Sudah dua jam mereka duduk di kafe itu, tapi keduanya masih enggan beranjak. Cerita demi cerita mengalir begitu saja diantara mereka, seakan mereka teman lama yang baru kembali bertemu.
Pelangi tertawa sambil megusap matanya yang mulai berair. “Kak Gilang melankolis parah.”
“Jangan ketawa!”
“Maaf deh, Kak,” gumam gadis itu. Ia menggigit bibirnya, namun sejurus kemudian kembali tertawa.
Gilang baru saja bercerita alasannya menyukai hujan. Cowok itu berkata jujur—bahwa hujan mengingatkannya tentang sesorang, dan alasan itu membuat Pelangi tertawa geli. Gilang mendengus melihat tawa Pelangi yang seolah mengejeknya.
“Sekarang ceritain, kenapa lo nggak suka hujan,” tukas Gilang.
“Siapa bilang aku nggak suka hujan?"
“Jadi lo suka hujan?”
“Nggak.”
Gilang mendengus kesal—lagi—yang membuat Pelangi kembali terkikik geli.
“Ketawa aja terus,” sindir Gilang.
“Maaf deh,” gumam gadis itu, ia berdehem pelan lalu memulai ceritanya. “Jadi waktu aku masih kecil, kalau lagi hujan—“
“Hoi,” seseorang memotong cerita Pelangi. Keduanya menoleh lalu mendapati Nando nyengir pada Gilang. Di sebelahnya ada seorang gadis, dengan seragam sekolah lain.
Pelangi membeku. Jadi yang dibilang gosip-gosip itu benar?, pikirnya.
“Eh, ada Pelangi,” ucap Nando, baru menyadari keberadaannya. Ia menghempaskan dirinya di sebelah Pelangi, lalu berbisik tepat di telinga gadis itu, “Jangan bilang sama Devi, ya.”
Gilang menatap aneh teman sebangkunya itu. “Duduk disini lo.”
“Tenang. Gue nggak bakal ngembat Pelangi kok,” Nando terkekeh, lalu duduk di samping Gilang. “Duduk, Ra.”
Gadis itu duduk manis di samping Pelangi. Ia tersenyum, lalu mengulurkan tangannya pada Gilang. “Gue Maura.”
“Gilang,” jawabnya sambil menyambut uluran tangan Maura.
“Temannya Nando, ya?” tanya Maura.
“Iya.”
Maura mengangguk mengerti, lalu mengalihkan pandangannya ke gadis yang duduk di sampingnya. “Yang ini temannya Nando juga?”
“Adik kelas, Ra,” jawab Nando.
Maura menyelipkan rambut sebahunya di belakang telinga, lalu bergumam, “Kebetulan banget, ya, kita ketemu disini.”
“Nggak kebetulan, sih, sebenarnya,” tukas Gilang. “Soalnya—aduh!”
Gadis itu heran melihat Gilang yang tiba-tiba meringis. “Kenapa?” tanya Maura, entah menanyakan lanjutan kalimat Gilang atau alasannya meringis.
“Gue udah sering kesini sama Nando,” jawab Gilang.
“Oh.” Maura mengangguk, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafe.
Pelangi menangkap Gilang melirik Nando sebal dan dibalas oleh cengiran bersalah Nando.
“Daritadi diam aja,” gumam Maura. Pelangi mengalihkan pandangannya, dan melihat gadis bermata coklat itu kini berbicara padanya.
Pelangi hanya nyengir membalas perkataannya, bingung mau jawab apa.
“Nama lo siapa?”
“Eh? Pelangi,” jawab Pelangi sambil nyengir salah tingkah. Ia bingung harus bersikap ramah atau bagaimana kepada seseorang yang sedang menggantikan posisi Devi itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rain Sound
Teen Fiction(Telah Diterbitkan) Aku bingung kenapa banyak orang yang menyukai hujan. Saat kutanya, sebagian dari mereka mengatakan bahwa hujan itu romantis, beberapa berkata bahwa hujan itu menyejukkan, yang lainnya mengungkapkan bahwa hujan membawa ketenangan...
