Pelangi menyibakkan selimutnya. Ia tersenyum melihat rentetan cahaya matahari pagi yang menembus tirai jendela kamarnya.
Welcome Monday!, batinnya senang.
Bagi sebagian orang, datangnya Senin adalah petaka. Tapi bagi Pelangi, itu merupakan sebuah berkah. Bukan berarti ia menyukai sekolah, bukan. Pelangi menyukai lingkungan sekolahnya. Ia senang terhadap teman-temannya, kakak-kakak kelasnya, dan beberapa guru mata pelajaran—beberapa, karena hanya sebagian dari mereka yang asik diajak berinteraksi.
Pelangi melangkah turun dari tempat tidurnya, lalu bersiap-siap untuk menjalani harinya.
---
"Wah, tumben kamu bangun lebih cepat dari Ayah." Ayah Pelangi sedang menyimpul dasinya, sambil mengambil posisi duduk di meja makan. Bi Inah menyeduh teh untuknya. Pelangi tersenyum menanggapi perkataan Ayah.
"Ayah bisa antar Pelangi ke sekolah, nggak?" tanya Pelangi. Ia sedang mengoleskan selai stroberi kesukaannya ke roti.
"Lain kali saja, ya. Ayah ada meeting pagi ini," kata Ayah. "kamu berangkat sama Pak Bono saja."
Pelangi mengerucutkan bibirnya. "Tapi Ayah, kan, sudah janji mau nganterin Pelangi."
"Pelangi, kamu sudah 15 tahun. Kamu sudah dewasa. Kamu harusnya mengerti kesibukan Ayah. Ayah kerja juga untuk kamu. Kalau bukan Ayah yang cari uang, siapa yang mau kasih makan kamu?"
"Iya, iya." Pelangi menggoyang-goyangkan kakinya dibawah meja makan. Ia bosan dengan pembelaan Ayahnya yang ujung-ujungnya berbalik pada dirinya. "Eh, Ayah tau, nggak? Kemarin ada kakak kelas yang—"
Handphone Ayah berdering. Ia mengisyaratkan Pelangi untuk diam. Ayah bicara sebentar di telpon-tentang urusan kantor, seperti biasa, lalu menutupnya.
"Mau bilang apa tadi?" tanya Ayah. Ia memasukkan handphone kedalam saku kemejanya.
"Nggak jadi," kata Pelangi. Ayahnya mengangguk, lalu menyeruput tehnya.
"Pak Bono sudah membersihkan mobil saya?" tanya Ayah.
"Sudah, Tuan. Ini kuncinya." Bi Inah mennyerahkan kunci mobil ke Ayah.
"Ayah pergi dulu, ya." pesan Ayah. Ia berdiri sambil merapikan kemejanya yang sebenarnya sudah rapi.
Pelangi mengangguk. "Lain kali, antarin aku ke sekolah, ya?"
"Baik, Tuan Putri." Ayah menepuk pelan pundak Pelangi. "Kamu belajar yang benar."
Pelangi menggigit rotinya, lalu mengunyah dengan malas. Ayahnya selalu saja begitu. Ia berjanji akan mengantarkannya ke sekolah, lalu kemudian melupakan janjinya dengan alasan kerja. Ayah kerja untuk kasih makan kamu, sanggahnya. Selalu. Tidak terhitung sudah berapa kali ia mengingkari janjinya.
Padahal Pelangi hanya ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan ayahnya. Dalam sehari, mereka hanya bertemu satu kali-saat sarapan. Ayah pulang saat Pelangi sudah terlelap. Kalaupun ia pulang cepat, ia akan segera mandi dan tidur. Ayah capek, katanya.
Hari Minggu dan hari libur lainnya juga digunakan ayahnya untuk mengurus anak perusahaannya di luar kota.
Dulu, meskipun Ayah sibuk mengurus perusahaan-perusahaannya, Pelangi tidak pernah kekurangan kasih sayang. Karena ada Bunda. Setiap hari, Bunda membangunkannya, menyiapkannya sarapan, mengantarnya ke sekolah, dan menemaninya sepanjang hari. Tapi itu dulu.
Pelangi memejamkan mata, merasakan dadanya yang menghangat setiap kali mengingat Bunda.
"Non, rotinya buruan dihabisin. Nanti telat, loh," tegur Bi Inah. Wanita paruh baya itu berlalu ke dapur sambil membawa piring bekas makan Ayah Pelangi.
Pelangi mengunyah gigitan roti terakhirnya. "Pelangi pergi dulu, ya, Bi," pamitnya.
Bi Inah tergopoh-gopoh kembali dari dapur, mengantarkan Pelangi ke pintu. "Hati-hati, Non."
"Bi." panggil Pelangi.
"Iya, Non?"
"Pulang sekolah temani aku ke makam Bunda, ya."
--
A/N: Gimme your feedback! :)
KAMU SEDANG MEMBACA
Rain Sound
Roman pour Adolescents(Telah Diterbitkan) Aku bingung kenapa banyak orang yang menyukai hujan. Saat kutanya, sebagian dari mereka mengatakan bahwa hujan itu romantis, beberapa berkata bahwa hujan itu menyejukkan, yang lainnya mengungkapkan bahwa hujan membawa ketenangan...
