalanan tadi tidak terlalu macet sehingga Berry bisa tiba di sekolah tepat pukul tujuh kurang lima menit. Ini adalah hari pertamanya bersekolah, seperti sekolah-sekolah lainnya di sekolah ini juga diadakan mos bagi para peserta didik baru hanya saja bedanya para peserta tidak diperintahkan untuk mengenakan hal yang aneh-aneh oleh seniornya cukup menggunakan seragam putih-abu lengkap dan membawa alat tulis. Salah satu prinsip sekolahnya. Tidak berlaku pasal senioritas.

VerschillendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang