Chapter 4: Sakit Kepala (Pelangi)

197K 13.8K 653
                                        

Pelangi melangkah ringan memasuki gerbang sekolah. Dengan senyum sumringah dan gaya yang terlalu ceria untuk ukuran hari Senin yang notabene dibenci oleh hampir semua pelajar.

Keceriaan Pelangi itu yang membuat banyak orang—diam-diam—mengaguminya.

“Pelangi,” sapa Dito—kapten tim basket sekolah yang lumayan dekat dengannya. Dito tipikal cowok yang friendly, yang nyambung jika diajak ngobrol tentang apa saja—mulai dari cerita seputar sekolah sampai trik menyontek paling ampuh saat ulangan. Dia juga memahami tingkah Pelangi yang kadang aneh—seperti, membandingkan tinggi badannya dengan dirinya sendiri, yang sudah jelas jauh berbeda. “Udah sembuh?” tanyanya.

Pelangi terdiam, mengutuki kebohongan kecil bodohnya yang waktu itu terlontar begitu saja. “Udah, Kak.”

Minggu lalu—tepatnya hari Kamis lalu, Pelangi berbohong pada Dito bahwa dirinya sakit, padahal ia ingin melakukan sesuatu yang penting untuk dirinya sendiri. Terkadang Pelangi memang sedikit egois

“Kemarin, Kak Dito ke rumah kamu, loh,” ujarnya. “Tapi kata orang rumah, kamu belum pulang. Kemana?”

Pelangi menelan ludahnya. Ia berpikir keras, mencari kebohongan lainnya. “Oh, itu—aku check up ke rumah sakit.”

Dito mengangguk. “Oh, tapi sekarang nggak papa, kan?”

“Nggak papa, Kak. Aku sehat lahir batin!” Pelangi tersenyum lebar. “Lagian Kak Dito terlalu perhatian sama aku. Ntar aku diterkam sama Kak Cindy, lagi. Ih, ngeri,” celutuknya asal.

Dito mengacak-acak rambut Pelangi gemas, lalu pamit karena seorang anak basket memanggilnya. Pelangi hanya menggerutu dan memeletkan lidah pada kakak kelasnya itu, sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya menuju kelas.

“Pagi, Pak Udin!” sapa Pelangi pada seorang pria paruh baya yang sedang menyapu pelataran parkir sekolah.

“Pagi, Non Pelangi,” jawab Pak Udin, sejenak menghentikan aktivitasnya. “Semangat banget ke sekolah, mentang-mentang … ,”

Pelangi terkikik. “Sssttss, Pak Udin jangan bilang siapa-siapa, ya,”

Pelangi sering membagi rahasianya pada Pak Udin—cleaning service sekolah. Aneh, memang. Tapi percayalah, Pelangi memang aneh.

Pelangi bukannya tidak memiliki teman. Temannya bahkan terbilang  banyak, karena ia termasuk anak yang supel dan ramah pada semua orang. Tapi ia hanya kekurangan teman untuk berbagi. Tidak semua teman yang ada di sekitarnya bisa diajaknya berbagi.

Sedikit cerita, Pak Udin kebetulan ada disana saat Pelangi sedang membuntuti Gilang—kakak kelas idolanya—ke rooftop sekolah. Norak, memang, tapi Pelangi senang memperhatikan gerak-gerik kakak kelasnya itu.

Kesenangannya bertambah saat Gilang menolongnya tempo hari.

“Sip, Non. Rahasia Non aman, deh, sama saya!” kata Pak Udin.

“Janji, ya, Pak?” jawab Pelangi.

“Janji, Non! Sumpah mati!” ujar Pak Udin berapi-api.

“Sip, deh. Pelangi ke kelas dulu, ya, Pak!” Pelangi tersenyum lebar. “Awas, loh, kalau rahasia Pelangi sampai bocor!”

---

“Pagi!” sapa Pelangi saat memasuki ruang kelasnya. Suasana dalam kelas, tipikal—Senin pagi—sunyi. Ada yang menyapu dengan malas, ada yang membaca, ada yang mendengarkan lagu dengan headset, bahkan ada yang tertidur. Tidak ada satupun yang mempunyai semangat hidup.

Pelangi tersenyum melihat kelasnya sudah hampir penuh. Ia menyapa teman-temannya yang berada di kelas, “Pagi, Dita. Pagi, Amar. Pagi, Fika. Pagi, Della. Pagi, Surya. Pagi Ninda. Pagi, Tri. Pagi—“

Rain SoundTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang